Hoax dan Kisah Sabdo Palon, Tokoh Mistis Rekayasa Belanda

  • Whatsapp

Oleh :Bambang Sidapaksa

Kisah Sabdo Palon, Naya Genggong Tiwikromo banyak dibicarakan orang tepat sesaat setelah Gunung Merapi beraktivitas erupsi 5 kali dalam jangka waktu tiga hari. Muncul narasi, Sabdo Palon akan menagih janji karena tahun 2020 ini, tepat 500 tahun penasehat Prabu Brawijaya V ini muksa di Gunung Lawu.

Sesuai janjinya, Sabdo Palon akan datang kembali setelah 500 tahun untuk mengembalikan masa kejayaan yang dahulu diraih bersama Kerajaan Majapahit.  Saat dimana ilmu budi menjadi yang utama sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa. Harapan yang kental dengan pandangan mistik masih tumbuh subur hingga hari ini.

Kajian ilmiah dari sudut pandang sejarah, bagaimana memandang kisah Sabdo Palon sesungguhnya tersebut?

Berdasarkan penelitian Sejarawan Drs.Agus Sunyoto, selepas penangkapan Pangeran Diponegoro, kolonial Belanda membuat strategi baru yaitu melalui perang ideologi dengan cara memanipulasi sejarah.

Salah seorang jaksa bernama Mas Ngabehi Purwowijoyo, diberi tugas membikin Babad Kediri, yang di dalamnya Sunan Bonang, Sunan Giri dijelek-jelekkan, dan dikatakan bahwa Dakwah Islam dianggap telah merusak tatanan masyarakat.

Dari Babad Kediri ini, lahirlah naskah-naskah baru buatan Belanda yang cenderung mendiskreditkan Wali Songo dan Dakwah Islam, diantaranya adalah Serat Darmogandul, Serat Syekh Siti Jenar dan Kronik Klenteng Sam Po Kong.

Sabdo Palon Tokoh Fiktif

Dalam Naskah Serat Darmogandul, diceritakan setelah konflik Majapahit dengan Demak, atas saran Sunan Kalijaga meminta Prabu Brawijaya untuk masuk Islam. Pengislaman Prabu Brawijaya, mendapat penolakan dari abdi Sang Raja, yang bernama Sabda Palon dan Noyo Genggong.

Sebelum pergi Sabdo Palon bersumpah, setelah 500 tahun tanah Jawa akan memunculkan kembali seorang Satria yang menjadi momongannya. Sang Satria ini akan membawa kembali kemakmuran dan kejayaan bangsa Jawa Nusantara dan akan mengusung kembali ajaran Budi.

Perginya Sabdo Palon ditandai suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” atau tahun 1400 saka (1478 Masehi). Melalui penyelusuran naskah-naskah kuno, Sejarawan Agus Sunyoto berpendapat Serat Darmogandul dengan tokohnya Sabda Palon dan Noyo Genggong, merupakan cerita fiktif belaka.

Nama Sabda Palon dan Noyo Genggong, sama sekali tidak ditemukan dalam naskah-naskah kuno di era Majapahit, bahkan peristiwa tahun 1478 Masehi, bukanlah pertempuran antara Demak dengan Majapahit, melainkan peperangan sesama kerabat Majapahit, yakni antara Suraprabhawa dan Samarawijaya

Pos terkait