Surat Perintah Aminuddin, Ulah Terbaru Staf Khusus Milenial

  • Whatsapp

oleh: Supoyo Rahardjo

Sebuah surat staf khusus milenial presiden Jokowi viral di media sosial. Judulnya sangar: Surat Perintah. Kop suratnya berlogo Burung Garuda, diterbitkan oleh Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

Surat perintah itu bernomor : Sprint-054/SKP-AM/11/2020. Sprint-054, nomor suratnya. SKP-AM diduga kependekan dari Staf Khusus Presiden bernama Aminuddin Ma’ruf. Diterbitkan pada bulan 11 tahun 2020.

Di bawah nomor surat, ada Dasar Surat. Di situ tertera, sebagai staf khusus milenial presiden, Aminuddin Ma’ruf memegang Gugus Tugas Komunikasi Kelompok Strategis. Kerjanya, mengkomunikasikan segala kebijakan presiden kepada kelompok-kelompok yang dipandang strategis agar dapat diterima. Minimal mengurangi aksi-aksi penolakan.

Aminuddin tercatat pernah menduduki kursi Ketua Umum PB PMII, organisasi mahasiswa yang bertradisi nahdhiyin. Sesuai dengan latar profilnya, Aminuddin harus mampu menyasar kelompok-kelompok strategis yang berasal dari mahasiswa dan pemuda.

Dalam unjuk rasa besar-besaran mahasiswa menolak omnibus law beberapa waktu yang lalu, staf milenial ini memang sempat turun. Bergaya necis, berjalan kaki keluar dengan pin istana, dikawal aparat, berusaha menemui pimpinan BEM- BEM seluruh Indonesia yang sebagian besarnya berasal dari kampus-kampus umum negeri dan swasta. Sayangnya kehadirannya terkesan mendapat pengabaian.

Kali ini dia berusaha menggarap pimpinan organisasi intra kampus perguruan tinggi Islam negeri. Di UIN, umumnya sudah tidak menggunakan istilah BEM. Mereka menggunakan istilah DEMA alias Dewan Eksekutif Mahasiswa. DEMA-DEMA UIN seIndonesia ini secara turun-temurun didominasi oleh organisasi mahasiswa PMII, tempat Aminuddin dibesarkan dulu. Jadi Aminuddin ini menggarap adik-adiknya sendiri. Menggarap captive marketnya sendiri.

Terus masalahnya dimana?

Baca juga: https://abangijo.com/video-9-menit-57-detik-narasi-tv-sabun-pembersih-dan-pewangi-unjuk-rasa-buruh-dan-mahasiswa/

Ditujukan Kepada “Dewa Eksekutif Mahasiswa

Surat Perintah Aminuddin ini dikeluarkan pada tanggal 5 November 2020. Ditujukan kepada pimpinan Dewa Eksekutif Mahasiswa yang berjumlah sembilan orang. Siapa saja “Dewa Sembilan” itu?

  1. Fahrur Rozie, mahasiswa, koordinator pusat DEMA PTKIN seIndonesia,
  2. Aden Farikh, presiden mahasiswa DEMA UIN Malang,
  3. Ahmad Rifaldi M, kortim dan presiden mahasiswa DEMA UIN Yogyakarta
  4. Rubaith, presiden mahasiswa DEMA UIN Semarang
  5. Fauzan, presiden mahasiswa DEMA UIN Banten
  6. Munif Jazuli, kortim dan presiden mahasiswa DEMA UIN Metro Lampung
  7. Ahmad Aidil Fah, presiden mahasiswa DEMA UIN Makassar
  8. Mahfudz, presiden mahasiswa DEMA UIN Jayapura Papua
  9. Fatimah, presiden mahasiswa DEMA UIN Samarinda

Dewa? Sejak kapan UIN menjadi kuil? Berjumlah sembilan? Sebanyak walisongo. Tambah mistis angka ini. Kayaknya ini hanya semacam mengikuti tren salah ketik atau salah hapus omnibus law UU ciptaker saja. Tentu maksudnya dewan. Apa mungkin Aminuddin tidak membacanya sebelum membubuhkan tanda tangan? Sepertinya tidak.

baca juga: https://abangijo.com/catatan-unjuk-rasa-uu-omnibus-law-masjid-kwitang-yang-heroik/

Menggunakan Istilah Surat Perintah

Aminuddin menulis perintah kepada sembilan orang pimpinan DEMA UIN. Perintahnya jelas, yaitu mengikuti pertemuan dengan dirinya selaku stafsus milenial presiden di Gedung Wisma Negara Lantai 6 pada Jumat, 6 November 2020 pukul 13.00 WIB dalam rangka menyerahkan rekomendasi sikap terkait omnibus law.

Warganet tampaknya tidak peduli dengan isi rekomendasi sikap itu. Mereka sudah tahu kemana arahnya. Warganet lebih peduli pada satu hal, yaitu soal teknis salah ketik kata “dewa”. Warganet juga sangat gusar dengan judul surat yang menggunakan istilah Surat Perintah.

Warganet bertanya, sejak kapan organisasi intra kampus menjadi bawahan lembaga kepresidenan? Diasosiasikan sebagai bawahan dekan atau rektor saja mereka menolak. Mengapa menggunakan istilah perintah? Mengapa tidak dengan istilah undangan? Otoritarian sekali. Warganet sedih karena surat otoriter itu ditandatangani oleh seorang staf khusus yang masih kinyis-kinyis, milenial.

Atau mungkin Aminuddin masih terbawa syndrome hubungan senior–yunior dalam organisasinya dahulu. Mengingat para dewa berjumlah sembilan ini berasal dari kampus-kampus yang secara tradisi menjadi basis massa organisasinya dahulu. Sehingga Aminuddin tanpa risih menggunakan previledge sebagai senior yang bisa menyuruh yunior-yuniornya.

Aminuddin perlu diingatkan, bahwa ribuan mahasiswa UIN seIndonesia juga turut turun jalan menolak disahkannya omnibus law UU Ciptaker. Warganet jadi bertanya, apa yang bisa disimpulkan dari apa yang dilakukan oleh Aminuddin dengan memberikan perintah kepada para pimpinan DEMA-DEMA UIN itu?

Satu lagi, Surat Perintah stafsus milenial presiden yang menyuruh sembilan orang datang ke istana tersebut, tentu diikuti dengan konsekuensi pembiayaan. Darimana para mahasiswa itu mendapat uang jalan dan uang saku selama menjalankan tugas?

Dari jatah anggaran kegiatan mahasiswa kampus? Atau dibiayai lembaga kepresidenan? Inikan masih musim pandemic. Kok tidak daring saja? Lebih murah. Aminuddin milenial, mesti lebih 4.0. Anda bukan orang tua!

Pos terkait