Putri Gus Mus Mengeluh: Abahnya Dicatut Untuk Adu Domba dan Serangan Politik

  • Whatsapp
gambar sebagai ilustrasi

oleh: Supoyo Rahardjo

Putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, melalui akun twitternya mengeluhkan ulah akun-akun yang sering mencatut nama abahnya. Pasalnya, pencatutan itu digunakan untuk melakukan serangan-serangan politik, adu domba, dan lain-lain. Salah satunya: KataKita.

Berikut rentetan cuitan Ienas Tsuroya via akun twitternya @tsuroiya pada 13 Desember 2020 kemarin.

9:26 PM: Dear para pendukung fanatik Pak Jokowi, buzzer atau bukan. Kalau kalian ingin berkampanye melawan FPI, lakukanlah dengan cara yg baik. Jangan mencatut nama Abah saya, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Setidaknya sudah tiga tahunan ini kami dibuat repot gara2 ulah kalian. Stop it!

9:32 PM. Saya sebut saja salah satu akun buzzer itu: Kata Kita. Di tahun 2018, akun ini memposting tulisan orang lain tapi namanya diganti nama Abah. Pasang foto beliau pula. Saya lgsg komplain saat itu juga. Sempat ngeles, tapi ketika banyak yg mendukung saya, postingan hilang.

9:37 PM. Tapi belakangan ini, tulisan itu beredar lagi, masih dengan nama dan foto Abah. Diklarifikasi satu, muncul lagi dan lagi. Karena penasaran, saya google lah judul tulisan itu. Ternyata yg muncul adalah postingan KataKita! Ketika saya SS malam ini, sudah dibagikan lebih dr 2500x

9:50 PM. Kasus lain: ada tulisan salah satu pendukung Pak Jokowi, namanya Iyyas Subiakto, surat terbuka kepada keturunan Arab. Diposting di facebook. Tapi kemudian ada OKNUM yang menambahkan nama Abah di atasnya. Langsung viral. Dan kami pun kerepotan membantahnya.

10:07 PM. Kasus yang menyangkut “surat terbuka” ini, sampai sekarang belum ketahuan siapa oknum yang menambahi kalimat berisi fitnah itu. Masih sering beredar di WAG. Berdasarkan pengalaman saya, kalau sudah masuk aplikasi Whatsapp, akan sangat sulit dihentikan penyebarannya.

10:28 PM. Tulisan berjudul, “Ketika Agama Kehilangan Tuhan” bahkan pernah dimuat di Republika online. Tapi mereka secara sportif minta maaf. Link : https://t.co/ncbTxMitvW?amp=1 . Tapi KataKita? Sampai sekarang ngga pernah minta maaf, malah postingannya tetap ada. Jahat banget deh.

10:37 PM. Sejak pagi tadi, saya menerima bbrp pesan menanyakan video rekaman demo FPI yang memuat audio Abah membacakan puisi beliau berjudul, “Allahu Akbar”. Ternyata KataKita termasuk yang mempostingnya. Tapi syukurlah, barusan saya cek sudah ngga ada. Semoga ngga diposting ulang.

10:58 PM. Puisi Abah yang ditulis tahun 2005 lalu itu sifatnya universal, tidak menyerang satu kelompok tertentu. Seperti banyak puisi Abah yang lain, intinya mengajak introspeksi. Dakwah secara halus. Kalau menggabungkan suara beliau dengan video demo FPI, itu namanya mengadu-domba.

Sebelumnya, sebuah tulisan bernada provokasi juga diviralkan atas nama Gus Mus. Tulisan itu berjudul “ Tabiat Tak Bermartabat”. Berisi 40 sekitar 40. Berisi kritik terhadap sikap pendirian Muhammad Rizieq Shihab (MRS). Gus Mus sendiri yang kemudian mengklarifikasi. 2 Desember 2020, beliau menulis pada laman Instagramnya @s.kakung, sebagai berikut:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi. Semoga kalian semua baik-baik saja. Sehat wal afiat lahir-batin.

Untuk bersilaturahmi dengan keluarga; sahabat; dan kenalan via medsos, aku mengelola sendiri akun-akunku di Instagram, Facebook, dan Twitter. Disitulah aku menyampaikan apa yang ingin kusampaikan; pikiran, uneg-uneg, dan pernyataanku.

Di samping itu, ada –dan hanya sebagai– `penyambung lidah`ku (yang dikelola oleh anak-anakku) bernama: “GusMus Channel”, “MataAir Radio”, dan website “gusmus.net”.

Di luar itu, aku tidak pernah membuat pernyataan atau menuliskan `pidato` (termasuk dan apalagi di WhatsApp). 😊

Salam hormatku untuk kalian semua. 🙏

Pos terkait