Mempertimbangkan Tradisi

  • Whatsapp

Penulis : Sapto Widodo

“Dalam pertandingan ilmu silat tidak ada nomor dua, dalam ilmu surat tidak ada nomor satu.”

Pepatah ini diucapkan WS Rendra saat menerima Penghargaan dari Akademi Jakarta. Naskah pidato itu sendiri kemudian jadi salah satu bagian buku berjudul “Mempertimbangkan Tradisi” yang berisi kumpulan tulisan-tulisan WS Rendra

Ya, dalam pertandingan ilmu silat kemenangan ditentukan “tewasnya” lawan terakhir Sang Juara. Absolut.

Sedang dalam ilmu surat kemenangan sang juara adalah relatif, tidak ada yang absolut dalam ilmu surat. Tidak ada yg mutlak lebih baik. Kemenangan dalam pertandingan atau pun perlombaan ilmu surat ditentukan subjektivitas para juri.

Dalam ilmu silat tidak ada eksistensi runner up yang tersisa. Dalam ilmu surat eksistensi Kemenangan Sang Juara relatif.

Kompetisi, pertandingan atau pun perlombaan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Butuh mitra berlatih, lawan bertanding bahkan kompetitor untuk membangun semangat dan mentalitas berjuang dan menjadi besar. Namun butuh penghargaan atas eksistensi lawan berkompetisi untuk selalu menjaga harkat kemanusiaan. Sportivitas.

Kompetisi atau pertandingan olah raga bisa menjadi penengah antara pertandingan ilmu surat dan ilmu silat. Dalam olah raga juara satu maupun runner up sama-sama punya eksistensi. Kemenangan Sang Juara objektif, terukur dari patokan yang telah disepakati, namun pencapaian sang runner up adalah sebuah nilai tersendiri. Bahkan juara tiga dan seterusnya.

Kompetisi olah raga juga senantiasa menjaga ada harapan akan perubahan. Mengakui siklus. Ada saatnya sebuah akhir adalah titik awal sesi berikut. Hasil musim sebelumnya adalah pijakan musim selanjutnya meski bukan sebagai penentu hasil akhir.

Kompetisi olah raga, yang menjembatani absolutisitas pertandingan ilmu silat dan relativitas perlombaan ilmu surat adalah satu media penting dalam kebangunan keadaban. Dalam kompetisi olah raga segala macam tahapan menuju keberhasilan diajarkan.

Ketika hanya berbicara olah raga, mungkin kita hanya ada dalam ranah memperbaiki fisik, mengolah atau memperbaiki raga. Namun ketika terkait dengan pertandingan, perlombaan dan kompetisi, maka ranah mental tak kalah penting.

Kompetisi, perlombaan dan pertandingan olah raga tidak lagi hanya masalah fisik/raga tapi juga mental, olah jiwa. Kompetisi olah raga adalah mengenai nilai-nilai.

Belajar, bersiap diri, berlatih, bekerja keras, jujur, disiplin, mengatur waktu, berjuang sampai akhir, mengevaluasi hasil, instropeksi, menghargai lawan adalah beberapa nilai positif yg diajarkan kompetisi olah raga. Nilai-nilai yg berharga untuk mengarungi kehidupan. Maka menghidupkan kompetisi olah raga di tengah-tengah masyarakat adalah hal yg penting.

Kompetisi berjenjang berbagai cabang olah raga semacam liga  atau pun event multi cabang semacam POPDA, PORDA, PON, ASEAN GAMES hingga Olimpiade harus menjadi perhatian bukan hanya untuk unjuk nama namun lebih penting untuk unjuk nilai. Prestasi.

Prestasi olah raga adalah pencapaian  terukur. Cara mencapai prestasi juga bisa diajarkan, dilatih dan diduplikasi. Sehingga prestasi bisa ditradisikan seperti juga kita bisa mentradisikan penghargaan pada prestasi.

Upaya mentradisikan prestasi itu pula mungkin yang bisa kita tangkap sehingga Pemprov DKI merevitalisasi PPOP Ragunan menjadi pusat pendidikan olah raga yang modern dengan sarana dan prasarana berstandar internasional.

Dengan keberadaan Pusat Pendidikan olah raga yang representatif maka bakat-bakat yang ada di semua kalangan bisa dipupuk dan dikembangkan hingga meraih prestasi puncak.

Seharusnya keberadaan PPOP sekelas Ragunan ini bisa ditradisikan ada di seluruh provinsi di Indonesia. Sehingga kehidupan keolahragaan di negara ini semakin kompetitif antar daerah yang bisa menjadi landasan prestasi tingkat internasional. Juga nilai-nilai positif yg ada dalam olah raga juga tersosialisasi dan terinternalisasi dalam hidup masyarakat.

Yuk..berolah raga…

Pos terkait