Politik Sepak Bola

  • Whatsapp

Oleh: Bambang Sidapaksa

            Semua tahu, khususnya bagi pencinta sepak bola dengan namanya Real Madrid. Salah satu klub bola yang paling sukses dikolong jagat ini. Pemegang 13 kali juara liga Champions Eropa, juara liga bergengsi Spayol 33 kali. Jauh diatas Barcelona.

            Salah seorang  pelatih yang sukses membawa Real Madrid kepuncak kejayaan adalah Zinedin Zidane. Bukan hanya sukses sebagai pelatih tapi juga sukses sebagai pemain di klub tersebut. Sebagai pesepak bola tersukses ternyata sang anak, Enzo Zidane, mengikuti juga jejak sang ayah sebagai pemain professional.

            Enzo sempat ikut di team junior Real Madrid dan di proyeksikan masuk ke Real Madrid utama tetapi karena kebutuhan team serta kualitas masih jauh yang diharapkan maka dia tersingki. Pertanyaan adalah apakah sang ayah tidak memiliki kekuasaan untuk  mempengaruhi keputusan klub agar  memasukkan putranya ke tim senior.

            Seandainya klub yang dilatih Zinedin Zidane bukan Real Madrid maka kemungkinan anaknya sudah memiliki tempat di team utama, artinya kekuasaan sebagai pelatih memiliki otoritas untuk menunjuk anaknya sebagai pemain utama tetapi dia melatih sebuah klub besar “galacticos” yang tidak memungkinkan membangun oligarkis dalam sebuah klub sehebat Madrid.

            Apa yang dihadapi oleh klub sepak bola Barcelona, yang memasuki masa keruntuhan, sudah diprediksi seiring dengan figure Leonell Messi yang paling menonjol. Berapa banyak banyak pelatih dan pemain yang menjadi korban dari “pengaruh oligarki Messi” dalam tubuh klub walaupun untuk itu, seorang Messi mampu mempersembahkan piala buat kebesaran klub.

            Bukan hanya sejumlah pelatih dan pemain terusir tetapi dampak yang paling serius adalah system pengkaderan La Mesia Barcelona dianggap tidak berjalan karena tidak sesuai dengan kubutuhan sang penguasa lapangan Leonel Messi. Keruntuhan Barcelona ada didepan mata.

Oligarki politik hari ini

Direktur Eksekutif Indopol Survey, Ratno Sulistiyanto mengungkapkan, berdasarkan survei yang dilakukannya, mayoritas masyarakat Jawa Timur (Jatim) mengaku bakal menerima pemberian uang dari pasangan calon yang berkontestasi di Pilkada serentak 2020. Persentasenya mencapai 53,8 persen.

            Bicara oligarki politik, sejak zaman Plato sudah menjadi pembicaraan dilingkaran penguasa sehingga menurut Plato adalah wajar apabila pemegang kekuasaan datang dari lapisan elit. Biarlah kekuasaan dipegang kalangan tertentu karena pengendali kekuasaan haruslah dipegang mereka yang mampu dan pengalaman.

Kapitalismelah yang ikut merubah konstelasi struktur bangunan oligarki karena kekuasaan politik mampu juga mempengaruhi dinamika kehidupan ekonomi. Mulailah terjadi persekongkolan antara politik dan ekonomi. Aktor yang terlibat menjadi bertambah dan meluas.

Ada 2 hal yang perlu ditekankan melihat wajah oligarki Indonesia hari ini. Pertama, menyingkap para actor yang mempertahankan oligarki.   Teori oligarki digunakan untuk menggambarkan kekuatan-kekuatan yang menjadi lingkar inti kekuasaan di Indonesia, yang mendominasi struktur ekonomi dan struktur politik Indonesia pasca-Orde Baru

Kedua, dari sudut  motivasi  mengejar kekayaan pribadi dalam mengidentifikasi oligarkh. Oligarkh adalah mereka yang menggunakan harta untuk mempertahankan kekayaannya. Ia selalu berupa individu, bukan lembaga atau instansi sehingga  oligarki merupakan politik mempertahankan kekayaan oleh mereka yang kaya dengan memanfaatkan politik sebagai sarana.

Politik lokal hari ini

                        Bapak ibunya menduduki jabatan Bupati/walikota maka sang anak didorong dorong untuyk menduduki jabatan yang sama. Kalau ahli politik mengatakan bahwa kekuasaan itu menyenangkan buat mempengaruhi public maka mewariskan sebuah jabatan untuk kesenangan adalah menjadi  kebanggaan trah.

            Plato, seorang pemikir tua klasik, melihat oligarki dari sudut persfektif sosial yaitu bahwa para orang kaya membiayai klas sosial tertentu untuk terjun politik. Untuk mempengaruhi keputusan public, Berapapun biayanya akan dikeluarkan agar kepentingan bisnisnya atau ekonominya tetap terjaga. Mereka tidak akan terjun langsung dalam arena politik.

            Dibanyak Negara dimana praktek demokrasi berjalan dengan control yang ketat maka tidak memungkinkan pemain politik ikut berlatar belakang bisnis ekonomi tetapi kalangan orang kaya akan menggelontorkan uangnya buat biaya politik agar kandidatnya memenagkan seuatau jabatan public.

            Hari ini, di Indonesia yang terjadi para orang kaya terjun ramai ramai dalam politik. Motifnya ada 3. Pertama, ingin keluar dari zona aman yang memang selalu menjadi tantangan seseorang ketika bisnis sudah mengalami kejenuhan. Kedua, terjun politik untuk mendapatkan keuntungan dari posisinya sebagai pejabat public. Dan ketiga, biaya politik kita memang tinggi dan hanya mampu dilakukan oleh mereka yang punya uang.

                        Semakin hari politik oligarkis kita semakin terakumulasi dikalangan tertentu dan lipisan berduit. Kekuasaan hnaya akan berkutat dilapisan sosial yang mapan dan memiliki sumber daya keuangan yang besar.

            Elit pusat bermain politik di tingkat lokal semakin banyak.Bukan hanya jabatan legislative bahkan ikut bermain memperebutkan jabatan eksekutif, walikota, bupati ataupun gubernur.Inilah salah  masalah mendasar yang wajah buruk  dalam oligarki politik  yaitu kegagalan kaderisasi dan ketidak percayaan pada partisipasi masyarakat.

            Belum lagi politik uang yang belum dapat kita selesaikan hanya mampu dipenuhi oleh mereka yang memiliki akses pada jaringan pemodal dan pengendali kekuasaan politik pada level diatasnya.

Pos terkait