Figur Leadership dan Kemenangan SBY di Kota SemarangTahun  2009

  • Whatsapp

Penulis: Bambang Sidapaksa

Abangijo.com Figur seorang pemimpin dan kepemimpinannya memiliki pengaruh positif terhadap kemenangan suatu partai politik tertentu dalam pemilihan umum. strategi ini yang digunakan oleh Partai Demokrat Kota Semarang sebagai pendobrak perolehan suara pada pemilu legislatif

2009. Tak bisa ditolak bahwa figur seorang SBY mempunyai peran sentral dalam kemenangan partai yang baru dua kali mengikuti pemilu ini.

Caleg-caleg Partai Demokrat hanya merupakan “mesin politik” partai telah bekerja secara optimal, tetapi tak bisa disangkal bahwa figur SBY-lah yang menjadi kekuatan utama yang digunakan Partai Demokrat

Pertama, Menurut kebanyakan masyarakat SBY dianggap top leader di Indonesia waktu itu, yang memiliki kharisma yang sejajar dengan pemimpinpemimpin pendahulunya, seperti Soekarno dan Soeharto. Sehingga membangkitkan kepercayaannya terhadap figur SBY sebagai pemimpin selanjutnya yang mampu mengadakan perubahan diberbagai sektor

Pandangan lain di masyarakat adalah   sosok SBY yang pertama kali mencalonkan diri, masyarakat menganggap SBY dapat dapat mejadi pemimpin yang beda dengan calon yang lain, mampu memperhatikan masyarakat, mengayomi masyarakat, menjadi panutan dan kejenuhan dengan calon yang itu-itu saja.

Waktu muncul SBY masyarakat banyak yang beralih ke figur Ketua Dewan Pertimbangan, yang adalah Presiden SBY, telah banyak membuktikan sebagai Pemimpin benevolent.

Pemimpin benevolent merupakan konsep pemimpin yang pemurah, baik hati serta pelindung bagi masyarakatnya. Sehingga pada gilirannya masyarakat harus patuh, tunduk, setia serta taat kepada penguasa

Kedua, Popularitas SBY.  Figur SBY dapat dikatakan telah menghegemoni masyarakat pemilih bahkan secara luas serta lintas batas (geografis, agama maupun aliran ideologis). Dalam pandangan Gramscian Sebagaimana diperkenalkan  bahwa hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan kekuasaan,melainkan hubungan persetujuan dengan menggunakan kepemimpinan dan ideologis.

Selama periode pertama kepemimpinannya SBY telah mampu melalui tahapan atau fase hegemoni sebagaimana yang dirumuskan oleh Gramsci, yaitu kesadaran yang melampaui batas-batas kepentinganindividu maupun kelompoknya untuk turut mengangkat kepentingankepentingan kelompok sosial lain yang lebih rendah.

Hal ini dilakukannya melalui penyelenggaraan kebijakan-kebijakan populis yang  seolah memihak kepada masyarakat kecil, wong cilik. Seperti misalnya melalui penurunan harga BBM sebanyak tiga kali, pencairan dana BLT untuk masyarakat yang kurang mampu, Program BOS untuk anak-anak sekolah dari SD sampai SMP, dan PNPM Mandiri ditujukan untuk setiap daerah yang masih kekurangan dalam hal sarana dan prasana yang belum memadai seperti perbaikan jalan, sumur untuk air bersih atau PDAM dan Jamkesmas secara tidak langsung masyarakat terpengaruh dan tertarik dengan program tersebut yang mereka anggap bisa membantu dalam ehidupan mereka nantinya. Untuk kelompok-kelompok kelas menengah pengusaha,

SBY pada periode pertama pemerintahannya dikenal sangat consern membangun serta meningkatkan stabilitas iklim investasi sehingga tak ayal dituding sebagai neolib.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, hal-hal tersebut di atas sesungguhnya mencerminkan bahwa secara perlahan SBY telah memasuki fase hegemonik terhadap berbagai kelompok masyarakat.

Fase hegemonik ini mensyarakatkan adanya keseimbangan antara kekuatan (power) dengan penerimaan publik . Masyarakat merasa cukup puas terhadap kepemimpinan SBY pada periode pertamanya Kemampuan hegemonik inilah yang kemudian menjadi daya dorong bagi Partai Demokrat untuk menjaring pemilih, termasuk para pemilih di Kota Semarang.

Ketiga, Pencitraan para caleg. Pencitraan tidak hanya dari SBY semata, tetapi pencitraan juga ditunjukkan oleh calon legislatif (caleg) Partai Demokrat Kota Semarang.

Pencitran yang dilakukan caleg tidak sama dengan yang dilakukan SBY, caleg dalam melakukan pencitraan dilakukan di daerah pemilihanya,  yaitu dilingkup dapil mereka mencalonkan diri.

Pencitraan yang baik merupakan langkah awal yang diutamakan dalam diri setiap caleg Partai Demokrat Kota Semarang yaitu melakukan pendekatan-pendekatan langsung ke masyarakat dengan bersikap terbuka terhadap masyarakat seperti halnya mengutamakan silaturahmi terhadap masyarakat, sopan santun dan adat istiadat yang baik.

Kegiatan yang ada di lingkungan masyarakat seperti (rapat RT atau RW atau perkumpulan warga), mnghadiri pengajian yang diselenggarakan masyarakat, membantu warga masyarakat yang sedang mengalami masalah seperti pembangunan jalan, membantu warga masyarakat yang mengalami kesusahan dalam mempermudah pembiayaan administrasi di rumah sakit(jamkesmas), serta kegiatan sosial dan ikut atau mengahiri kegiatan yang ada dimasyarakat.

Dengan pendekatan yang dilakukan caleg tersebut melalui kegiatan yang dilakukanya diharapkan warga dapat mengenal caleg tersebut dan mendapatkan simpati yang nantinya bermanfaat untuk caleg pada waktu pemilhan umum dan kemungkinan warga masyarakat memberikan dukungan suara dalam pemilu legislatif nantinya.

Selama berinteraksi dengan masyarakat, caleg disarankan untuk menjaga sopan santun, akhlak mulia dan memelihara image yang selama ini dibangun, semua itu dapat diterima dalam masyarakat walaupun hanya berjumlah sedikit.

Figur pemimpin yang baik merupakan modal yang utama untukbisa cepat dikenal oleh masyarakat seperti halnya SBY yang banyak masyarakat menganggap SBY dapat mejadi pemimpin yang beda dengan

calon yang lain, mampu memperhatikan masyarakat, mengayomi masyarakat, menjadi panutan dan kejenuhan masyarakat dengan calon yang itu-itu saja.

Jadi masyarakat banyak yang beralih ke SBY dan didukung oleh figur caleg dengan program-programnya yang memperhatikan dan membantu masyarakat, hal tersebut merupakan modal awal untuk mendapatkan simpati dari masyarakat.

Dengan kegiatan tersebut yang dilakukan Partai Demokrat melalui calegnya yang bertujuan untuk meraih dukungan seluas-luasnya dari masyarakat dan terbukti dengan melonjaknya suara Partai Demokrat menjadi partai perolehan suara mayoritas dan menjadi pemenang dalam pemilu legislative tahun 2009 di Kota Semarang

Pos terkait