Mendakwahi Kaum Abangan, Untuk apa? Apa bisa?

  • Whatsapp

Oleh : Ki Dharmo Gundul

Di masarakat kita tinggal, terutama masyarakat jawa, sesungguhnya polarisasi antara priyayi, santri dan abangan tetaplah ada. Hanya istilahnya saja yang mungkin bisa bergeser. Misalnya, kaum santri dengan orang mesjidtan dan abangan dengan islam KTP. Atau apalah. Terakhir dari imbas politik pilpres era Jokowi kesan itu kembali menguat.

Oh ya, kelompok santri ini sesungguhnya juga terbelah. Antara muslim perkotaan dan muslim pedesaan. Pilihan politiknya pun berbeda. Tapi ya namanya politik, bisa jadi lawan tapi next time juga bisa jadi kawan.

Saya hanya ingin kasih masukan untuk kelompok orang masjidtan yang ingin “mengembangkan” sayapnya agar dakwahnya didengar dan dianggep.

Pertama. Berusahalah  “nguwongke” dengan orang yang anda anggap abangan. Baik itu tukang adu jago, tukang judi, kelompok nongkrong gardu ronda dll. Karena kadang “gap” terjadi disebabkan persaan lebih suci dan merasa lebih paling berhak “ngapling” surga  surga dari kelompok mesjidtan, justru membikin kelompok abangan antipati.

Kedua adalah Peduli. Kepedulian itu harus nyata. Tidak hanya simpati tetapi juga mampu “ajur-ajer” alias membaur. Anda harus ronda, ikut kerja bhakti, layat, njagong, kendurenan. Yang paling penting adalah sukalah membantu dalam bentuk materi bagi yang membutuhkan. Itu riil.

Ketiga. Kurangi menceramahi mereka tetapi lebih banyak memberi contoh nyata menjadi pribadi yang baik. Dari kehidupan pribadi, keluarga, bertetangga dan bahkan bernegara. Jadilah kader mencintai bangsa tanpa “sponsor” tapi karena kesadaran sendiri. Bisa Jadi anda baru tidak cocok dengan rezim ini, tetapi anda harus tetap mencintai NKRI karena ini negeri kita sendiri.

Pos terkait