Pengendalian Covid19 Tahun 2020 Dalam Angka: Buruk!!

  • Whatsapp

Oleh: Supoyo Rahardjo

Bagaimana menilai hasil kerja pemerintah dalam menangani pandemic covid19? Kita dapat mengevaluasi dengan melihat pergerakan angka-angka terkait dua hal: 3T dan 3M.

Angka-angka 3T (testing, tracing, dan treatment), menunjukkan hasil kerja pemerintah dalam meningkatkan kemampuan melakukan ketiganya? Sedangkan angka-angka 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), menunjukkan hasil kerja pemerintah dalam membudayakan warga untuk mematuhi tiga hal protokol kesehatan.

Pandemictalks telah menyajikannya dalam bentuk tabel. Pandemictalks mengumpulkan angka-angka 3T dan 3M itu dari Kemenkes, KawalCovid dan Worlddometer. Dimulai dari awal Maret saat pemerintah mengumumkan kasus pertama covid19, sampai akhir Desember 2020 ini.

Kemampuan 3T Pemerintah Lemah

“Testing lemah Tests People harian Indonesia baru 88,5% standar MINIMAL dari WHO untuk Indonesia (34.060 berbanding 38.500). Apalagi 49% tes ada di DKI Jakarta, menunjukkan tidak meratanya testing di Indonesia,” begitu tuit @firdzaradiany, inisiator pandemictalks.

Kok bisa? Ada dua masalah. Pertama, temuan kasus berasal dari orang memeriksakan diri, bukan dari upaya jemput bola petugas. Itupun bila dilaporkan. Data Kemenkes dan BNPB menunjukkan bahwa jumlah tes harian, bergantung pada laporan dari lab-lab rujukan. Kalau banyak yang tidak melapor, otomatis angkanya juga turun. Buktinya, hubungan antara persentase lab yang melapor per hari dengan jumlah orang yang dites per hari tidak konsisten.

Kedua, soal tidak meratanya sebaran lab rujukan testing covid19. Dari 542 lab yang ada 296 berada di Jawa. Di provinsi Kaltara, Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara masing-masing hanya ada dua lab.

“Tracing lemah Kemampuan Tracing (Rasio Lacak Isolasi – RLI) Indonesia sangat lemah yaitu 1,48 ; jauh dari Standar WHO yaitu >30. Artinya setiap kasus positif hanya dilakukan pelacakan dan isolasi terhadap 3 orang,” begitu lanjutan tuitnya.

“Sebagai perbandingan RLI Singapore adalah 70. Sistem zonasi yang tidak membatasi mobilitas juga memperlemah tracing. Testing dan Tracing yang lemah akan membuat bias atau ilusi dalam dalam hal analisa data dan penentuan kebijakan,” lanjutnya memberikan perbandingan.

“Treatment rendah Tingkat Kesembuhan (Recovered Rate) bukan indikator keberhasilan Negara menangani Pandemi. Recovered Rate Indonesia masih jauh lebih buruk daripada sesama negara Asia Tenggara (90%-an). Idealnya: Recovered Rate > 73,9% Tingkat kematian < 3% Positive Rate < 5%,” lanjutnya.

“Active Cases Indonesia 108.269 pasien aktif membuat Bed Occupancy Rate (BOR) RS Indonesia menyentuh 62,4% (Standar WHO <60%) dan kematian 467 Nakes.” Lanjutnya lagi.

Program Pembiasaan 3M dalam Masyarakat Tidak Berhasil

Grafik  di bawah ini menunjukkan kepatuhan 3 M masyarakat terus menurun. Sebelum libur panjang terlihat paling tinggi, mulai menurun pada saat libur panjang (28 Okt – 1 Nov), dan menurun cukup banyak setelah libur panjang.

Hal tersebut diperparah dengan tingkat mobilitas penduduk kembali tinggi. Maret hingga Mei 2020 menurun cukup banyak. Juni – Juli mulai merangkak naik. Agustus hingga sekarang, mobilitas warga sudah sama dengan sebelum pandemic.

1 dari 4 Orang Terinfeksi Covid19, Setiap jam 11 Orang Meninggal

Soal ini, akun akun twitternya, @firdzaradiany menyampaikan:

“Tembus 700.000 kasus! Hanya butuh 7 hari utk capai 50.000 kasus terakhir. Padahal 50.000 kasus pertama dicapai dalam 115 hari. Jangan sampai laju penyebaran semakin cepat; misal 3 hari utk setiap 50k cases.”

“Jika laju kecepatan sebar virus, kebijakan pemerintah (3T + mobilitas) dan perilaku masyarakat (3M) as is sama persis seperti ini. Maka 42 hari lagi (akhir jan 2021) kita tembus 1juta cases!” lanjutnya.

Lebih lanjut pandemictalks menyoroti soal positivity rate Indonesia. Tuitnya: “4 hari berurutan positve rate Indonesia > 20%. 1 dari 4 orang Indonesia yg dites hasilnya positif COVID-19. Rerata Test People per Day Nov-Des’2020 = 33 ribu. Rerata hanya 62% lab Indonesia lapor. WHO Indonesia: Positive Rate bbrp Provinsi meningkat setelah turunkan Testingnya.”

Jadi, menurut pantauan WHO, meskipun pemerintah menurunkan kemampuan testing dari kapasitas lab terpasang, potensi keterinfeksian masih tetap meningkat.

Data sedikit berbeda disajikan oleh www..ourworldindata.org. Pusat data dunia ini menyebut angka lebih rendah, yaitu 20,4%. Namun kabar buruknya, itu angka tertinggi sedunia saat ini. Demikian rilis Kepala pusat data dunia www.ourworldindata.org, Edouard Mathieu di akun twitter @redouad.

Pandemictalks mencatat terjadi dua kali rekor kematian dalam sepekan. 258 penderita covid19 orang meninggal setiap hari. Artinya 11 orang meninggal setiap jam. Jawa Tengah mencatat rekor tertinggi. 91 orang meninggal per hari, itu berarti di Jawa Tengah ada 4 penderita covid19 yang meninggal per jamnya.

Lebih lengkap, pandemictalks menyodorkan angka-angka indicator, baik buruknya keadaan pandemic covid Indonesia. Secara umum, Indonesia dalam kondisi yang buruk dari yang ditetapkan WHO.

Indikator yang sangat penting ialah rendahnya tes PCR. WHO menyarankan 36.500 per pekan. Pemerintah baru dapat mencapai angka 34.060 per pekan, itupun dicapai secara bertahap dalam 10 bulan. Selain itu dapat terbaca tingkat kematian (fatality rate) nasional 3% melebihi standart WHO (2,2%). Tertinggi di Jawa tengah (9%), yang berarti dari setiap 100 orang yang terinfeksi, 9 diantaranya meninggal dunia, termasuk korban dokter di dalamnya.

Korban meninggal dari kalangan nakes juga sangat tinggi. Hal ini berakibat pada angka indeks pengaruh kematian nakes (IPKN) yang buruk. Angka ini menunjukkan dampak setiap keamtian nakes terhadap system layanan kesehatan. Semakin tinggi semakin buruk. Pandemictalks menghitung IPKN Indonesia di angka 741. Maknanya, 741 penduduk Indonesia kehilangan 1 dokter yang seharusnya dapat melayani kesehatannya.