Presiden Joko Widodo dan Kampanye Putih

  • Whatsapp

oleh : Bambang Sidapaksa

abangijo.com. Menjatuhkan lawan politik dengan menyebarkan berita bohong, istilah sekarang hoax, adalah praktek yang sudah lama berlangsung. Dalam kajian ilmu politik modern tidak ada catatan yang resmi kapan sebuah kampanye politik selalu memunculkan dua hal tersebut. Tidak terkecuali ketika kampanye Joko Widodo pada pilpres 2014 yang lalu.

Bacaan Lainnya

Kita di Indonesia sudah dikenal kampanye hitam pada saat pemilu tahun 1955, terutama dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia(PKI) yang mengandalkan politik konflik sebagai cara mencari dukungan publik. Kalangan priyayi digambarkan sebagai setan kota yang mengeksploitasi masyarakat bawah. Gambaran setan bertebaran di media lokal dan tembok tembok rumah masyarakat.

Diwaktu  Orde Baru, kampanye politik hitam didominasi oleh negara karena memiliki kepentingan mengejar pertumbuhan ekonomi, sehingga berhasil mendominasi kekuasaan hingga bertahan puluhan tahun. Ketika Orde Baru jatuh, maka sumber kampanye hitam beralih ke berbagai kekuatan dan bertebaran di berbagai sumber kekuatan politik, tidak terkecuali pada saat perhelatan kampanye di tahun 2014.

Catatan yang mengkhawatirkan yaitu munculnya black campaign kepada calon presiden. Tidak terkecuali terhadap Joko Widodo di awal maju sebagai capres berpasangan dengan Yusuf Kalla. Latar belakang munculnya isu tersebut terkait dengan keislaman dan keturunan yang mengalir pada bakal calon presiden.

Pada saat ditunjuk sebagai juru bicara tim sukses Joko Widodo-Yusuf Kalla, Anies Baswedan mulai mengenalkan konsep kampanye putih. Dampaknya luar biasa. Dengan kehadiran Anies Baswedan, seorang tokoh muda pendiri gerakan Indonesia Mengajar yang juga Rektor Universitas Paramadina di kubu Jokowi–JK, figure anak muda yang punya inregritas, telah membawa angin segar dengan gagasan orsinil yang dilontarkannya yaitu untuk menggalakkan Kampanye Putih.

baca juga https://abangijo.com/dua-jempol-dari-joko-widodo/

Gagasan kampanye putih dari Anies Baswedan yaitu kampanye dengan cara-cara terhormat untuk memberikan pendidikan politik pada rakyat tanpa harus menjelek-jelekan rival politiknya. Seandainya masih menerima kampanye hitam, sebaiknya disikapi saja dengan senyuman dan konsisten dengan jargon pemimpin yang dicari adalah pemimpin yang sederhana, yang bisa memimpin dan terlibat langsung dalam setiap masalah yang dihadapi rakyatnya.

Elektabilitas yang bagus kedua pasangan tersebut ditambah dengan pengikisan isu-isu negatif pada akhirnya mengantarkan keduanya sebagai pemenang pemilihan presiden 2014.

Prinsipnya, sebagai juru bicara tim kampanye Joko Widodo-Jusuf Kalla waktu itu, Anies mengatakan timnya tak akan membalas serangan kampanye hitam terhadap pasangan Jokowi-JK. Dia mengatakan kampanye harus positif karena masyarakat menginginkan perubahan. Jika kampanye negatif terus yang dilakukan, bangsa ini tak akan menjadi lebih baik.

Ucapan Anies seperti dikutip Majalah Tempo bahwa: “Rakyat kita juga sudah cerdas dalam menilai,” kata Anies di sela-sela diskusi di Hotel Le Meridien Jakarta, Sabtu, 24 Mei 2014. “Rakyat tahu mana yang fakta dan mana yang fitnah.”

Ia mengakui ada berbagai kampanye hitam terhadap Jokowi. Misalnya, Jokowi dianggap sebagai capres boneka. Jokowi juga dinilai tak menepati janji memimpin Jakarta selama lima tahun. Dia menegaskan, timnya bakal tetap santun dan tak akan menyerang balik. “Biar yang hitam tetap hitam. Yang melakukan kampanye hitam, ya, berarti kualitas kampanyenya hitam.”

Republik ini, kata Anies, membutuhkan kampanye yang putih dan santun. Ia menyatakan ada pihak yang cenderung melakukan kampanye hitam karena punya pengalaman hitam. “Tapi kami tidak bisa karena terbiasa dengan pengalaman yang putih.”

Tetap Sahabat

Kesuksesan mengantar Joko Widodo dan Yusup Kalla sebagai presiden dan wakil presiden pasca SBY dan menjadi mediator yang sangat baik bagi semua kalangan menjadikan Anies Baswedan ditunjuk sebagai anggota tim transisi yang  bertugas menyiapkan hal-hal strategis yang berhubungan dengan transisi kepemerintahan. Mulai dari pembahasan kabinet, kantor kepresidenan, menyiapkan APBN 2015, sampai menerjemahkan visi-misi ke dalam program kongkret.

Di bawah komando Rini Suwandi, ada empat deputi, yakni Hasto Kristiyanto, Anies Baswedan, Akbar Faizal, dan Andi Widjojanto. Mereka bertanggungjawab mengelola komunikasi politik dan membawahi kelompok-kelompok kerja yang membidangi antara lain pertanian, kelautan, energi, dan infrastruktur.

Dari semua anggota tim transisi yang berlanjut mendapatkan amanah sebagai menteri hanya dua orang, yaitu Rini Suwandi dan Anies Baswedan. Sebagai Menteri Pendidikan, Anies hanya menjalaninya selama kurun waktu 2 tahun. Rumor pemecatan ini berkembang liar hingga hari ini menjadi kampanye hitam yang ditujukan kepada Anies. Di sisi lain Anies sendiri terlihat tetap meresponpergantian dirinya secara putih, dengan menyatakan, “ Mengucapkan terima kasih telah diberi amanah ikut mendampingi presiden selama dua tahun”.

Pos terkait