Mengenalkan Seni Teater Sejak Dini, Pentingkah?

  • Whatsapp
Membaca naskah teater
Membaca naskah teater

Abangijo.com – Saat ini seni teater seakan tergerus pertunjukan teknologi digital. Anak-anak lebih asyik dengan gadget dan menjadi penikmati pertunjukan digital. Namun perlu disyukuri juga, ternyata dari pertunjukan digital seperti YouTube terkadang anak sedang bermain peran.

Tanpa sadar juga anak-anak digiring untuk bermain dan belajar dari pertunjukan digital. Melalui pertunjukan digital, tiba-tiba anak-anak bisa menjadi superman, super hero, maupun mempraktekan bidang masakan maupun mengaji kitab suci.

Hal tersebut adalah pertunjukan di lingkungan sekitar. Sedangkan apakah teater anak itu? Teater anak digunakan untuk menyebut seni teater yang dimainkan atau di pentaskan oleh anak. Sedangkan arti teater sendiri berasal dari bahasa Inggris “theater” atau “theatre” bahasa Perancis “theatre.”

Dalam bahasa Yunani “theatron”, yang berarti tempat untuk menonton. Di Yunani seni pertunjukan ini dikenalkan oleh beberapa tokoh seperti Thucudides, (471-398 SM), Plato (428-345 SM), dan Herodotus. Teater mewakili tiga pengertian yakni gedung pertunjukan, publik dan karangan tonil.

Jadi teater anak merupakan pertunjukan yang dimainkan anak. Anak-anak mulai dikenalkan dengan pertunjukan, publik, dan karangan tonil. Walaupun teater anak tidak menutup kemungkinan ada campur tangan dari orang dewasa dalam penggarapan pementasan teater anak.

Teater anak pertama kali di Indonesia dikenalkan oleh Deliana Sarawidjaja. Sejak awal teater anak di negeri ini dibiarkan untuk menemukan eksistensinya sendiri. Dalam perkembangannya teater anak semakin menyusut, sesuatu seni yang lagi tidak diminati.

Sesekali hanya dipentaskan saat ada acara porseni tanpa adanya wadah yang menggarap lebih serius. Sehingga teater anak seperti mati tidak mau hidupun tak segan. Maka saatnya mengkaji lebih serius untuk memperkembangkan teater anak. Karena kesuksesan seseorang berproses sejak ia mengenal dunianya. Maka bakat dan potensi tersebut harus diasah pula sejak masa kecil.

Banyak orang memandang sebelah mata tentang seni teater, hal ini dipicu karena seni ini hanya menyajikan seni pertunjukan yang hanya cukup dinikmati. Memaknai teater hanya sebatas seni hiburan ataupun pelengkap event-event kesenian.

Manfaat teater anak

Sungguh ini merupakan pandangan yang sempit. Jika teater hanya dimankai sebagai hiburan. Justru jika digali, sebaliknya teater anak sangat banyak bermanfaatnya. Anak yang biasa pendiam ataupun di depan kelas tidak berani menatap guru, berkomunikasi dengan teman atau mengalami demam panggung.

Dunia teater dia diajarkan bagaimana percaya diri, ia harus berani menatap penonton. Dengan rasa percaya diri tentu akan membangkitkan semangat hidupnya, hal ini akan memicu perkembangan lainnya seperti pola kedewasaan, komunikasi, anak berasosiasi, berimanjinasi, daya pikir, berempati, memiliki daya apresiasi dan tentunya membuat anak akan memiliki nilai-nilai memahami situasi sosial, nilai kebersamaan, nilai menghargai dan lain sebagainya.

Coba bandingkan anak yang hanya menerima pelajaran saja ataupun anak yang hanya di depan komputer atau gadget, tentu mereka kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Kecerdasan emosionalnya tidak dibiasakan dan dikembangkan.

Selain itu anak-anak teater tentu dapat belajar banyak dalam mengambil hikmah dari setiap peran dan lakon yang dipentaskan, karena teater biasanya suatu pementasan yang lebih condong mementaskan yang ada disekitar kita. Belajar tentang kehidupan.

Disnilah peran Pemerintah, seniman, guru maupun lembaga pendidikan untuk dapat merealisasikan teater anak supaya anak dapat diberikan bekal tambahan pada jam sekolah dan sanggar-sanggar teater di kemasyarakatan.

Melatih teater anak sangat mengasyikan. Seorang pendidik harus memiliki rasa sabar dan mampu memposisikan dirinya sebagai pihak yang tidak sepenuhnya ikut campur kreatifitas anak.

Anak diarahkan dan diberikan kebebasan untuk dapat berekspresi susuai dengan pengalaman yang melingkupinya dan menemukan perannya sendiri dalam teater. Kuncinya dalam seni teater anak adalah bagaimana membuat anak harus lepas dari rasa malu, selanjutnya anak dirangsang daya imanjinasinya, rasa asosiasinya dan rasa tanggung jawab.

Budaya Indonesia akan semakin berkembang, masyarakat akan menemukan kesemarakan dunia anak. Jangan biarkan anak terperangkap dunia simbol, suka bermain tanpa adanya pengolahan rasa dan daya imanjinasinya. Saatnya membudayakan teater anak sejak dini baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Taman Akademi, 03/12/2020

Pos terkait