Kemenangan SBY Budiono Diantara Pesimisme Pilpres 2009

  • Whatsapp
Proyek PNPM di Randublatung

Penulis: Bambang Sidapaksa

Abangijo.com Pada periode kedua pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono, dia berpasangan dengan seorang tekhnokrat ekonom Budiono. Keberanian SBY pada saat itu diluar ekspektasi para pengamat yang memandang politik Indonesia masih terkesan pendekatan tradidional, Jawa luar Jawa, Islam nasionalis dan tradisional atau bahkan pasangan populis dan non populis.

SBY mengambil pilihan diluar pertimbangan itu semua, seorang Budiono yang berlatar belakang Jawa, Ke Islamannya biasa-biasa saja serta cenderung elitis seperti karakter SBY sendiri sehingga kalau toh menang maka akan mendapat dukungan suara yang sangat tipis.

SBY Budiono mendapat 60% suara, Megawati Prabowo memperoleh 25% serta Yusup Kalla Wiranto hanya mendapatkan 12% suara. Artinya SBY Budiono menang mutlak dalam satu kali putaran

Political Marketing

Political Market Berdasarkan    pada    apa    yang dikatakan Schumpeter (1943) “democracy   is   primarily   concerned with  parties”  “Competitive  struggle for   the   people”s   vote”.   Berkaitan dengan  itu,  ada   3 komponen    utama    dalam    modern political  market  diantaranya  : (i).the existence  of  a  mass  electorate,  (ii). Competiton   between   two   or   more partiesfor    the    votesof    this electorate,  dan  (iii).  A  set  of  rules governing    this    competition.

Maka kaitannya   dengan   political   market, hubungan kunci harus didasarkan pada konsep inti dari teori pemasaran, yang pada   umumnya   disebut   pertukaran antara  pembeli  dan  penjual.Sebagai Produsen/penjual adalah partai politik  atau  kontestan  individu  yang menjadi    pihak    penghasil    produk politik.   Sedangkan   pembeli   adalah masyarakat.

Interaksi, proses pertukaran inilah  yang  pada  akhirnya akan membentuk pasar politik. Karena pada    saatsesorang    memberikan suaranya,  tentunya  pemilih  tersebut mempunyai ekspektasi, akan memperoleh    sesuatu    secara    tidak langsung   maupun   langsung   melalui kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan ketika pilihannya memenangkan pemilihan kelak

Marketing Mix

Pertama, Produk yang pada umumnya ditawarkan  oleh  partai  politik  atau seorang    kandidat    pada    dasarnya adalah  sebuah  kebijakan  yang  akan diterapkan    ketika    sebuah    partai politik /kandidat memenangkan pemilihan.

Beberapa karakteristik tentang produk politik,  diantaranya  :  Partai  politik menjual produknya tidak nyata/intangible product, sangat terkait   dengan   system   nilai   (value laden),  didalamnya  melekat  janji  dan harapan akan masa depan, didalamnya terdapat visi yang bersifat atraktif,   kepuasan   yang   dijanjikan tidaklah  segera  dicapai,  tapi  hasilnya lebih   bisa   dinikmati   dalam   jangka panjang,    tidak    pasti    dan    dapat ditafsirkan macam-macam.

Kemenangan SBY-Boediono tidak lepas dari    keberhasilannya    menciptakan produk-produk     melalui     kebijakan-kebijakan   yang   bisa   memberi   rasa puas kepada pemilih,     sehingga loyalitas   pemilih   bisa   terjaga   dari pemilu   2004   samapai   pemilu   2009.  Produk-produk  tersebut  diantaranya, program   Bantuan   Langsung   Tunai, Sertifikasi  Guru  dan  Dosen,Jaminan Kesehatan    bagi    keluarga    miskin,pemberantasan   korupsi, Keamanan yang semakin kondusif dengan selesainya    beberapa    kasus    konflik dibeberapa    daerah.    Produk-produk tersebut   dapat   memenuhi   harapan bagi  para  pemilih  dan  sudah  mulai dapat    dirasakan.   

Sebagai    contoh, dengan  adanya  pengesahan  UU  Guru dan  Dosen  dan  kemudian  dilanjutkan program  sertifikassi, Kedamaian  yang tercipta di   Aceh,   yang   menjadikan terhentinya  segala  bentuk  pertikaian adalah merupakan pencapaian kepuasan   yang   dijanjikan   walaupun membutuhkan proses yang panjang

Kedua, Promotion,    Berkaitan   bahwa tidak jarang  sebuahpartai  politik/kandidat hanya    terjebak    pada    masa-masa menjelang   kampanye   saja.   Padahal promotion    akan    berjalan    efektif apabila dilaksanakan dengan konsisten.Beberapa  hal  yang  perlu dipertimbangkan    ketika    melakukan promosi  adalah  pemilihan  media,  jam

tayang  promosidan  penetrasi  media. Kesinambungan     promotionsangat diperlukan dikarenakan akan berimplikasi   pada brand   awarenessyang akan terus tercipta di benak para pemilih.

Apa  yang  dilakukan  Prabowo yang relatif konsisten dengan melakukan promotion melalui HKTInya akhirnya  membuahkan  hasil,  dengan perolehan partai Gerindra dan Pilpresnya yang relatif cukup mengembirakan, bagi seorang Prabowo  yang  merupakan  pendatang baru.  Hal  ini  berbeda dengan  strategi Promosi  yang dilakukan  SBY.  Sebagai seorang Incumbentdan    memiliki tingkat  Popularitas  dan  elektabilitas yang  relatif  tinggidibanding  calon-calon yang lain, menjadikan SBY lebih leluasa dalam melakukan promosi.

Hal itu   bisa   dilihat   dari   Promosi   yang melibatkan   beberapa   menteri   dari beberapa     departemen     (Mendiknas dengan  iklan  sekolah  Gratis,  Menkes dengan  iklan  Jamkesnasnya,  Mentan dengan   swasembada   berasnya   dan beberapa iklan menteri-menteri lainnya)  ditambah  dengan  iklan-iklan pasangan   SBY-Boediono   yang   cukup artikulatif dan komunikatif serta masif pada saat-saat kampanye.

Ketiga, Price/Harga.Setidak-tidaknya  ada  tiga  komponen  dalam perspektif political   marketingyang berkaitan  dengan  harga.  Niffeneeger  mengatakan bahwa ada tiga komponen    inti    selain    komponen-komponen   lain   dalam   harga.   Mulai dari harga ekonomi, psikologis sampai nasional.   Harga   ekonomi   mencakup semua biaya yang dikeluarkan institusi politik   selama   periode   kampanye. Mulai  dari  biaya  iklan,publikasi,rapat akbar,  sampai  ke  biaya  administrasi pengorganisasian tim kampanye.

Harga  Psikologis  mengacu  pada  harga persepsi  psikologis,  misalnya  apakah pemilih  merasa  nyaman  dengan  latar belakang    etnis,    agama,pendidikan, pekerjaan     dan     lain-lain     seorang kandidat presiden.Harga image nasional   berkaitan   dengan   apakah pemilih   merasa   kandidat   presiden tersebut  bisa  menjadikan  citra  positif

Keempat, Place/Penempatan.Niffenegger     menjelaskan bahwa penempatan/place     berkaitan     erat dengan   cara   hadir   atau   distribusi sebuah institusi politik dan kemampuannya  dalam  berkomunikasi dengan    para    pemilih    atau    calon pemilih. 

Kampanye   politik   memang harus bisa menyentuh segenap lapisan masyarakat.   Hal   ini   bisa   dilakukan dengan  segmentasi  publik.    Berbagai metode  segmentasi  telah  ditawarkan oleh banyak peneliti, namun kesemua metode    tersebut    berangkat    dari sebuah  dasar  bahwa  setiap  individu cenderung    untuk   berinteraksi   dangan berbagai karakteristik.

metode segmentasi diantaranya geografis, demografi, Psikografi, Perilaku,   sosial   budaya   dan   sebab akibat.Indonesia   dengan   geografis yang  sangat  luas,  dan  jumlah  pemilih yang   mendekati   180   juta   pemilih, tersebar  di   33  provinsi   menjadikan metode segmentasi menjadi alat yang cukup   efektif   dan   efesien   dalam menempatkan pasangan/institusi politik    kedalam    benak    180    juta pemilih.   Apa   yang   dilakukan   SBY-Boedionoadalah     bentuk     teknik segmentasi    yang    efektif,    dengan ditambah iklan yang komunikatif.

Pos terkait