Sawanan, Makhluk Astral, dan Jamunya

  • Whatsapp

oleh: Ben Slametho

abangijo.com. Sore, selepas ashar, pesan whatsapp masuk. “Pak, belikan jamu sawan produksi Air Mancur untuk ibu menyusui. Beli dua pack @isi 10 bungkus. Harga per pack nya kira-kira 10rb – 15rb”, begitu isi pesan istri, lengkap dengan foto produknya.

Bagian atas foto tertulis, Jamu Herbal Alami, Sawan. Bagian tengah, foto ibu bersanggul sedang menggendong bayi yang sedang menangis keras. Logo Jamu Air Mancur ada di bagian bawah. Dalam hati saya bertanya, “Ada masalah apa selepas melahirkan? Terus, belinya dimana?”

Pikiran pertama, ke depot-depot jamu pinggir jalan. Tapi karena ada tulisan Herbal Alami, terpikir juga untuk mencarinya ke toko-toko herbal. Akhirnya saya putuskan tetap mencarinya ke depot jamu dulu. “Siyap,” saya reply singkat.

Sekitar pukul 17.00, mulai menyusuri jalan. Dari kawasan Masjid Jami Assegaf Solo ke arah selatan, bertemu perempatan, belok ke barat, Jalan Veteran. Sampai lampu merah alun-alun selatan, belok ke selatan, Jalan Brigjend Sudarto. Setelah kelak-kelok, singkat cerita sudah sampai di Jalan Sidoluhur.

Sebenarnya sudah ketemu satu dua depot jamu, namun karena terlalu laju plus terlihat depotnya kecil, saya terus bablas tidak berhenti. Saya terus menyusuri Jalan Palagan Tentara Pelajar sampai perempatan RCTI, alhamdulillah ketemu depot jamu di situ. Yang ini agak besar. “Komplit ini,” dalam hati saya.

“Ada jamu sawan Air Mancur mas?” tanya saya. Selang beberapa saat, disodorkannya satu bungkus jamu. “Ndak ada pak, adanya Jamu Sawanan, Sido Muncul,” jawab pemilik depot. Bungkus depannya tertulis, jamu sawanan, herbal, membantu meredakan perut kembung, membantu memperbaiki nafsu makan. Di bungkus belakang ada tambahan keterangan, membantu mengurangi gatal-gatal dan bisul. “Nda ada keterangan untuk ibu menyusui ya?” Tanya saya. “Nda tahu pak?” jawabnya.

Saya klik tokopedia untuk ngulik informasi. Salah satu lapak menulis deskripsi produk jamu sawan Air Mancur. Tertulis di situ, untuk ibu yang sedang menyusui, untuk membantu meringankan bisul dan gatal-gatal, dan membantu meredakan perut kembung. Seingat saya, ASI istri tidak ada masalah, gatal-gatal juga tidak. Apa perutnya merasa kembung? Sepertinya tidak juga.

Saya tengok ke komposisi. Milik Air Mancur tertulisPhysali Herba, Zingiberis Rhizoma, Phaseoli Semen, Phyllanthi Herba, Achyranthi Folium, Cyperi Rhizoma, Curcumae Rhizoma, Psophocarpi Semen, Parkiae Semen, Sappan Lignum, Curcumae aeruginosae Rhizoma. Sedangkan milik Sido Muncul komposisinya Melaleucae Fructus, Alyxiae Cortex, Myristicae Semen, Curcumae Rhizoma, Calami Rhizoma. Yang sama hanya satu, curcumae rhizoma alias kunyit. Sama-sama untuk sawan tapi komposisinya beda jauh. Saya bimbang.

Akhirnya saya pandang bungkus depan. Jalan pintas, gambar pada bungkus saya anggap memberi penjelasan yang lebih kaya sekaligus penyederhana.

Bungkus depan jamu sawan Air Mancur menyodorkan foto ibu bersanggul yang menggendong bayi yang menangis keras. Kesimpulan saya, jamu ini didedikasikan untuk masalah ibu menyusui. Sedangkan Jamu Sawanan Sido Muncul menampilkan foto berbagai bahan alami jamu. Penjelasan utamanyapun soal membantu masalah perut kembung dan memperbaiki nafsu makan.

Dalam hati, “Wah beda ini.” Tapi, masak sampai rumah dengan tangan hampa. Meski ragu, akhirnya saya tetap membeli jamu sawanan Sido Muncul. Setidaknya untuk ditunjukkan sebagai bukti perjuangan.

Harga satuannya Rp 2.000,00. Satu pack isi 10 saset harganya Rp 20.000,00. Tapi kalau ambil satu pack, diberi harga Rp 18.000,00. Saya beli satu pack, lumayan dapat diskon Rp 2.000,00, buat parkir.

Pulang. Sambil tengok kanan kiri, saya mencari depot jamu yang tersisa. Dapat satu, sebelum minimarket ASGROS. Saya berhenti dan bertanya, “Ada jamu sawan Air Mancur?” Dijawab, ”Nda ada pak, adanya Sido Muncul.”

Saya perhatikan sekilas toko jamu ini. Item barang yang dijual disini relatif sama dengan toko jamu sebelumnya. Jamu tolak angin mendominasi. Selanjutnya, yang tampak produk-produk yang berhubungan dengan obat kuat. Juga macam-macam merk kondom.

Sawanan itu Apa dan Diidap Siapa?

Sepanjang sisa perjalanan, pertanyaan demi pertanyaan terus muncul tentang jamu sawan. Sebenarnya sawan itu apa? Jamu sawan itu untuk mengatasi apa? Mengapa untuk nama yang sama, dua merk jamu komposisinya jauh berbeda? Ibarat obat, generiknya kok tidak sama?

Sampai di rumah, jamu saya serahkan. “Beda pak, bukan yang untuk ini,” ucap istri. “Buat ibu menyusui,” lanjutnya. “Adanya itu, buatan Sido Muncul, yang Air Mancur ndak ada, mungkin di online ada,” jawab saya. Kelihatannya kecewa, meskipun kemudian tetap minum juga.

Saya ngulik. Menurut KBBI, sawan/sa·wan/n terkait dengan berbagai penyakit yang biasanya datang dengan tiba-tiba, menyebabkan kejang, kancing mulut, dan sebagainya. Dunia medik menyamakan sawan dengan epilepsi dan kolik.

Epilepsi itu penyakit sistem saraf pusat, yang membuat seorang anak bayi kejang-kejang dan terkadang hilang kesadaran. Kalau kolik itu kondisi dimana bayi tidak berhenti menangis lebih dari tiga jam selama kurang lebih tiga hari berturut-turut meski ia sehat dan kenyang.

Saya mendapat satu pertanyaan lagi, “Kok mengarahnya ke penyakit anak ya?” Wah, ternyata sedari awal saya salah sangka. Saya mengira jamu sawan Air Mancur itu untuk ibu bersanggul yang sedang menggendong bayinya itu. , tetapi ternyata justru untuk kepentingan bayi yang sedang menangis keras itu.

Sawanan itu karena makhluk astral atau karena ledakan sinyal listrik?

Sebab Mistis Sawanan

Ada kepercayanan umum di masyarakat, bahwa sawan terjadi pada anak kecil karena sebab mistis. Anak kecil khususnya bayi, disebut masih sangat sensitif dan mudah terhubung dengan dunia halus makhluk astral.

Bagaimana terjadinya? Karena ada pantangan yang dilanggar. Misalnya diikutkan kondangan, tapi lupa tidak minta bedak pengantin. Diikutkan takziyah orang meninggal. Si ibu nekat makan daging kambing saat masih menyusui. Intinya tindakan perbuatan yang dipandang tidak elok dalam masyarakat, sesuatu yang khas dengan kosmologi timur.

Kita tahu, kosmologi timur memandang semua kejadian berhubungan dengan restu manusia dam alam semesta. Ada prosedur ketat dalam merawat bayi sejak lahir. Di Minangkabau ada tradisi upacara Turun Mandi. Tujuannya untuk mensyukuri kelahiran sang bayi. Praktisnya untuk memperkenalkan sang bayi. Sedangkan bagi sang ibu, upacara tradisi ini merupakan kesempatan keluar rumah untuk pertama kalinya setelah menjalani pemulihan pasca melahirkan.

Di Jawa, sehari setelah kelahiran ada “brokahan”, yaitu upacara selamatan untuk meminta berkah lebih dari kelahiran bayi. Hari kelimanya ada tradisi “sepasaran”, dimana sohibul hajat akan mengundang keluarga besar dan tetangga sekitar untuk mendoakan bayi. Sepasaran ini sama dengan upacara “Turun Mandi” Minangkabau, yaitu upacara selamatan dan ajang mengumumkan nama bayi.

Hampir mirip, tercatat ada enam tradisi di nusantara yang berkaitan dengan kelahiran bayi. Tiga tradisi sudah tersebut di atas. Tiga lagi namanya, tradisi Jatakarma Samskara di Bali, Medak Api di suku Sasak, dan tradisi Moana di Sulawesi.

Mitosnya, bila pelaksanaan tradisi-tradisi di atas tidak dilakukan secara seksama, kurang memenuhi syarat dan rukunnya, si bayi akan mendapatkan masalah. Salah dalam merawat ari-ari saja, bisa berakibat buruk bagi si bayi.

Makhluk astral alias lelembut yang nempel sejak awal kelahirannya akan protes. Ditambah lagi dengan gangguan dari makhluk-makhluk astral lain yang memang menunggu-nunggu terjadinya kesalahan-kesalahan prosedural dari pranata adicara upacara tadi.

Singkatnya si bayi kena sawan alias kesambet. Untuk membebaskannya, harus didoakan, diselamati lagi bila perlu. Meminta doa dari sesepuh, dari orang tua, kyai atau orang sholeh. Sambil si ibu perlu minum jamu, dan si bayi perlu dibalur jamu sawan. Jadi minum balur jamu sawan itu idealnya sepaket dengan upaya-upaya doa-doa spiritual selametan tadi. Dengan melibatkan keluarga besar dan orang sekampung agar cepat terkabul.

Apa Kata Dunia Medis?

Dunia medis mencatat beberapa gejala pada anak yang mengalami sawan. Seperti, menangis berlebihan terutama di sore atau malam hari. Selanjutnya menangis sangat keras lebih dari biasanya, nampak kesakitan dan tak nyaman, gumoh, mengepalkan jari-jari, menarik kaki, wajah memerah, melengkungkan punggung, serta kejang-kejang yang disertai demam. Dunia medis lebih fokus pada faktor-faktor penyebab ilmiah yang bersifat empiris. 

Situs sehatq.com mengutip informasi dari Standford’s Childern Health. Di situ, sawan disamakannya dengan kejang epilepsi, yaitu saat satu atau lebih bagian otak mengalami ledakan sinyal listrik abnormal. Biasanya terjadi pada bulan-bulan awal kelahiran. Akan menghilang seiring bertambahnya usia, meski ada juga yang masih berlanjut hingga usia anak-anak.

Mengenai sebab-sebab mistis dan ghaib, pendapat bijak disampaikan dr. Piprim B Yanuarso, SpA. Kepada detikHealth (2013) dr. Piprim menyatakan, meskipun pembuktian medisnya belum ada, namun beliau mengimani sebab-sebab seperti itu karena hal-hal tersebut juga tersebut dalam AlQuran. Oleh karena itu, dr Piprim memilih untuk menyikapi fenomena ini secara proporsional. Ditolong dulu secara ilmiah, bila belum sembuh juga maka perlu doa-doa yang lebih serius atau diikutkan ritual tertentu semisal rukyah.

Paginya, secara iseng saya bertanya kepada istri, mengapa ingin minum jamu sawan buatan Air Mancur, bukan merk lain seperti Sido Muncul. Jawabnya, “Untuk melancarkan ASI dan menambah gizi bayi.” Saya membatin, yang dicarinya jamu, tapi menggunakan alam pikir obat herbal apotik modern. “Minumnya sambil sholawat, insyaAllah jamunya lebih barokah,” jawab saya.

Pos terkait