Pilkada: Calon Tunggal Nekat Melawan Otak Kosong

  • Whatsapp
Pilkada 2020
Kotak Kosong dan Droplet Corona

Abangijo.com –  Di kota saya tinggal pilwakot bulan Desember nanti incumbent sepertinya akan melawan kotak kosong. Ternyata hal ini tidak terjadi hanya di Kota Semarang.

Mengutip Cnnindonesia.com, bahwa Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat terdapat 25 daerah penyelenggara Pilkada Serentak 2020 yang hanya memiliki satu bakal pasangan calon (bapaslon) setelah masa pendaftaran ditutup.

Ternyata pilkada tahun ini, dua teman saya tidak begitu merasakan kenikmatan perhelatan akbar kepemimpinan daerah. Biasanya mereka berdua sangat antusias jika ada pemilu legislatif, pemilihan gubernur, bupati maupun walikota.

Kedua teman saya itu berprofesi sebagai pembuat spanduk MMT dan Kaos. Wajah keduanya tidak sumeringah seperti biasanya. Mereka bicara sendiri dan minta saran kepada saya.

“Kami berharap pilwakot jangan sampai melawan kotak kosong atau calon tunggal;. Saya sudah menyiapkan modal hampir ratusan juta hanya untuk menyambut bisnis musiman ini.”

“Bahkan ini dalam situasi Pandemi Covid-19. Kalau bisa pilkada ditunda. Begitu juga dengan pendaftaran calon bupati maupun walikota juga perlu diundur.”

Keduanya mengutarakan beragam alasan agar pilkada ditunda. Tidak boleh dalam pilkada hanya ada calon tunggal. Juga penyebaran virus Corona atau Covid-19 yang makin meluas. Saya masih terdiam, berusaha sedikit memancing mereka mengutarakan semua uneg-unegnya.

“Percuma kalau melawan kotak kosong, yang tidak berseragam tidak boleh ikut pilkada. Sekolah saja ada seragamnya. Pekerja kantoran bahkan sampai pelayan warung makan juga memakai pakaian seragam.”

“Kota-kota sudah tidak indah, karena tidak ada MMT yang terpasang. Kota semakin terasa mati, ekonomi makin sulit dan sepi.”

Setelah agak reda, keduanya menatap saya sangat serius. Saya berusaha tenang dan mengambil nafas panjang.

“Saya sependapat dengan kalian berdua. Lalu enaknya bagaimana?”

“Ya begitulah. Kalau soal ekonomi dan kekuasaan meski pandemi Covid-19 semua harus tetap dijalankan. Para pelajar, harus sekolah virtual. Para pekerja diminta bekerja di rumah.”

“Terus enaknya bagaimana,” tanyaku

“Jelas tidak enak. Yang merasakan enaknya ya mereka itu.”

“Ya sudah diterima saja. Kotak kosong memang tidak punya otak.”

Pos terkait