Negara Demokrasi, Parpol, Kepala Daerah, Dan Cukong

  • Whatsapp

Penulis: Profesor Hanif Nurcholis

Negara demokrasi yg baru ditemukan pada abad ke-18 adalah sebuah sistem tata negara yg ditata terbalik-balik. Naturalnya, negara itu dimulai dari adanya orang sekti/kuat/hebat/berpengaruh yg menundukkan orang2 lain di sekitar/komunitasnya. Lalu si penunduk menjadi kepala komunitas/suku/desa/kadipaten/kerajaan dg sebutan bekel, lurah, adipati, sultan, dll. Adapun orang2 yg ditundukkan menjadi kawula. Simpel dan logis.

Tatanan yg sudah mapan ribuan tahun tsb dijungkirbalikkan oleh revolusi Perancis dan AS pada abad ke-18. Rakyat Perancis memenggal kepala rajanya dan rakyat AS menolak diperintah raja. Mereka bikin tatanan baru yg disebut demokrasi. Dalil kekuasaan yg sdh mapan dijungkirbalikkan. Bukan orang sekti/kuat yg memerintah tapi rakyat. Rakyat memilih pengurus dan wakil2nya. Model begini tentu ruwet dan repot utk negara dg jumlah penduduk yang banyak. Utk mengatasinya rakyat yg idenya sama membentuk parpol. Jadi, parpol adalah kumpulan orang se ideologi. Melalui parpol rakyat memilih wakil2nya dan petinggi negara. Parpol menjadi kendaraan rakyat utk mengurus negara.

Sistem demokrasi yg jungkir balik tsb menyebar ke seluruh dunia. Indonesia tak bisa menghindar. Akan tetapi di Indonesia sistem demokrasi yg sdh jungkir balik itu dibikin jungkir balik lagi. Parpol yg aslinya kumpulan orang se ideologi dijungkir balikkan menjadi orang2 yg dikumpulkan pemodal/cukong. Parpol berubah fungsi yg semula sbg kendaraan rakyat utk ngurus negara menjadi kendaraan pemodal/cukong utk menggarong kekayaan negara.

Dalam Pilkada 9 Des 2020 pengurus parpol menjadikan parpolnya sbg truk sewaan dg harga sewa ratusan milyar sampai trilyunan. Para cukong dan pejabat tinggi pun berjudi. Cukong Semprul nyewa parpol A utk ngusung dirinya. Cukong Dadap nyewa parpol B agar ngusung si Bego, bonekanya. Pejabat tinggi Noyo nyewa parpol D agar ngusung si Culun Lolak Lolok, ponakan/ipar/istri/mantunya. Cukong King Kong nyewa parpol F agar ngusung si Pekok, anaknya. Dst.

Si Semprul atau si Bego atau si Culun Lolak Lolok atau si Pekok terpilih lah sbg kepala daerah. Apa yg mereka kerjakan setelah menjadi KDH? Mereka hanya melakukan satu kebijakan: ngotak-ngatik APBD dibkin proyek infra struktur lalu disuruh ngerjakan pemenang judi tadi (cukong dan pejabat tinggi). Pemenang judi menguasai APBD dan proyek darinya. Rakyat gigit jari krn suaranya sdh dibeli Rp50.000 oleh mereka.