Jakarta, Ibu Kota Negara: Provinsi Yang Paling Demokratis di Indonesia.

  • Whatsapp

Penulis : Indra Dharma
(Mantan praktisi perbankan dan korporasi, pemerhati politik dan ekonomi)

Sulit dinafikan jika Kota Jakarta dengan usianya yg telah mencapai 473 th menyandang statusnya sebagai Ibukota Negara sejak 17 Agustus 1945 adalah termasuk kota “legendaris” dan sebagai kota bersejarah sejak zaman penjajahan Hindia Belanda (VOC) hingga menginspirasi tokoh2 bangsa memproklamirkan kemerdekaan terbentuknya NKRI.

Lebih jauh lagi, Kota Jakarta termasuk “garda depan” wajah negara demokratis Indonesia yg masuk dalam 3 besar jajaran elite kota metropolitan terbaik yg diakui dunia.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190628081317-4-81252/jakarta-jadi-kota-terbaik-di-dunia-anies-alhamdulillah

Gub-DKI Anies Baswedan yg berpasangan dengan Sandi Uno yang terpilih secara “demokratis” memenangkan suara hampir 57,96 % dari lawan politiknya 42,04% Cagub Ahok/Djarot melalui pemilihan langsung pada Pilgub DKI pada April Th 2017. Beliauw adalah tauladan dari sosok Pemimpin Nasional yg merakyat memiliki integritas, smart, cool dengan kebijakannya yg pro-rakyat, terukur dan applicable.
Dalam kepemimpinannya yg single fighter selama 2 tahun periode Th 2017 sd 2019 tanpa didampingi wagub DKI, beliauw satu2 nya Gub-DKI yg sangat “kontroversial” dan “tangguh” dalam memperoleh hampir lebih dari 50 penghargaan dari dalam dan luar negeri atas kinerjanya sbg Gub-DKI.
.
Disebut sebagai Gub DKI yg “kontroversial” karena sejak awal kepemimpinannya Th 2017, terus mendapat serangan dan hujatan dalam bentuk fitnah, hoax dari para hater kelompok Ahoker/Jokower sbg buzzerRp yg masih sakit hati karena kekalahan junjungannya Ahok/Djarot dlm Pilgub DKI Th 2017.

Kemudiah disebut sebagai Gub-DKI yg sangat “tangguh”, karena hujatan dan bullyan para hater terhadap Anies Baswedan tsb. yg diduga dibiaya oleh pihak “rantai kekuasaan oligarki” khususnya dari para 9 Naga Taipan yg “rugi bandar” dari proyek Reklamasi Teluk Jakarta, beliauw tidak bergeming sedikitpun dalam membuktikan kinerjanya yg berhasil memperoleh puluhan penghargaan yg dipersembahkan kepada rakyat Indonesia khususnya warga Jakarta.

Namun harus diakui pula kekurangangan nya dalam penanggulangan virus Covid-19, Prop.DKI termasuk yang tertinggi dibanding Propinsi lainnya di Indonesia, baik dalam jumlah penduduk yg terinfeksi, meninggal dan sembuh dampak Covid-19, merupakan manifestasi situasi “anomali” dengan upaya keras Pemda DKI yg focus dalam penyelamatan nyawa anak bangsa khususnya bagi warga Jakarta dan sekitarnya dengan melakukan test PCR di Jakarta yg melampaui standard minimal WHO.
Sudah menjadi kewajiban bagi segenap warga Jakarta termasuk para hater yg kufur nikmat untuk mendukung himbauan Gub-DKI dan Presiden Jokowi untuk patuh dan disiplin dalam melakukan protokol kesehatan Covid-19 tanpa syarat sebagai wujud terima kasih kepada Gub-DKI Anies Baswedan.

Beliauw dengan segala kekurangan dan kelebihannya, mensyukuri atas nikmat dan barokah yg diberikan Allah swt kepada Kota Jakarta dan tetap berusah istiqomah atas amanat yg diberikan warga Jakarta untuk menjadikan Jakarta sebagai Ibukota Negara #MajuKotanya dan #BahagiaWarganya.
Clear and clean dan fakta2 tsb. diatas sulit untuk dibantah.

BPS telah merilis Index Demokrasi Indonesia (IDI) Th 2019 pada tgl 5 Agustus 2020 untuk Propinsi DKI sbg Ibukota Negara, ber-turut2 dari score 75,43 (2017) naik 8,43 point menjadi 85,08 (2018) dan terus naik 3,21 point menjadi 88,29 (2019) atau meningkat 3,21 point. Ini berarti Kota Jakarta dengan kepemimpinan Gub-DKI Anies Baswedan, mampu meningkatkan suasana lingkungan yg paling demokratis bagi kehidupan sosial dan kemasyarakatan segenap warga Jakarta, meski dalam situasi kebatinan warganya yg masih ada sisa2 yg terbelah.

Dari sisi demografi, populasi penduduk Jakarta yg jumlahnya mencapai 10,57 jiwa pada akhir Th 2018, termasuk kelompok masyarakat heterogen yg mayoritas nya umat Islam (-/+ 84%), merepresentasikan etnis dan budaya seluruh Indonesia.

Yang menarik dari IDI Jakarta tsb. pada komponen “keyakinan beragama” mendapat score 100, artinya jika diukur dengan skala 1 – 100, maka IDI untuk Jakarta tsb. dinilai “sangat sempurna”. Ini bisa diartikan bahwa stigma negatif yg dibentuk oleh BuzzerRp Denny Siregar, Abu Janda dan their gangs adalah bentuk “kebohongan publik” terbesar sepanjang sejarah di Republik ini, analog dengan faham Komunis (PKI) sbg pembela Pancasila yg memusuhi umat Islam dengan keyakinan Ahlulsunnah Waljamaah, berhasil dipatahkan seiring berjalannya waktu. Ternyata dampak Covid-19 terhadap ekonomi khususnya kondisi korporasi dari 9 Naga Taipan yg anjlog mendalam, berdampak positip dengan berkurangnya kekaduhan dari hujatan2 dan bullyan kepada Anies Baswedan akibat dukungan logistik yang terhenti.

Lalu apa yg bisa ditarik kesimpulan dari data dan bukti empiris BPS tsb. terhadap fenomena dari leadership style Gub-DKI Anies Baswedan sbg sosok Pemimpin Nasional panutan ?

Intinya bahwa Profesionalitas yg berintegritas, kejujuran, konsistensi dan sikap mengayomi yang adil dengan kebijakan yg pro rakyat menjadi keniscayaan yg mutlak harus dimiliki bagi sosok Pemimpin Nasional panutan.
Sejatinya, bahwa Kebohongan dan kepalsuan tidak mampu melawan kebenaran yg hakiki.

Jakarta, 7 Agustus 2020

Oleh : Indra Dharma
(Mantan praktisi perbankan dan korporasi, pemerhati politik dan ekonomi)

Pos terkait