Kemenangan Anak Turun Jenar

  • Whatsapp
gambar hanya sebagai ilustrasi

Oleh: Mbah Dharmo

Riuh rendah anak turun  Ki Jenar hampir terjadi di seluruh daratan Jawa Dwipa, bahkan hampir seantero nuswantara. Dikarenakan pemilihan punggawa diadakan secara langsung. Mereka hampir menyabet semua kontestasi.

Bacaan Lainnya

Ya maklum, ajaran Ki Jenar sangat mendarah daging di tanah Jawa Dwipa bagian tengah ini. Bahkan mungkin tanpa pengkaderan khusus, mereka bisa secara alam berkembang biak sendiri. Seperti amuba, merekapun bisa membelah diri. Baik secara struktural maupun kultural.

Sementara anak turun Njeng Sunan Kalijaga, dan kalangan putih lainnya, semakin  mengkhawatirkan. Meski bisa menerima kontenstasi memilih pimpinan wilayah lokal perdikan ini.

“Tenang saja guru, memang di wilayah tengah ini mereka merajai, tetapi di wilayah barat tetap kaum putihan yang merajai, sedangkan wilayah timur kaum Jenarpun tidak seratus persen menguasai,” hibur seorang murid pada seorang Tetua padepokan yang konon merupakan anak turun Njeng Sunan Penjaga Sungai Kearifan itu.

Sesaat kemudian Sang Tetua menjawab dengan terlebih dahulu menarik nafas panjang. “Sebenarnya ini bukan masalah kalah menang semata, tetapi masalah penanaman nilai-nilai kehidupan sangat berpengaruh”, ujarnya.

“Lihatlah kini, apa yang disanjung-sanjung orang sebagai demokrasi itu ternyata tak membikin lebih arif masyarakat kita,” sambungnya.

“Pendek kata mereka malah jadi gampang terbeli…”lanjutnya lagi.

Para murid yang duduk mengelilingi mulai mengangguk faham. “Terbeli oleh Apa Ki?” saut salah satu diantara mereka.

“Terbeli oleh pencitraan, terbeli oleh berita bohong yang diulang-ulang dan yang jelas terbeli oleh pemilik modal!” tandas Sang Tetua.

“Tapi itukan memang sudah manuting zaman Ki?” sanggah mereka.

“Tak ingatkah kalian bahwa seharusnya demokrasi kita adalah perwujudan sila ke 4 Pancasila yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaran Perwakilan… bukan kroyokan seperti kurawa!” ujar Sang Tetua mengingatkan.

“Seperti kurawa ki?” saut mereka.

“Iya… siapa yang paling braok, yang mulutnya paling lebar, dan bisa bersuara dimana-mana, dia akan dianggap benar dan menang!” ujar Sang Tetua.

“Lantas kita harus bagaimana Tetua?” tanya mereka.

“Kita selayaknya harus juga berinstropeksi diri, jangan-jangan dakwah kita belum menyentuh akar persoalan mereka. Kita juga mungkin terlalu angkuh dan terlalu jaga jarak dengan kaum abangan anak turun mbah Jenar.” Ujar Sang Tetua.

“Juga jangan-jangan ketika kita berkuasa, juga sama persis kelakuan kita dengan mereka! Rakus, penuh ambisi dan menghalalkan segala cara. Nepotis, kroyokan dan lain sebagainya. Astagfirullah hal adzim!” tutup Sang Tetua.

Pos terkait