Pandangan Ibn Atho’illah Tentang Usaha Duniawi

  • Whatsapp

Penulis : Hasmara Ningtyas

Abangijo.com. Sebelumnya kita membahas orang orang yang menyandarkan nasibnya pada amal usahanya. Mereka yakin usaha dan amalnyalah yang akan membawa mereka pada keberhasilan (biasanya para ahli dunia) sehingga lupa bahwa Allahlah yang maha menentukan.

Disisi yang lain ada juga orang yang sangat yakin bahwa amal ibadahnya yg banyak yang akan membawa mereka pada keberhasilan di dunia dan keselamatan di akhirat, sampai lupa bahwa Allah itu maha kuasa, maha berdiri sendiri yang af’alnya tak dipengaruhi oleh apapun, termasuk ibadah hambanya sebanyak apapun.

Keduanya keliru, sehingga kalau kita bersikap seperti itu hendaklah kita ngaji lagi dan luruskan tauhid kita.jangan berharap pada apapun termasuk amal dan usaha kita sendiri, pasrahkan semua pada Allah.

Penyandaran manusia pada amal usahanya itu bisa dimengerti sebagi akibat bahwa Allah juga menggariskan hukum sebab akibat berlaku dimuka bumi ini. Semua ilmu dan pengalaman manusia semua berasal dari fakta bahwa kejadian kejadian di muka bumi ini hamper semuanya mengikuti sebab dan akibat.

Dari situlah manusia belajar bahwa kalau ingin akibat begini maka perlu dibuat sebab yang begitu. Hukum alam ini sebetulnya dibuat Allah untuk memudahkan urusan hidup manusia di muka bumi. Namun juga Hukum ini juga yang akhirnya mendegradasi kepercayaan manusia pada kekuasaan dan keperkasaan Tuhannya.

Sebetulnya Allah juga tak membiarkan manusia jadi tergantung pada hukum sebab akibat dan menuhankannya, dan sekaligus melupakan Allah, tuhan yang sebenarnya. Allah berulang kali mengingatkan manusia untuk Kembali percaya padaNya dan tidak menyandarkan pada hukum kausalitas itu dengan menurunkan, anomaly, mukjizat, keajiaban, keanehan dll, seta menurukan nabi dan oang orang shaleh untuk mengingatkan, namun faktanya masih banyak manusia yang teteap mempercayai kemampuan pribadi dan usahanya sendiri dibnding mempercayai kekuasaan Allah SWT.

Orang orang yang mengandalkan usahanya sendiri dan percaya bahwa semua kehasilan merupakan akibat dari sebuah sebab adalah golangan orang orang yang bermaqom ASBAB. Dan bagi yang percaya bahwa semua keberhasilan, kesuksesan, rejeki dan anugrah semua berasal dari Allah dan ada bukan karena usahanya tapi karena kehendak Allah, usaha mereka hanyalah ikhtiyar sebagai bentuk ibadah pada yang Maha Kuasa.

Orang orang yang seperti ini adalah kelompok orang yang berada pada maqom TAJRID. Kalau ditanya mana maqom yang benar? Tentu secara akidah maqom TAJRID lebih benar dan lebih menjunjung ketauhidan.

Trus apakah kita semua harus meninggalkan usaha, tidak berbuat apa apa dan hanya berserah diri pada Allah saja, tiduran sambal menunggu rejeki datang sendiri, begitu? Santai dulu bro… pertama yang perlu dikritisi adalah bahwa maqom asbab dan maqom tajrid itu bukan pembeda amalan lahiriah. tapi itu sebetulnya pembeda sikap bathin. Yang satu percaya usahanyalah yang mendatangkan hasil baik, yang satu melihat usaha dan amalnya adalah bentuk ibadah, ketundukan pada Allah semata, masalah hasil semua diserahkan pada Allah.

Dalam hati yakin kalau Allah mau memberi banyak ya dapat banyak, kalau Allah mau kasih sedikit hasilnya ya tetep saja akan sedikit bagaimanapun usaha kita tetep tidak ngaruh. Sebetulnya keyakinan tajrid ini banyak terbukti dilapangan, usaha sudah diusahakan maksimal, banting tulang tapi hasilnya nol, sdh berusaha maksimal dana yng keluar juga banyak, kebanjiran, duduk duduk santai ada yang kasih bingkisan, kasih duit, iseng ikut undian dengan masukin voucher undian dapat mobil.

Orang yang berada di maqom tajrid itu biasanya orang orang yang sudah menempa diri dengn riyadoh; puasa, sholat malam, dzikir, khalwat, ngaji, mencari ilmu puluhan tahun. Mereka bisa berserah total pada Allah karena ilmunya dan pengenalannya yang mendalam pada Allah,

Jadi bagi orang yang belum menjalani itu semua ya jangan berani berani masuk ke  alam tajrid, bisa kamu akan kebentur masalah yang besar di sana. NAMUN…kita harus segera mengusahakan agar diri bisa berada di maqom itu, karena ini bukan hanya masalah sukses tidak sukses, berhasil tidak berhasil, ada atau tidak ada rejeki, Ini semua terkait dengan keimanan dan ketauhidan kita.

Kesuksesan kita akan kita tinggal mati, ketauhidanlah yang nanti kita perlukan….Maka mulailah menimba ilmu dan menempa diri agar Allah segera letakkan kita di maqom TAJRID…Agar kita selamat dunia akhirat. Lagian enakkan juga di maqom tajrid, usaha ga perlu ngoyo atau bahkan ada yg gak usaha ngapa apa apa, tapi rejeki datang sendiri, sementara orang maqom asbab harus banting tulang berangkat pagi pulang petang. Itupun belum tentu cukup. Apa ada orang maqom tajrid? Buanyak…

Pos terkait