Demokrasi Di Republik Wayang

  • Whatsapp

Oleh Joni Jane Jono

Akhir-akhir ini ada adegan Anies Baswedan Gubernur DKI yang sedang membaca buku How Democracy Die. Ada wacana yang tersirat di dalam adegan tersebut karena ada indikasi kecenderungan kematian demokrasi.

Bacaan Lainnya

Tulisan ini tidak akan membahas adegan Gubernur DKI tersebut, tapi ingin menulis tentang pentingnya demokrasi di tengah-tengah masyarakat yang beraneka latar belakang yang justru sebenarnya telah ada dalam karya leluhur, wayang kulit.

Dua Karakter yang Berseberangan

Apakah nilai-nilai demokrasi sudah ada di masyarakat? Kita coba lihat pelajaran demokrasi yang ada di akar budaya pewayangan. Sebenarnya kalau kita melihat pertunjukan wayang kulit penonton disuguhi tata letak wayang dan panggung permainan.

Di sebelah kanan (dalang dan penonton), berjajar tokoh-tokoh yang mewakili rakyat berkarakter kanan (hal-hal yang bagus/ideal). Profil, wajah, gestur, dan perawakan tokoh-tokoh yang di sebelah kanan ini gagah, ganteng, eye cacthing, dan indah-indah. Tentunya profil tokoh-tokoh sebelah kanan ini katanya untuk mewakili karakter ksatria, resi, begawan, orang baik, penyabar, dan idola.

Sebaliknya tokoh-tokoh di sebelah kiri (dalang dan penonton) adalah profil-profil antagonis, tentunya wujud dan gesturnya berpawakan raksasa (buto), menakutkan, serem, dan jelek karena untuk mengejawantahkan karakter antagonis seperti amarah (angkara murka), serakah, bengis, kejam, dan nafsuiyah.

Kedua wujudiah kanan dan kiri seperti yang diulas di atas, menggambarkan thesis dan antithesis atau pertentangan kepentingan yang diwujudkan dalam tata letak posisi berdiri, di mana yang sebelah kanan berseberangan dengan sebelah kiri. Kebetulan adat ketimuran, memposisikan yang kanan kebetulan yang baik dan yang kiri yang kurang baik.

Tata letak tokoh dalam pertunjukkan wayang kulit saling memunggungi

Demokrasi Wayang

Walaupun ada kekuatan yang saling berseberangan dan bertolak belakang di antara kelompok pewayangan seperti yang diwujudkan dalam posisi berdiri di atas debok (pohon pisang), tapi jika diamati ada perilaku obyektivitas dalam menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.

Pertama, wujud Obyektivitas dan Ketidakberpihakan sebagai ciri demokrasi hidup dapat dilihat dari cara berdiri kedua tokoh tersebut saling membelakangi area tanding.

Yang paling menarik dari pelajaran demokrasi pewayangan adalah tidak adanya keberpihakan pada tokoh-tokoh yang sedang berargumen, berkonflik, dan bertarung di arena pertandingan atau medan perang dari tokoh-tokoh kedua belah pihak. Hal ini diwujudkan oleh posisi tokoh-tokoh di dua kutub tersebut yang justru membelakangi arena pertandingan.

Tidak bisa membayangkan kalau tokoh-tokoh kedua kubu ini menghadap ke area tanding, pasti dalang semakin bingung karena masing-masing tokoh dari dua kubu akan ikut campur karena melihat tokoh-tokoh sealiran sedang tanding apalagi sedang mengalami kekalahan pasti akan langsung ikut campur memihak.

Kedua, tokoh yang ikut andil dalam konflik jika hanya dikehendaki atau sesuai peran. Jikalaupun ada tokoh yang andil dalam lakon yang sedang tayang, maka keterlibatan tokoh itu pun sebatas perannya. Tokoh utama tetap mendapatkan porsi prioritas.

Ketiga, dalang berusaha duduk di tengah-tengah antara tokoh yang konflik. Posisi dalang sebagai pihak yang sebenarnya paling memiliki peran memainkan lakon, tetap berusaha memerankan sesauai alur sehingga narasi dan alur cerita sesuai lakon yang dimainkan.

Keempat, ada irama gamelan yang singkron terhadap fluktuasi konflik. Irama gamelan dan nyanyian mengiringi fluktuasi konflik lakon secara harmoni dan singkron sehingga tidak merusak suasana lakon yang sedang tanding.

Realitas Demokrasi

Cara berdiri yang membelakangi panggung permainan dalam wayang sebenarnya dimaksudkan oleh para leluhur agar masing-masing pihak tidak menggunakan kekuasaan dan wewenangnya sewenang-wenang agar tata aturan hidup berdemokrasi terjaga.

Sebenarnya, leluhur bisa saja memposisikan wayang yang saling berseberangan saling berhadapan tatap muka dan menghadap arena permainan tapi tidak dilakukan karena leluhur tidak ingin mengajarkan cara main kekuasaan dengan cara saling head to head sehingga campur tangan masing-masing tumpang tindih dan merusak keharmonisan berwarga negara.

Demokrasi sebenarnya sudah diwariskan oleh leluhur agar kita sebagai generasi sekarang bisa meneladani lakon cerita pewayangan yang mengandung nilai-nilai luhur demokrasi bangsa asli bangsa Indonesia.

Pos terkait