Molly…

  • Whatsapp

oleh: Ki Jogowono

Molly sangat keibuan. Bisa dikatakan dialah induk dari keturunan Persia yang ada di lingkungan kami. Sejak pindah dari salah satu provinsi di Sumatera sejak 2009 lalu, dia menjadi salah satu penghias keceriaan di rumah kami. Ketika pindah dari Sumatera 11 tahun yang lalu, dia masih gadis belia.

Kukisahkan sejarah petualangan Molly ini. Pertama, nama Molly itu sebenarnya nama toko pet, dimana anak kami, sebut saja Mbak Icha membelinya. Ketika itu dia ingin sekali memiliki pet (binatang kesayangan). Permintaan sejak kecilnya ya sekitar binatang; sebut saja minta kuda (sering kubawa ke pasar hewan, dulu di sekitar Japunan Magelang). Lalu dia minta anjing, karena anjing kecil selalu kelihatan lucu. Juga penguin, ketika bapaknya berkesempatan jalan-jalan di Eropa. Dan masih banyak lagi.

Kedua, ternyata Molly sangat cocok menjadi binatang rumahan. Meskipun persian, dia mudah menyesuaikan makan. Tidak seperti yang lain. Kami pernah punya kucing kampung yang sangat setia dan makan apa saja yang kami berikan.

Ketiga, ternyata Mbak Icha tidak selamanya bisa merawat. Terutama menjelang KKN, karena harus ke luar daerah paling tidak selama dua bulan berturut-turut. Nah inilah repotnya. Sehingga Molly harus mau kami pindahkan menemani eyangnya Mbak Icha di Magelang.

Jadilah Molly kami bawa ke Magelang, pada sekitar tahun 2011. Ini yang repot, bayangkan harus membawa binatang piaraan ke dalam mobil, dengan jarak tempuh sehari semalam perjalanan. Bahkan menyeberangi selat Sunda dengan kapal Ro-Ro saat itu.

Keempat, ini sedikit cerita repot ketika membawa hewan kecil melalui kapal penyeberangan. Strategi saya ketika melewati pintu penyeberangan Bakauheni, sambil mengambil karcis masuk kapal musik mobil saya putar agak keras untuk menyamarkan suara kucing dengan musik yang agak menghentak. He he.

Kelima, ini juga sedikit merepotkan karena perjalanan dengan tol, tidak bisa sembarangan berhenti. Padahal pada waktu-waktu tertentu dia harus keluar untuk buang kotoran dan sedikit menghibur karena jenuh di perjalanan.

Keenam, sampai di kilometer 50, ternyata dia ingin buang hajat. Dan, ah sudahlah,…enam ini sudah terlalu banyak…

Pos terkait