Politik Identitas Atawa Politisasi Agama?

  • Whatsapp

oleh: Bambang Sidapeksa

Saya dulu bertetangga dengan Buya Syafii Maarif. Ada dua hal menarik yang saya ingat dari beliau. Pertama, selalu di masjid antara maghrib dan isya. Kedua, selalu menyebut “Anda” kepada istrinya.

Mungkin karena beliau merasa sebutan itu lebih sopan daripada “kamu” atau bahkan “ente” yang berasal dari bahasa Arab, “anta.” Jangan-jangan Anda juga berasal dari kata Anta juga ya…hehehe

Sama dengan saya, sering menyebut Anda kepada kawan bicara — ini lebih sering saya sebut daripada lawan bicara. Saya tidak merasa tersinggung –pernah ding dulu..hehe, jika teman teman semisal Acun atau Cucun menyebut saya dengan kamu.

Bahasa Arab juga saya lihat egaliter kok… Nabi, bahkan Allah pun kita sebut dengan “anta” dan “huwa”. Dia, bukan Beliau. Anta Robbii laa ilaaha illaa anta misalnya. Tidak ada Tuhan yang sejati kecuali Engkau… dan doa lain juga pakai “anta” untuk Allah.

Kalau saya saya pakai istilah Anda, ini soal budaya saja, rasa bahasa personal saya saja. Jadi saya tidak menganggap orang yang menyebut saya dengan kamu itu merasa lebih superior, baik dari usia, ilmu, nasab, politis dan lain-lain. Tapi saya anggap soal kebiasaan saja.

Nah dalam soal budaya itulah saya anggap perlunya kita mempraktekkan ajaran ta’aruf dan tafahum. Mengenal si A itu non muslim menjadi penting agar saya tidak salah ucap.

Misalnya mendoakan semoga Allah memberi petunjuk kepada Ary atau Cucun dan sebagainya. Andaikata mereka tidak tahu bahwa ada doa yang biasa kita baca saat khutbah: hadaanallahu wa iyyaakum, yang artinya lebih kurang “Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita” (kami dan anda semua).

Asli loh… pernah ada yang tersinggung ketika didoakan untuk mendapat petunjuk Allah. Padahal setiap hari minimal 17 kali seorang muslim minta petunjuk Allah ke jalan yang benar. 

Jadi mengenal dan menyebut muslim atau non muslim itu adalah bagian dari pengenalan identitas teman, bukan soal politik identitas. Wong di KTP juga ada toh kolom agama.

Juga jika ada orang atau organisasi yang bergerak atas dorongan agama. Itu bukan politisasi agama. Mungkin lebih tepat agamisasi politik, misal Islamisasi politik, sejalan dengan ide Islamisasi ilmu pengetahuan misalnya. Gak ada salahnya.

Saya setuju, jangan sampai terjadi sebaliknya: politisasi agama. Misalnya kalau mau pilkadal atau pilpres lalu minta dukungan pesantren, non muslim pun pakai peci atau perempuan yang biasanya tak berjilbab pakai jilbab. Itu baru politisasi agama.

Mari saling menghargai. Seorang demokrat tidak akan merasa marah terhadap istilah politik Islam atau politik agama lain jika ada. Aneh jika seorang liberalis menolak orang yang tidak ikut liberal dengan sebutan kadrun misalnya.

Istilah “kadrun” mungkin karena pengaruh politik identitas si pemberi julukan yang tidak merasa nyaman dengan identitas Arab. Padahal mungkin yang dimaksud oleh yang bersangkutan, hanya untuk mengadopsi nilai-nilai Islam, bukan Arab. Bahkan ada info bahwa itu istilah jaman orde lama. Demikian juga istilah “cebrun”, sama saja. Atau cukup dipahami sebatas aksi reaksi saja ya?

Pos terkait