Menakar Nasionalisme Anies Basweda Melalui Tokoh Pemuda Pancasila

  • Whatsapp

Penulis: Team abangijo.com

Abangijo.com.-Keputusan Organisasi Masyarakat Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Pancasila (Ormas DPP PP) menjadikan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sebagai anggotanya merupakan sinyalemen yang sarat akan arah perubahan.

Sebelum Anies Baswedan bergabung, salah satu putra terbaik bangsa yakni La Nyala Matalliti yang kini duduk sebagai ketua lembaga tinggi negara (DPD RI) sudah terlebih dahulu didaulat sebagai anggota Ormas PP.

Dua orang ini termasuk sang ketua umumnya yakni Yapto Suryo Sumarno boleh dikatakan tiga serangkai yang memiliki visi kebangsaan yang sama yakni menjadikan perubahan sebagai alat perjuangan untuk bangsa dan negara lebih baik.

Jika dilihat secara track record, baik itu Yapto sebagai ketua umum PP dan Anies Baswedan serta La Nyala Matalliti sebagai tokoh bangsa ketiganya lahir dan tumbuh sebagai kaum pergerakan,terdidik dan intelektual yang punya komitmen kuat akan nasib bangsa dan negara.

Yapto jika menilik otobiografinya, lahir dan tumbuh dari rahim pejuang. Ya pejuang, karena Yapto dilahirkan dari seorang ayah yang berlatar belakang sebagai abdi negara yaitu Tentara. Kita tahu kalau bicara tentara tentu tak terlepas perjuangan mereka di garis terdepan mengamankan bangsa dan negara ini dari berbagai ancaman termasuk ancaman ideologi seperti komunisme.

Bicara ideologi komunisme siapa lagi kalau bukan tentara bersama kekuatan rakyat lainnya yang rela berada di garis paling depan menghadapi bahaya laten itu.

Tidaklah mengherankan jika melihat sepak terjang Yapto selama ini yang komitmen membela niali-nilai kebangsaan seolah darah sang ayah menetes ke dalam jiwa raganya.

Ormas PP di bawah kepemimpinan Yapto Suryo Sumarno kita ketahui selama ini concern terhadap penerapan nilai-nilai Pancasila. Dan bahkan jika menilik sejarah kelahirannya, Ormas PP merupakan ormas yang jadi garda terdepan dalam menggebuk paham Komunisme.

Itu artinya, ormas ini bukan semata-mata atau seperti anggapan orang yang hanya sekedar sekumpulan pemuda tanpa arah tujuan tapi ormas PP sedari awal memiliki komitmen serius memanggul nilai-nilai Pancasila.

Sama halnya dengan Yapto, darah pejuang juga mengalir dalam diri Anies Baswedan. Kakek Anies Baswedan, AR Baswedan merupakan salah satu tokoh pergerakan di era pra kemerdekaan yang gigih memperjuangkan hak-hak kaum pribumi dari penindasan kolonialisme Belanda. Kini sepak terjang sang kakek mengalir ke dalam jiwa Anies Baswedan yang sama-sama membela hak-hak kaum pribumi dari ketertindasan.

Banyak kebijakan Anies Baswedan yang mencerminkan keberpihakan kepada rakyat jelata. Semisal kebijakan penggusuran, di era Anies jadi gubernur nyaris tak terdengar kebijakan yang hanya membuat sengsara rakyat jelata itu.

Anies yang lahir dan tumbuh dalam dialektika intelektual senantiasa menghadirkan model kepemimpinan yang mengedepankan hak dan kewajiban setiap warga secara sama tanpa membedakan status sosial.

Tentu model kepemimpinan semacam ini merupakan alternatif yang cukup relevan di tengah gaya kepemimpinan pada umumnya yang hanya mengeksploitasi sisi emosional warga demi kepentingan politik yang bersifat pragmatis.

Pun dengan La Nyala Matalliti sosok yang kini jadi ketua DPD RI itu tak gentar menyuarakan suara-suara ketidakadilan yang dialami rakyat,mendorong partisipasi dan peningkatan kedaulatan rakyat. Di saat kekuatan civil society yang di dalamnya banyak kalangan terpelajar atau intelektual bungkam menghadapi realitas, La Nyala dengan lantang mengkritisi kebijakan-kebijakan rezim yang dianggapnya tidak sejalan dengan amanat konstitusi.

La Nyalla, rela mempertaruhkan jabatannya hanya demi membela kepentingan bangsa dan negara dari rongrongan oligarki yang menyelinap ke dalam kekuasaan.

Jika melihat sepak terjang ketiganya, mereka sama-sama memperjuangkan hak-hak kaum lemah dari ketertindasan. Istilah keren sekarang beraliran sosialistik.

Kini, tiga serangkai itu tengah berada dalam satu sekoci yang sama yakni Ormas PP. Tiga serangkai ini seperti sudah siap turun ke arena pertarungan melawan oligarki yang menyebar di sudut-sudut kekuasaan. Mereka siap menyongsong perubahan dengan menjadikan Ormas PP sebagai salah satu lahan perjuangan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik. Selamat datang tiga serangkai, songsonglah era perubahan.

Pos terkait