Petani, Pemerintah dan Pasar

  • Whatsapp

Penulis: Syaiful Huda, Petani Muda.

Abangijo.com. Musim akan terus berganti, dari hujan ke kemarau, demikian terus tanpa henti di negeri khatulistiwa ini. Di negeri-negeri subtropis maksimal hanya memiliki empat musim, yaitu musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur. Khususnya di Indonesia, selain memiliki musim hujan dan musim kemarau, juga memiliki beberapa musim tambahan. Yaitu musim durian, musim rambutan, musim mangga, musim salak, musim duku, musim jeruk, dan masih banyak lagi musim lainnya, tergantung hasil pertanian apa yang sedang dipanen. Juga ada musim layangan, musim gundu, musim memancing dan lain-lain, tergantung yang sedang dimainkan oleh anak-anak. Hehehe..

Saya akan bercerita tentang pengalaman pribadi sebagai seorang psikolog yang menekuni dunia pertanian selama hampir lima tahun. Awalnya saya bertemu dengan para petani yang ingin menjual sawahnya untuk kami bangun menjadi real estate. Dari cerita mereka, saya menyadari betapa hidup petani itu sangatlah kurang beruntung di negeri ini. Hanya untuk menyekolahkan anak saja, harus menjual petak sawahnya bagian demi bagian hingga habis. Berkebalikan dengan pengusaha real estate. Bila saat ini berhasil menanam satu proyek perumahan di sebuah bidang tanah, maka dalam beberapa saat saja bisa beranak pinak, menanami tanah-tanah lain dengan proyek perumahan yang lebih banyak.

Meskipun saya terlahir dari keluarga petani, namun jiwa saya tidak banyak melibatkan diri, sehingga kurang bisa menyelami susah hidupnya orang tua sebagai petani. Dari kisah perjalanan hidup para petani itulah muncul kesadaran dalam diri saya untuk mengetahui lebih dalam dunia pertanian.

Akhirnya saya memutuskan untuk sejenak “mengabdi” kepada petani. Mempelajari dunia pertanian, mulai dari budidaya, pengolahan, manajemen dan pasar. Ternyata kuliah di kampus masih jauh lebih berat daripada menempuh perkuliahan dengan para petani ini. Semuanya serba gamblang, tanpa teori ini itu. Bahkan saya bisa membuat MoL, POC, benih dan lain-lain yang sebelumnya tak sedikitpun saya tak ketahui.

Selama dua tahun saya belajar praktek secara langsung. Menanam buah naga, beternak cacing, menanam jeruk, menanam pepaya, menanam padi, menanam kelapa kopyor, beternak ayam petelur, ayam potong, kambing potong, menanam sayur mayur, budidaya kopi, budidaya ikan tawar dan lain-lain. Learning by doing.

Semua saya pelajari dan saya praktekan secara langsung, baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan para petani. Dan hasilnya, saya banyak tekor. Bukan karena gagal panen, namun lebih pada KEGAGALAN PASAR.

Petani kita itu sudah sangat canggih untuk melakukan budidaya, baik produk lama maupun produk baru. Mereka itu sudah ahlinya ahli untuk bisa menanam dan berproduksi. Namun ketika sampai pasar, mereka tidak berkuasa sama sekali.

Bagi saya, ini yang menjadi SANGAT LUCU dan MUSTAHIL bagi saya yang sudah hidup di dunia bisnis produksi. Bagaimana mungkin produsen tidak mampu menentukan harga jual atas produknya sendiri? Ilmu ekonomi mana yang bisa menjelaskan fenomena ini?

Di dunia properti, jika saya memproduksi tiga puluh unit rumah, maka saya dapat menentukan harga tiap unit rumah sesuka hati saya. Yang penting pasar bisa menerima. Di properti, saya dapat menetapkan berapa keuntungan yang ingin saya peroleh.

Di dunia pertanian berlaku sebaliknya. Hampir 99% petani tidak memiliki kemampuan untuk menetapkan harga jual. Harga selalu ditentukan oleh pedagang, bukan lagi pasar.

Pedagang seolah-olah menjadi pemilik kuasa penuh atas semua produksi petani. Dari sinilah saya mulai melakukan “perlawanan”. Saya menetapkan harga khusus atas produk-produk yang saya produksi secara khusus dan terbatas. Saya membentuk komunitas petani ramah lingkungan, namanya Komunitas Petani Muda. Kami memiliki tagline “Dimakan”, “Disimpan”, Sisanya Dijual”.

Dari tagline tersebut, saya mengajarkan manajemen begini kepada para mitra petani ramah lingkungan saya. Pertama, untuk hanya mengkonsumsi dari apa yang mereka tanam. Kedua, untuk menyimpannya selama masa tanam berikutnya. Dan terakhir, menjual sisanya.

Dengan manajemen seperti ini, banyak yang kami dapat. Minimal mitra petani sudah tidak lagi banyak membeli di pasar untuk kebutuhan dapur dan uangnya bisa disimpan. Toh petani selama ini sudah merasa aman jika sudah memiliki kebutuhan dapur yang cukup.

Pos terkait