Gara-gara Covid, Kena Parkinson?

  • Whatsapp

oleh: Supoyo Rahardjo

abangijo.com. Sebagian besar orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 tidak merasakan gejala apa-apa (OTG). Sisanya mengalami gejala umum berupa demam 37,8 C, batuk kering, dan kelelahan. Juga merasakan gejala lain seperti rasa nyeri tidak nyaman pada tenggorok, hilangnya indera perasa dan penciuman, mata merah, sakit kepala, diare, ruam kulit, atau perubahan warna jari tangan kaki.

Bacaan Lainnya

SARS-CoV-2 hanya mati oleh antibodi. Dunia membutuhkan vaksin. Saat ini belum ada, masih dalam tahap uji. Sangat beresiko bagi yang imunitasnya lemah, seperti kelompok orang tua dan komorbid. Angka kematian yang menimpa mereka 90% lebih. Namun di luar dua kelompok ini, mesti tetap waspada. 10% itu bisa menyasar siapa saja.

Per 5 oktober ini, SARS-CoV-2 telah menginfeksi 35,3 juta orang sedunia, di 216 negara. 1,04 juta orang di antaranya meninggal. Fatality ratenya 2,9%. Di Indonesia, 307.120 orang telah terinfeksi dengan 11.253 orang di antaranya meninggal (3,66%). Lebih tinggi dari dunia.

Covid-19 merenggut banyak nyawa tenaga kesehatan. Mereka pahlawan kita hari ini. Sampai 29 September kemarin, Tim Mitigasi PB IDI mencatat 228 tenaga kesehatan yang meninggal. Angka yang menyayat. Tertinggi di Asia. Istana harus sangat khawatir, mengingat mereka merupakan bagian inti dari sistem kesehatan nasional.

Baca juga: https://abangijo.com/rem-darurat-diinjak-pidato-presiden-uganda-viral-lagi/

Kerusakan Organ dan Kematian

Umumnya SARS-CoV-2 menginfeksi saluran pernapasan. Namun para dokter juga melihat bukti terjadinya peradangan pada jantung dan ginjal. Dilaporkan 50% pasien covid-19 yang dirawat di rumah-rumah sakit, terkandung darah atau protein dalam urinnya. Ini kerusakan ginjal dini.

Kerusakan multiorgan tersebut disebabkan oleh badai sitokin. Saat SARS-CoV-2 masuk, sel darah putih memproduksi sitokin. Sitokin bergerak ke jaringan paru, berikatan dengan reseptor untuk memicu peradangan. Kemudian sitokin  mengirim sinyal undangan kepada sel-sel kekebalan untuk membunuh SARS-CoV-2 pada lokasi peradangan.

Normalnya, sitokin pensiun saat sel-sel kekebalan tiba. Dalam kasus badai sitokin, secara tak terkendali ia mengirim terus sinyal undangan. Akibatnya sel-sel kekebalan terus menerus membanjiri lokasi. Masalahnya, over pasukan ini bukan hanya membunuh SARS-CoV-2, namun juga merusak jaringan paru.

Efeknya bisa menurunkan kemampuan/kapasitas paru dalam memompa O2 ke seluruh tubuh. Dapat menyebabkan kegagalan organ lain. Istilahnya multiple organ dysfunction syndrom (MODS). Bisa berujung kematian. Bila selamat, pasien masih harus berjuang, karena terancam oleh penyakit degeneratif lainnya.

Degenerasi organ paru sudah pasti. Laporan dari Wuhan, selepas covid-19, sebagian pasien mengalami degenerasi organ ginjal, sehingga harus mengalami cuci darah rutin. Juga dilaporkan degenerasi organ-organ lain seperti liver, jantung, organ cerna, syaraf dan lain-lain. Bila terjadi degenerasi otak, kita bisa mengalami alzhemier, vertigo, migrain, atau parkinson.

Baca juga: https://abangijo.com/foto-ronsen-pasien-covid-berlafadh-allah/

Dilema Penanganan Covid-19

20 Oktober 2019, Presiden Jokowi dilantik. Kerja politik presiden kali ini sukses besar. Prabowo justru bergabung. Oposisi parlemen mengempisa, sisa 10% kurang, tinggal satu fraksi yang tidak signifikan. Tampaknya presiden sangat memerlukan stabilitas politik yang tinggi untuk bisa menggenjot sektor ekonomi. Karena selama jilid pertama, pertumbuhan mentok di 5%. Gigi satu sukses (politik), siap pindah ke gigi dua (ekonomi).

Belum juga melangkah, covid-19 datang. Muncul di Wuhan saat perayaan tahun baru 2020. Lockdown diberlakukan, pintu kota dijaga militer. Warga panik, bertumbangan di jalan-jalan, bertumpuk di rumah sakit. Meski disebut lemah dan berdaya bunuh rendah, namun laju penularannya sangat cepat.

Vaksin belum ada. Obat masih meraba. Bila laju penularan tidak terkendali, bisa melumpuhkan system pelayanan kesehatan. Tiongkok terpaksa membangun rumah sakit darurat 1600 bed yang selesai hanya dalam waktu dua pekan.

Bagaimana bila virus itu sampai ke Indonesia? Antisipasi mitigasinya. Idealnya lockdown, tapi sangat mahal. Meski menjadi lebih mudah dalam menetapkan tahapan,  target, dan tenggat waktunya.

Kondisi ekonomi yang kekurangan, cenderung menurun, dan terancam resesi, tidak mendukung pemerintah untuk memilih cara itu. UU 6/2018 menyebutnya dengan istilah karantina wilayah. Bila memilih herd immunity, pasti akan dinilai sebagai tidak bertanggung jawab. 

Baca juga: https://abangijo.com/covid-19-dan-resesi-ekonomi/

gambar hanya ilustrasi

Kena Parkinson

Yang terlihat, respon pemerintah biasa-biasa saja. Cara-caranya dalam menangani covid-19 ini seperti mengidap penyakit birokrasi bernama Parkinson. Menilik dua indikator, yaitu soal tenggat waktu dan pembentukan banyak tim ad hoc covid-19.

Tenggat waktu penanganan. Saat covid-19 muncul, pejabat kita di istana membuat lelucuan yang tidak perlu. Menyebut tidak bisa masuk di Indonesia. Covid-19 tidak tahan dengan panas tropis Indonesia. Orang sehat tidak perlu masker, hanya yang sakit saja.

Di saat umumnya negara-negara lain menutup pintu masuknya, presiden kita mengambilnya sebagai peluang pariwisata. Presiden meminta untuk memberikan diskon kepada wisatawan manca.

Sampai saat presiden mengumumkan kasus pertama pada tanggal 2 Maret. Seorang ibu (64) di Depok terinfeksi dari anak perempuannya (34). Si anak tertular dari warga Jepang saat valentin 14 Februari di Jakarta. Menurut para epidemolog UI, covid-19 sudah masuk pada pecan ketiga Januari. Karena saat itu telah ada laporan orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP).

Pemerintah tidak memberlakukan karantina. Presiden memilih istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang bersifat lokal. Tercatat DKI memberlakukannya pada awal April. Diperpanjang tiga kali. Disambung PSBB transisi sepanjang lima kali. Belum tuntas PSBB, istana memberlakukan new normal.Naas, kasus covid-19 justru tembus angka 200.000. Tuas rem darurat PSBB ditarik DKI, diulang secara ketat lagi. Makin panjang lagi.

Indikator pembentukan tim-tim ad hoc. Presiden membentuk tim-tim ad hoc untuk menangani covid-19. Membentuk Satgas Penanganan Covid-19 yang diketuai Doni Monardo. Di daerah-daerah juga dibentuk Gugus Tugas Penanganan Covid-19.

Membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang diketuai Airlangga Hartarto. Struktur di bawahnya ada Komite Pelaksana (Erick Tohir), Satgas PEN (wakil menteri BUMN), serta Satgas Covid-19 (Doni Monardo). Tercatat Erick Tohir rajin mencari vaksin ke Tiongkok bersama Biofarma.

Juga membentuk Tim Ad Hoc Vaksin yang dipimpin Menristek. Saat yang sama, Lembaga Penelitian Mikrobiologi Eijkman juga sedang menguji vaksin covid-19 bernama vaksin merah putih.

Baca juga: https://abangijo.com/putri-putin-meninggal-akibat-ujicoba-vaksin-covid/

Puncaknya, 14 September lalu, membuat tim ad hoc baru yang dipimpin Luhut Panjaitan dan Doni Monardo. Bertugas mengendalikan wabah covid-19 di sembilan provinsi. Target kerjanya dua pekan, menurunkan kasus harian, angka kematian, serta meningkatkan angka kesembuhan.

Satu sisi seolah seperti sibuk menangani corona, namun pemerintah juga tak henti membuat masalah pemberatnya. Yang terupdate, pemerintah Jokowi tetap ngotot melaksanakan pilkada. Juga memaksakan disahkannya UU omnibus law cipta lapangan kerja. Kerumunan kampanye, demonstrasi penolakan UU, bakal menjadi klaster baru yang luar biasa.

Bila klaster-klaster baru betulan terjadi, entah ad hoc-ad hoc apa lagi yang esok akan dibentuk. Pemerintah Jokowi akan mengalami parkinson sungguhan (dokter James Parkinson 1817). Gejala umumnya makin tremor, arah gerak makin tidak terkontrol, makin kaku, dan makin lamban saja.

Kaidah Parkinson

Diutarakan oleh DR. Northcote Parkinson (1957). Dia menjelaskan tentang penyakit umum organisasi birokrasi dalam menangani sebuah masalah, yaitu pekerjaan berkembang sesuai dengan waktu yang tersedia untuk melakukannya. Bukannya segera bekerja secara efisien namun tiap atasan justru cenderung memperbanyak bawahan atau membentuk badan-badan baru untuk mengerjakan persoalan tadi.

Nusier Yassin dalam video pendeknya menggambarkan secara sederhana begini. Apa yang akan kita lakukan bila memiliki tenggat waktu selama 10 jam untuk membuat sepucuk surat? Ada banyak, misalnya berkeliling memilih kertas, memilih pulpen, memilih amplop, mencari tempat yang bagus untuk menulis, memilih kata pertama, memilih kata-kata mutiara sebagai akhirnya, mandi dahulu sebelum menulis dan lain-lain. Bukan karena kurang kerjaan dan malas, namun karena waktu yang tersedia memang panjang.

Namun, apa yang terjadi bila tenggat waktunya hanya sebanyak 10 menit. Tiba-tiba jadi ringkas. Semua sumberdaya akan diforsir untuk menyelesaikan surat itu. Selesai juga. 10 jam atau 10 menit menghasilkan produk yang sama, yaitu sepucuk surat.

Keadaan yang pertama itulah yang terjadi di banyak birokrasi pemerintahan. Seperti itulah yang kita lihat saat ini. Alih-alih memberdayakan kementrian kesehatan dan badan-badan kesehatan terkait, namun justru membuat tim-tim ad hoc baru yang semua instrument regulasi, garis perintah, anggaran dan lain-lainnya masih baru.

Efektif efisien? Belum tentu. Kalo makin tambun dan obesitas? Iya. Apalagi yang dihadapi wabah dunia yang belum bisa diprediksi kapan tenggat waktu berakhirnya.

baca juga: https://abangijo.com/sawanan-makhluk-astral-dan-jamunya/

Pos terkait