Memahami Peta Perpolitik Jawa Tengah

  • Whatsapp

Penulis : Bambang Sidapaksa

Abangijo.com Jawa Tengah  dalam perpolitikan nasional adalah lumbung suara dalam pemilihan umum dengan populasi mencapai 34,71 juta jiwa (BPS, 2020). Penduduk yang memiliki hak pilih mencapai 27,89 juta (Pemilu 2019) atau sekitar 13 persen dari suara nasional. Besarnya kontribusi Jawa Tengah dalam pemilu itu membuat wilayah ini menjadi ajang perebutan suara partai peserta pemilu.

Peta politik sejak pemilu tahun 1955 sampai sekarang, partai berideologi nasionalis memiliki sejarah kemenangan panjang. Pada Pemilu pertama tahun 1955, provinsi ini merupakan basis utama partai nonagama, seperti Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Perolehan suara kedua partai besar ini apabila digabung mencapai 60,8 persen dari total pemilih. Sedangkan gabungan suara partai Islam, Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi), hanya meraih 30,4 persen.

Pada Pemilu 1971-1997, seiring dengan munculnya Presiden Soeharto sebagai penguasa baru, muncul pula kekuatan politik baru yang mendominasi setiap pemilu yang diselenggarakan. Golkar yang didukung penuh oleh penguasa selalu unggul di enam pemilu. Perolehan suaranya berkisar antara 50 hingga 60-an persen.

Pada Pemilu Pertama yang diselenggarakan di era Orde Baru, Pemilu 1971, Golkar langsung meraih separuh suara (50,3 persen). Di kabupaten-kabupaten yang dulunya merupakan kantong-kantong suara PNI dan PKI, seperti Kabupaten Pati, Kabupaten Blora, dan Kabupaten Wonogiri, Golkar mampu meraih suara di atas 70-an persen.

Secara umum, Golkar meraih suara terbanyak di 27 dari 35 kabupaten/kota yang ada di provinsi ini. Faktor kemenangan Golkar, selain didukung penguasa waktu itu, adalah kemunculan program pembangunan sebagai isu yang ditonjolkan organisasi politik ini. Faktor lain yang mendukung adalah pembubaran PKI.

Dalam pemilu selanjutnya, setelah beberapa partai politik digabung (fusi) menjadi dua, yaitu PPP dan PDI, perolehan suara Golkar justru semakin meningkat. Beberapa daerah yang pada Pemilu 1971 suaranya masih kalah dengan partai lain, pada pemilu berikutnya berhasil ditaklukkan.

Sementara itu, PPP dalam setiap pemilu selalu menduduki urutan kedua. Perolehan suara partai Islam ini cenderung terus menurun sejak Pemilu 1971 hingga Pemilu 1987. Namun mulai tahun 1992, suaranya bertambah. Bahkan, beberapa daerah yang ditaklukkan Golkar berhasil kembali direbut PPP. Puncaknya pada Pemilu 1997, seiring munculnya isu “Mega-Bintang”, ketika pendukung PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri memberikan dukungan. PPP berhasil meraih 29 persen suara. Bahkan di Kota Pekalongan, PPP berhasil meraih 59,2 persen.

Pada Pemilu 1999, turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan di negeri ini berpengaruh secara signifikan terhadap merosotnya suara Partai Golkar pada Pemilu 1999 di Jawa Tengah. Partai Golkar hanya mampu meraih 13 persen suara.

Suara terbanyak justru diraih oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Partai ini meraup dukungan masyarakat Jateng hingga 42,8 persen dan unggul di daerah-daerah yang dulunya merupakan basis massa PNI dan PKI.

Dari sisi cakupan, PDI-P unggul di 33 wilayah dari 35 kabupaten/kota di Jateng. Konsentrasi kemenangan PDI-P terpusat di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Karanganyar, Kota Surakarta, dan Wonogiri. Kemenangan ini tidak saja menempatkan PDI-P sebagai partai terkuat di Jateng, tetapi juga menjadikan Jateng sebagai basis terbesar kekuatan PDI-P di Pulau Jawa.

Lima tahun berselang, pada Pemilu 2004, PDI-P masih unggul di Jawa Tengah meski perolehan suaranya turun dari 43 persen pada Pemilu 1999 menjadi 30 persen. Jumlah basis pemilihnya juga berkurang dari 33 menjadi 24 daerah.

Konstelasi politik ini memunculkan Partai Golkar sebagai pemenang di beberapa daerah basis PDI-P pada Pemilu 1999. Perolehan suara Golkar bertambah menjadi 16 persen. Penambahan suara ini seiring dengan penambahan basis pemilih yang tersebar di Kota Salatiga, Kabupaten Rembang, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Banjarnegara.

Pada pemilu 2014, PDI-P masih menguasai Jawa Tengah. Dari 10 dapil di Jawa Tengah, PDI-P unggul di delapan dapil. Di dapil Jawa Tengah I, perolehan suaranya mencapai 516.122 suara. Kemenangan PDI-P juga didapati di dapil Jawa Tengah III dengan perolehan suara 392.472. Sementara di Jawa Tengah IV mendapat 417.714 suara.

PDI-P mencapai angka perolehan suara tertinggi di dapil Jateng V dengan 861.673. Sedangkan di Jawa Tengah VI memperoleh 454.259. Jateng VII PDI-P 300.978. Dua dapil terakhir di Jawa Tengah yang juga dimenangkan PDI-P yakni dapil Jawa Tengah VIII dengan perolehan 487.813 suara dan dapil Jawa Tengah IX dengan perolehan 376.245 suara.

Terakhir pada Pemilu 2019 lalu, PDI-P memperoleh suara secara signifikan. PDI-P unggul dengan perolehan suara 29,7 persen. Di urutan kedua PKB memperoleh suara 14 persen. Kemudian, Golkar di urutan ketiga dengan 12,3 persen suara. Posisi keempat hingga terakhir secara berurutan, yaitu Gerindra, Nasdem, Demokrat, PKS, PPP, PAN, Perindo, Berkarya, PSI, Hanura, Garuda, PBB, dan PKPI.

Dari 77 kursi anggota DPR yang tersedia di seluruh daerah pemilihan di Provinsi Jawa Tengah, partai berlambang banteng itu mampu meraup 26 kursi, diikuti PKB sebanyak 13 kursi.

Pos terkait