RASIS, Serangan Purba Paling Jahiliyah

  • Whatsapp

Oleh: Supoyo Rahardjo

abangijo.com.

Ras lebih luas daripada suku. Orang-orang Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan terdiri dari banyak suku, namun satu ras. Orang dari Arab sana banyak suku, namun satu ras. Papua didiami banyak suku, namun satu ras.

Ras merunut ciri fisik biologis seseorang. Soal ras, orang harus memperhatikan warna mata, warna kulit, DNA dan hal detil fisik lainnya. Kalau suku lebih terkait dengan kesamaan latar sosiologi dan budaya dari suatu wilayah asal. Pakaian adat atau bahasa ibu, biasanya menunjukkan suku.

Hinaan terhadap suku, berbeda dengan hinaan kepada ras. Teriakan, “Dasar orang (nama suku)!” Itu hinaan suku, bukan serangan rasial.

Hinaan rasis menyinggung fisik seseorang. Menghina seseorang dengan mengaitkan rasnya dengan sesuatu bukan manusia. Yang terberat bila menyandingkannya dengan hewan.

Penghinaan yang menyasar fisik biologis, adalah cara paling purba untuk menyakiti sesama. Suku-suku yang secara fisik merasa mirip, akan ikut tersinggung. Diskriminasi “ras kulit putih” terhadap “ras kulit hitam” di belahan Amerika, akan memicu kemarahan semua suku bangsa berkulit hitam di seluruh dunia.

Cebong, Kampret dan Kadrun, Mana Yang Rasis?

Cebong dan kampret muncul lebih awal daripada kadrun. Cebong – kampret muncul tahun 2018, menyertai rivalitas politik antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Sedangkan istilah kadrun dimulai 2019. Dipakai pendukung Ahok saat melawan Anies dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Cebong dipakai oleh pendukung Prabowo untuk menyebut pendukung Joko Widodo. Sebutan cebong merujuk pada hewan favorit peliharaan Joko Widodo.

Kampret itu plesetan dari KMP, singkatan dari Koalisi Merah Putih. Sebuah koalisi partai-partai pendukung Prabowo -Hatta pada Pilpres 2014. Kampret alias microchiroptera juga sebutan bagi kelelawar kecil pemakan serangga, hidungnya berlipat-lipat. Berasal dari kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Mammalia, Ordo Chiroptera, Subordo Microchiroptera.

Meski keduanya nama binatang, namun cebong – kampret tidak terasosiasi atau dikaitkan dengan sebuah ras. Suku saja tidak. Keduanya murni sebutan untuk politik dukungan, sekaligus untuk buly-buliyan.

Bagaimana dengan kadrun? Kadrun itu akronim dari kadal gurun. Taksonominya berada pada kingdom animalia, filum chordate, kelas reptilia, ordo squamata, upaordo lacertilia. Reptil bersisik. Dapat dijumpai di semua habitat. Sabana, rawa, lembah, gunung, bahkan laut dan gurun. Yang di gurun, disebut kadal gurun.

Saat kontestasi pilgub DKI Jakarta 2017 lalu, istilah “kadrun” dipakai pendukung Ahok untuk politik stigma terhadap sosok dan pemilih Anies.

Pendukung Ahok mengidentikkan pemilih Anies sebagai penganut Islam Arab yang kaku, intoleran, anarkhis, radikal, dan teroris. Dengan demikian anti Pancasila.

Secara simbolik pemilih Anies diidentikkan dengan orang yang suka berpenampilan dan berbau kearab-araban. Dengan demikian tidak berbudaya nusantara, tidak cinta NKRI, bahkan pro khilafah.

Terus bagaimana pemilihan istilah kadrun? Latah dengan olok-olokan politik sebelumnya, cebong dan kampret, otak atik mathuk ketemulah hewan khas padang pasir: kadal gurun. Disingkat KADRUN. Klop!! Antara orang dengan hewan khas geografis asal-muasal orang tersebut. Kok tidak “onta”, mungkin dianggap terlalu bagus.

Sampai kini “kadrun” tetap didengungkan, melebihi penyebutan cebong – kampret. Apalagi setelah kekalahan Ahok, istilah itu dibawa dalam kontestasi Joko Widodo melawan Prabowo.

Kembali lagi, penghinaan yang menyasar fisik biologis, adalah cara paling purba untuk menyakiti sesama. Yang paling jahiliyah, bila dikaitkan dengan binatang. Apalagi dengan binatang yang secara khas habitatnya sama dengan asal-muasal orang tersebut.

Sebutan kadrun kepada Joko, kepada Paijo, atau kepada Asep, tidak berasa rasialnya. Kepada Anies Baswedan, itu jelas serangan rasial!

Monyet dan Gorila, Serangan Rasis kepada Saudara Papua

Problem rasial dalam kancah politik nasional itu tidak berhenti sampai kini. Laporan sebutan “kadrun” sebagai serangan rasial tidak mendapatkan penyelesaian secara hukum. Tentu saja hal ini terus memicu masalah rasial baru.

Benar saja, rasialisme memanas lagi. Saudara-saudara di ufuk timur sana yang terkena. Papua. Sebenarnya setahun lalu juga telah terjadi di Surabaya. Sampai Gubernur Khofifah harus meminta maaf kepada pemerintah dan rakyat Papua atas ketololan warganya. Beberapa warga Surabaya meneriakkan “monyet” kepada  para pengunjuk rasa Papua.

Kali ini kembali oknum-oknum ras melayu mongoloid mengolok-olok ras  papua melanezoid. Ambroncius Nababan menyandingkan Natalius Pigai dengan gorilla. Juga dosen USU yang menyoal kapasitas Pigai dengan menyertakan gambar monyet sedang ngaca. Permadi menambahinya dengan menyoal apakah evolusi Pigai sudah selesai.

Pigai sempat mengadu kepada panglima tentara USA yang saat ini dijabat jendral berkulit hitam. Dikabarkan, isu ini juga membuat benua Afrika mendhelik ke Indonesia. Semua yang sefisik sebiologis dengan ras Pigai pantas merasa terusik.

Serangan rasial kali ini sangat sensitif. Singkirkan pertimbangan politik jangka panjang dan sempit. Ini soal keutuhan NKRI. Perlu penyelesaian yang adil dan wisdom yang tinggi. Karena sudah puluhan tahun, ras Papua merasa tidak di”orang”kan oleh Jakarta.

Pos terkait