Romo Frans Magnis Suseno: “Kita Umat Katolik dan HRS”

  • Whatsapp

oleh: Supoyo Rahardjo

Romo Frans Magnis Suseno, menyampaikan pandangannya terhadap Habib Rizieq Shihab dalam tulisan berjudul Kita dan HRS. Tulisan itu dimuat dalam rubrik kolom majalah Hidup Katolik.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, sejak kepulangan Habib Rizieq Shihab (HRS) pada tanggal 10 November 2020 setelah berada di Mekkah di Mekkah selama tiga tahun, ribut-ribut seputar beliau tak habis-habis.

Mirip dengan kembalinya Imam Khomeini di Teheran, Iran pada tanggal 1 Pebruari 1979. Terjadi kerumunan puluhan ribu pendukung di Soekarno-Hatta, di depan rumahnya, di jalan ke Megamendung, Bogor.

Baca juga : https://abangijo.com/habib-riziq-shihab-itu-masih-sosok-yang-sama-seperti-yang-dulu/

Selama tiga hari, pemerintah disebutnya diam terkena shok. Akhirnya ada reaksi. Ada pimpinan kepolisian dicabut. Militer menyatakan sikap.

Kemudian Guru Besar Emeritus di STF Driyarkara Jakarta tersebut melontarkan soalan, sebagai umat Katolik, harus bersikap bagaimana?

Romo Magnis memberi arahan bahwa jelas, umat Katolik jangan larut ikut emosi. “Di saat seperti ini kita harus tahu diri, penuh semangat mendukung pelbagai reaksi malah bisa kontraproduktif,” tegas beliau.

“Kita tidak akan menaikkan baliho HRS dan tidak akan menurunkan baliho HRS. Biar tanggapan hukum dan politik ditangani negara. Kepolisian dan TNI tidak perlu tepuk tangan kita.”

Begitu pula dengan persoalan, apakah HRS merupakan fenomena radikalisme agama atau tidak, itu juga bukan urusan umat Katolik. Menurut Romo Magnis, itu urusan internal komunitas Islam Indonesia, biarlah mereka sendiri menyikapi pelbagai perwujudan dalam umat mereka. Ikut ribut-ribut Pak HRS dan FPI, bagi umat Katolik disebutnya sekali lagi, hanya kontraproduktif!

“Yang diharapkan dari kita umat Katolik Indonesia adalah terus membangun hubungan baik dengan umat Islam. Di situ kita perlu mensyukuri toleransi yang kita nikmati.”

Toleransi? Memang, menurut beliau, bisa ada dua tiga paroki yang diganggu perayaan Natalnya. Ada gereja yang tidak bisa dibangun. Setahun paling-paling ada 20 atau 30 kasus intoleransi dalam wilayah seluas 5.000 km lebih, “dari Sabang sampai Merauke”, dengan 270 juta warga! Sedangkan di semua tempat lain – dari Banda Aceh sampai Jayapura – umat-umat kita hidup, berkomunikasi, bekerja dan beribadat tanpa takut! Kita harus mensyukuri toleransi bangsa Indonesia itu!

Baca juga : https://abangijo.com/koalisi-masyarakat-sipil-usut-dan-hentikan-praktik-brutal-dan-extra-judicial-killing-oleh-kepolisian/

Tentu akan selalu ada masalah. Tetapi seharusnya kita mensyukuri integrasi kita umat Katolik dalam masyarakat Indonesia.

Romo Frans Magnis menyitir sejarah. Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, bersahabat dengan Pater van Lith di Muntilan. Para peserta Kongres Pemuda II 1928 –yang melahirkan Sumpah Pemuda- malah mulai pertemuan mereka dalam bangsal milik Pemuda Katolik. Partai Masyumi bersahabat dengan Partai Katolik, PMKRI dengan HMI.

Umat Katolik perlu ingat peran dua sosok luar biasa, Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, dalam membangun jaringan komunikasi dengan kita. Hubungan kita dengan Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah belum pernah sebaik sekarang.

Dengan sikap tahu diri, menghindar dari segala jor-joran, terbuka, positif, dan rendah hati kita mendapat sahabat-sahabat dalam umat Islam yang dapat kita andalkan.

Dan satu hal mesti jelas: pemerintah dapat mengandalkan loyalitas kita. Kita bisa, dan kadang-kadang harus, kritis. Tetapi pemerintah boleh memperhitungkan kita (dan bukanlah pemerintah Jokowi membawa kita secara lumayan bahkan dalam pandemi Covid-19).

Sebaliknya, seruan seperti yang kita dengar sejak Agustus lalu, dan sekarang lagi: ”Ambil Alih Pemerintahan Ke Tangan Rakyat”; “bersama Gerakan KAMI Mari Kita Cabut Mandat Jokowi”; “Mari hancurkan Pemerintahan Oliogarkhi Ini”; “Sudah Saatnya Rakyat Mengambil Alih!” adalah seruan haram dan jahat. Siapa mengangkat Anda untuk menggantikan pemerintah yang dipilih oleh rakyat sendiri?

Baca juga: https://abangijo.com/antara-putin-bidden-dan-hrs-gitu-aja-kok-repot/

Masa depan bangsa Indonesia tidak akan gampang. Krisis Covid-19 akan menuntut perubahan-perubahan yang pasti tetap ada kurbannya. Sumbangan kita adalah agar di Indonesia tetap benar bahwa Bhineka Tunggal Ika, “meski banyak kita bersatu”. Untuk itu kita harus menjadi kawan terpercaya umat-umat lain di Indonesia.

Pos terkait