“Main”ki Ora Gur Hobi! OMG

  • Whatsapp

Oleh : Rahmat Hakem *)

Memahami mentalitas seorang penjudi, memang tidak bisa digebyah uyah/ digenelarisir. Namun setidaknya pengalaman saya mengenal dengan salah satu pelaku judi ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita, untuk diambil hikmah. Tidak untuk sekedar menghakimi, tetapi paling tidak untuk modal memahami untuk mencari solusi.

Saya memanggilnya Ranto, kalau ndak salah Suranto komplitnya-sebut saja begitu. Lelaki ceking paruh baya berperawakan lumayan tinggi dengan rambut ikal, lebih dekat ke keriting.

Perkenalanku dengannya saat saya membuka usaha desain dan setting komputer di Kartasura sekitar tahun ‘95. Suranto adalah konsumen jasa saya. Saat itu jika seseorang akan bikin kartu nama atau undangan manten, salah satu cara membuatnya adalah di sablon. Setting komputer mengganti masa Rugos dalam soal layout tulisan.

Selain menyablon, Ranto kadang menjual paketan alat tulis di bus antarkota. Satu paket berisi pulpen, pensil, penggaris dan penghapus.

Masih terkenang, jika bicara dengannya pasti menggunakan bahasa Jawa yang halus, kromo, meskipun yang diajak bicara adalah seseorang yang lebih muda darinya.

Satu kebiasaannya yang menurut temannya sulit ditinggalkan dan ini juga diakuinya saat kutanyakan tentang kebiasaannya itu. Kebiasaannya adalah ‘bermain’.

Bermain adalah kata lain dari berjudi. Sembarang judi. Bisa dengan kartu, dadu atau sekadar tebak-tebakan. Pokoknya yang berbau peruntungan. Tempat bermainnya pun bisa di mana saja, di macam arena apa saja.

Pernikahan, akikahan bahkan kematian. Dari pasar malam, pasar pagi atau di tempat yang sudah dikenal untuk ajang perjudian.

Lama kami tidak berjumpa, karena saya memang sudah tidak nyetting dan ndesain lagi. Sekian tahun ndak ketemu, suatu ketika, saat saya dolan ke tempat teman yang dulu juga pelanggan saya, ketemulah saya dengan Ranto. Wajah dan perawakannya tidak berubah. Dan tetap bicara dengan Jawa halus.

Banyak yang kami tanyakan dan obrolkan saat itu. Akhirnya saya tanyakan tentang kebiasaannya yang dulu pernah dilakukannya.

“Kowe yo sih main, Mas saiki..?” Tanyaku.

[Kamu masih suka main]

“Tasih, mas..” Jawabnya sambil membungkus kalender.

[Masih]

“Yen wis dadi hobby ki cen angel ninggalke og, ya..?”

[Kalau sudah jadi hobby itu memang sulit meninggalkan, ya]

“Weh, kulo main niku sanes hobby, Mas.. Benten..!” Jawabnya agak keras.

[Saya main itu bukan hobby, beda]

Saya kaget dengan jawabannya itu, sebab menurutku, kebiasaan yang sulit ditinggalkan seperti hobby bagi seseorang.

“Main niku sanes hobby. Yen hobby niku saged ditinggalke yen pas nembe males utawi yen pas wonten perlu. Kados hobby badminton lan sanesipun. Lha yen kulo main niku mboten saged kulo tinggalke. Wonten duit nggih langsung main, mboten wonten duit mawon kadang malah direwangi utang, je..” jawabnya memberi penjelasan perbedaan hobby dengan kebiasaannya itu.

[Main itu bukan hobby. Hobby itu bisa ditinggalkan jika malas atau pas ada keperluan. Seperti hobby badminton atau lainnya. Kalau saya main itu sulit untuk meninggalkannya. Ada uang ya langsung main, kadang kalau ndak ada uang saja malah hutang]

Duh..

Saya hanya tersenyum lalu diam.

Andai kita bisa seperti dia, tapi kita ubah aktivitasnya, tidak berjudi tapi suatu kebaikan. Kebaikan dipandang dari sudut norma dan agama.

*) ustadz dan pemerhati sosial masyarakat

Tulisan ini telah tayang di laman FB Rahmat Hakem dengan judul Memahami Mentalitas Penjudi, yang ternyata Ini Bukan sekedar Hobby!

Pos terkait