Kemarin Radikalisme, Hari Ini Populisme Islam

  • Whatsapp

Penulis : Bambang Sidapaksa

abangijo.com Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membeberkan beberapa perilaku yang dinilai sebagai cikal pembentukan gerakan populisme Islam di tanah air.

Yaqut menyebut salah satunya adalah intoleransi yang cenderung menimbulkan sikap merasa benar atas apa yang diyakini kelompoknya, sedangkan kelompok berseberangan dinilai salah.

Apa yang dikatakan oleh Menag tersebut cenderung menyederhanakan masalah dan ingin mengatakan bahwa yang disebut dengan populisme islam adalah penganut tekstual, pengguna politik simbolik,berlatar belakang pendidikan umum serta anti kemapanan,

 Populisme Islam sendiri, menurut Yaqut, adalah upaya menggiring nilai agama menjadi sebuah norma konflik yang dikhawatirkan mengganggu tatanan negara.

Sebuah pernyataan yang juga cenderung tendensius  dari redaktur sebuah media besar, Usman Kansong bahwa populisme  Islam ialah politik yang memosisikan umat  berhadaphadapan dengan elite. Populisme Islam mengalami pergeseran dari populisme yang bertujuan mencapai penguasaan ekonomi menjadi populisme yang bertujuan meraih kekuasaan politik. Keduanya dibalut identitas-identitas etnik, ras, dan agama.

Berkaca Dari Populisme Turki

Begitu muncul sebagai pemenang pemilu di TurkiAKP, partai yang dipimpin Recep Tayyip Erdogan,  sudah berkuasa selama 13 tahun.  partai ini membangun aliansi dengan borjuasi nasional, kelas menengah dan civil society.

Partai AKP  sama sekali tidak omong memperjuangkan negara Islam atau demi melindungi umat, sehingga mampu menarik simpati dikalangan masyarakat luas yang selama puluhan tahun kecewa terhadap rejim pemerintahan sekuler Turki.

Pada saat yang bersamaan, kalangan Islam yang ekslusif yang diwakili oleh tokoh Fatuhullah Gulen dengan gerakan tarikatnya dan membangu nlegitimasi social lewet pendidikan dan dakwa semakin ditinggalkan oleh masyarakat Turki

Buat Gulen, untuk merealisasikan gerakan ini tidak terlalu susah karena ia sudah mempunyai jaringan pengikut yang terikat, baik personal maupun ideologi (kesamaan pandang). Jumlah mereka jutaan orang. Tidak mengherankan bila gerakan atau lembaga Gulen kini sudah mempunyai ratusan sekolah dan sejumlah universitas, rumah sakit, radio dan stasiun televisi, kantor berita, bank, perusahaan penerbitan, dan surat kabar. Institusi-institusi ini melibatkan ribuan orang sukarelawan yang digaji secara profesional. Aset lembaga Gulen pada 1999 saja diperkirakan tidak kurang dari 25 miliar dolar AS.

Dari Radikalisme Islam ke Populisme Islam

Profesor riset bidang sosilogi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Turmudzi menilai Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas salah paham soal populisme Islam.

Dia menyebut Yaqut keliru saat mengartikan populisme Islam sebagai upaya menggiring agama menjadi norma konflik. Endang berkata pemahaman itu lebih mendekati definisi radikalisme.

Endang menjelaskan populisme adalah kosakata dalam ilmu politik yang berarti gagasan dari kalangan elite yang memberikan perhatian kepada kepentingan rakyat kecil.

Populisme Islam, bisa dimaknai gagasan yang mengartikulasikan kepentingan umat Islam. Sebagai contohkan politikus yang mencoba menerapkan nilai Islam dalam berpoliti karena kalangan Islam seperti juga kalangan lain memiliki hak menyampaikan aspirasi politiknya.

Ada dua alasan menguatnya populisme islam Pertama, terdapat tren menguatnya populisme kanan di beberapa negara termasuk yang dianggap paling demokratis sekalipun seperti di AS, yang punya amplifikasi di Indonesia. Kedua, adanya fenomena keberhasilan aksi “Bela Islam” dalam memobilisasi massa lintas-kelas yang sangat besar.

sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari perkembangan gerakan Islam belakangan ini, selain rasisme yang terus dikomodifikasi untuk mendulang suara dalam pemilu. Rangkaian aksi “Bela Islam” yang berhasil memobilisasi massa lintas-kelas dalam jumlah besar, tidak serta merta memberi jalan bagi menguatnya populisme Islam di Indonesia

Pertanyaannya, mengapa FPI mendadak mendapat popularitas dari kalangan kelas menengah Muslim yang sebelumnya enggan diasosiakan dengan organisasi tersebut? Banyak pengamat menilai hal itu disebabkan oleh semakin meningkatnya konservatisme Islam atau populisme Islam  di Indonesia. Penjelasan semacam itu mungkin memang tidak bisa diabaikan, tapi apa yang membuat mereka pada akhirnya mengartikulasikan kepentingan politiknya secara lebih terbuka?

Jawabannya barangkali dapat ditemukan pada bagaimana negara pada era Jokowi memperlakukan kelompok Muslim konservatif tersebut. Jokowi memiliki kebijakan yang bertolakbelakang dari presiden sebelumnya, SBY, yang cenderung akomodatif terhadap kelompok Muslim . Artinya, dukungan kelas menengah Muslim konservatif terhadap aksi “Bela Islam”, bukan semata-mata karena faktor individual Rizieq atau FPI, melainkan karena adanya persinggungan berbagai kepentingan baik yang berhubungan dengan kekecewaan terhadap negara atau yang berkaitan dengan kontestasi pilkada.

Tema yang diangkat oleh kalangan populisme Islam ke ranah public tentang korupsi, ketimpangan sosial, utang yang membengkak serta politik uang adalah masalaha yang akan selalu melekat dalam pembicaraan masyarakat hari ini, Negara dianggap abai untuk menyelesaikan tugas tersebut bahkan cenderung semakin parah.

Pos terkait