Final Uero tahun 2020, antara sejarah vs Tradisi Juara

  • Whatsapp

Penulis; Bambang Sidapaksa

abangijo.com -Final piala eropa kali ini akan mempertemukan Inggris dengan Italia setelah kedua team melewati babak sebelumnya. Sebagaian besar pengamat bola sudah pasti memasukkan Italia sebagai salah satu team yang akan memperebutkan piala Eropa kali ini tetapi tidak dengan kesebelasan Inggris.

Begitu Inggris membuktikan dirinya mampu mencapai final dengan mengalahkan kesebelasan Denmark melalui score 2-1 maka para pemain inggris mencari cara untuk membangkitkan semangat pertandingan final kali ini.

Hery Keane, salah seorang striker team Inggris, menemukan kenangan sejarah piala dunia tahun 1966 ketiak Tree lions merebut piala dunia. Pemain Timnas Inggris, Harry Kane, ingin mengikuti jejak pendahulunya, Bobby Moore. Pemain 27 tahun itu ingin mengangkat trofi sebagai kapten The Three Lions.

Moore merupakan kapten Inggris saat menjuarai Piala Dunia 1966. Kala itu, Tim Tiga Singa menang atas Jerman Barat di pertandingan final.

Berselang 55 tahun, Inggris kembali lolos ke final turnamen mayor. Kali ini, Euro 2020 yang menjadi ajangnya.

Terasa aneh memang bagi tradisi sepak bola Inggris yang hanya memiliki sejarah tahun 60 jika dibandingkan dengan prestasi klub klub bola Inggris di daratan Eropa. Cacatan cemerlang dibuat oleh Liverpool, Menchesetr United, Chealsea, Arsenal maupun Menchester City.

Bahkan Southgeat pelatih Inggrispun memberikan pernyataan yang emosional bahwa menegaskan para pemain ingin membuat sejarah penting yang tidak terlupakan. Kami ingin menciptakan kenangan bagi bangsa kami. Para pemain muda berpikir selalu seperti ini,” katanya

Berbeda dengan Italia yang secara mental sudah pernah menjuarai piala Eropa dan piala dunia beberapa kali. Artinya secara tradisi, kesebelasan Italia memiliki mental juara yang lebih unggul.

Roberto Mancini hanya berfokus pada bagaimana menjalankan taktik disetiap pertandingan dan tahu memaksimalkan kemampuan pemain yang diasuhnya sehingga akan memberikan segalanya dilapangan.

Italia terlalu sering tampil di final dalam sebuah kejuaraan sehingga yang paling menentukan adalah taktik serta mental juara dalam sebuah team. “Kami tak bermain seperti biasa, tetapi berjuang sengit dan tahu cara menderita.”

Ungkapan yang sama pada saat Italia mengalahkan Spayol di semi final, yang lebih menekankan soal taktik brmain bola.

“Kami tahu dari awal kalau Spanyol adalah penguasa possession. Jadi, mereka menciptakan banyak masalah bagi kami. Namun, kami harus beradaptasi dan bekerja keras.

Pos terkait