Wong Cilik dan Perang Global Air Mineral

  • Whatsapp

Oleh : Mbah Dharmo Kondo

Di masa pendemi ini seluruh lapisan masyarakat bahkan dunia dihadapkan suatu pilihan:” bondo opo nyowo ?” Harta atau nyawa? Tak terkecuali masarakat lapis bawah seperti kita  wong cilik pada umumnya.

“Kalau nggak lockdown corona tak terbendung. Tapi kalau dilockdown ekonomi mati, modyar ora kowe?!” Begitu kira-kira kondisinya.

Sadarkah bahwa dunia ini sedang berperang? Bahkan perang dunia. Dan senjatanya adalah virus corona. Inilah yang namanya perang proxy, perang tanpa bentuk, tak kasat mata tapi tujuannya jelas. Mengeruk keuntungan dari manusia, maupun komunitas manusia di belahan bumi mana saja. Terutama negara-negara yang tidak punya daulat terhadap kebijakkannya.

Yang namanya perang proxy, tujuan sebenarnya juga manual, yaitu ingin menguasai bumi, air, udara dan kekayaan alam di dalamnya. Cara penguasaanya saja yang berbeda dengan zaman VOC atau imperialis masa lalu. Dulu harus dengan tentara serta senjata. Nah sekarang semuanya serba invisible hand, nggak kentara. Dia bisa berwujud sistem masif melalui undang-undang atau regulasi, pranata ekonomi ataupun moneter, dengan penerapan standart standar tertentu yang bangsa lain harus tunduk, bahkan kalau perlu tetap pakai militer secara manual kayak jaman dahulu. Tapi agaknya sekarang cukup melalui agen-agennya saja sudah cukup mengatasi pensoalan dan target yang ingin dikuasai

Contoh kecil, misalnya sumber air atau mata air disekitar kita. Kalau tidak waspada, akhirnya mata air sumber kehidupan itu akan jadi milik orang Perancis, Amerika atau bahkan China, Inggris atau negara adikuasa lainya. Kita cuma bisa melihat dari jauh dan malah jadi konsumen setianya. Fatal kan?

‌Lantas bagaimana? Apakah kita biarkan saja? Tentu tidak. Bumi tanah air dan apapun yang terkandung di dalamnya, adalah: “Sadumuk bathuk sanyari Bumi.” Adalah tumpah darah pemberian Tuhan yang harus kita pertahankan sampai kapanpun. Atau istilahlah jangan sampai jatuh ke tangan Asing dan Aseng (jane aseng ki sopo tho? Hehe).

Kembali ke air dan mata Air. Kita sebagai wong cilik tentu segala sesuatunya serba terbatas. Lantas, satu-satunya jalan kita harus bersatu dan berserikat serta punya kesadaran sadumuk batuk sanyari bumi. Nasionalisme riil.

Contohnya, jauh sebelum pada teriak-teriak boikot produk Perancis karena ada persoalan sara kemarin (yang paling terkenal air mineral ataupun air minum dalam kemasan). Beberapa ormas besar seperti Muhammadiyah telah membuat AirMu, atau pemda Kulonprogo, juga membuat air dalam kemasan, yang masing-masing mewajibkan warga/umat atau masyarakatnya menggunakan air tersebut dalam keseharian maupun dalam berbagai acara. Nampaknya sederhana, sesungguhnya itu adalah perlawanan global yang nyata! Karena analog dengan persoalan air, juga sama persis dalam persoalan makanan pokok, hutan, pertanian dan lain sebagaianya mengalami hal serupa

‌Untuk itu saatnya wong cilik bersatu jangan mau menjadi korban dari produk maupun strategi global dalam mengeruk kekayaan negeri ini. Harus punya kesadaran melawan, meskipun diawali dari hal kecil. Hal ini tentu sudah merupakan sumbangsih nyata bagi masyakat luas, nusa dan bangsa. Pertahankan mata air kehidupan kita

‌‌Solo, 25 November 2020

Pos terkait