Kisah Ahli Puasa yang Makamnya Diziarahi Rasulullah dan Sahabat

  • Whatsapp

Oleh Bambang Sidapaksa

abangijo.com Suatu hari Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Beliau dikenal seorang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa. Sudah 20 tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (istiqomah), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati Beliau berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, Beliau masuk Kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. (Baca Juga: Kisah Abu Hurairah dan Kurma yang Tak Pernah Habis )

Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, Beliau wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf. Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan. Alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni.

Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu. Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” tanya Abu Yusuf.

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri. Orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan salat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya.

Di belakangnya, ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belakangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?” tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم . Dua orang tua itu adalah Sayyidina Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Sementara orang tua dan pemuda itu adalah Sayyidina Utsman dan Ali,” jawab sahabat Yusuf itu.

“Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” kata sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?” tanya Abu Yusuf.

“Mereka ingin menziarahiku.”

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah Ta’ala dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun terbangun dari tidurnya. Lalu sejak itu Beliau tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat. Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadis.

Sumber: Kitab An-Nawadir karya Syaikh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi

Puasa Menjadikan Orang Bertaqwa

Al-Quran banyak mengungkap tanda-tanda orang yang bertakwa (Lihat, misalnya: QS al-Baqarah [2]: 3-5. Demikian juga dalam al-Hadits. Begitu pun yang dinyatakan oleh para ulama generasi salafush-shalih.

Menurut al-Hasan, “Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui. Di antaranya: Jujur/benar dalam berbicara. Senantiasa menunaikan amanah. Selalu memenuhi janji. Rendah hati dan tidak sombong. Senantiasa memelihara silaturahmi. Selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin. Memelihara diri dari godaan kaum wanita. Berakhlak mulia. Memiliki ilmu yang luas. Senantiasa ber-taqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Hilm, I/32).

Dengan demikian kita pun sejatinya bertakwa tak hanya saat berada pada bulan Ramadhan saja, yang kebetulan sedang kita jalani, tetapi juga di luar Ramadhan selama sebelas bulan berikutnya. Pertanyaannya: Bagaimana agar kita bisa tetap istiqamah dalam ketakwaan?

Pertama: Kita harus tetap memelihara amalan-amalan rutin Ramadhan. Shaum, shalat, zikir, sedekah, membaca dan mengkaji al-Quran, shalat berjamaah, istighfar, bangun malam, memperbanyak amalan sunnah dan aktivitas lainnya. Semangat untuk taat pada bulan Ramadhan tetap dikobarkan setelah itu. Karena itu semangat dalam mencegah diri dari perbuatan maksiat, keikhlasan, kesabaran, keistiqamahan dan semangat dakwah seharusnya terus menyala meski Ramadhan telah usai.

Kedua: Lebih meningkatkan upaya memahami syariah Allah SWT dengan banyak menghadiri majelis ilmu. Ketiga: Lebih giat berdakwah. Bulan Ramadhan merupakan bulan turunnya al-Quran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Tidak mungkin petunjuk itu sampai bila tidak didakwahkan. Atas dasar inilah dakwah merupakan karakter kaum Mukmin.

Keempat: Terus bertobat dengan tobat yang sebenar-benarnya (tawbatan nashûhâ). Allah SWT memang menjamin untuk mengampuni orang-orang yang benar-benar puasa Ramadhan. Namun, kaum Mukmin tidak akan terlena dengan itu. Mereka tetap bertobat sebagai salah satu karakter orang bertakwa (Lihat: QS Ali Imran [3]: 135).

Kelima: Berusaha selalu hidup di tengah-tengah komunitas masyarakat yang bertakwa. Di sinilah pentingnya ketakwaan kolektif. Ketakwaan semacam ini hanya mungkin terwujud saat kita bersama-sama mengamalkan syariah Islam secara kaffah.

Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat yang berisi nasihat untuk Wahab bin Kisan. Di antaranya dinyatakan, “Sungguh orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri yakni: Sabar dalam menanggung derita. Ridha terhadap qadha’. Mensyukuri nikmat. Merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum al-Quran.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170).

Pos terkait