Dan Jenarpun Bermaen Gaple

  • Whatsapp

Oleh: Ki Bayu Samudra

Abangijo.com. “Benar Lie, aku benar-benar ikhlas”, kataku. “Apanya boss?. Tanya Ali dari ujung telepon. “Ini ada teman yang tiba-tiba bawakan mie goreng untukku”. “Lumayan buat PAW, panganan antar waktu, sore ini”, jawabku. ”Semprul”, gerutu Ali.

Ndobos dengan Ali memang menarik. Tak ada bosennya. Sejak dulu ketika masih sering bikin acara pendobosan bersama para penghuni mess beberapa tahun silam, Ali selalu punya bahan untuk dilemparkan ke forum. Lalu teman-teman dengan semangat menghabisi atau mengimbuhi tema itu hingga besar dan tak ada juntrungnya.

”Kali ini ada tema yang paling spektakuler”, kata Ali. Anak-anak mess sudah siap dengan ndomblongnya (tertegun) menyongsong kalimat-kalimat Ali yang mengalir dari bibirnya yang agak monyong itu.

“Besok adalah malam terakhir kebersamaan kita dengan Ki Bayu. Tak ada salahnya kita kuliti kesalahan dan kekurangannya, supaya menjadi bahan renungan atau bahan ejekan di tempat yang baru, menurutmu apanya?”

“Sesuatu dari Bayu yang menarik untuk dibahas? Irengnya? Gaya ndobosnya yang sok filosof, atau gaya pukulan badmintonnya yang tak pernah dijumpai dalam teori perbulutangkisan?” tanya Ali kepada Sulkan.

“Bagaimana kalo ngoroknya?” Sulkan memberikan masukan. “Karena kita kita selalu mengalami kesulitan tidur nyenyak jika Bayu sudah nggor (istilah untuk ngorok) duluan”, lanjutnya.

”Jangan!” sanggah Yanto, “Ada yang lebih parah, yaitu kebiasaan lupanya yang sudah diluar kewajaran, masa ujian lupa, makan lupa, pinjam sepeda motor lupa, pasti kalo ngutang juga lupa”. Lalu semua kekuranganku menjadi panganan yang bikin kenyang, untuk dibahas dan diketawakan.

“Kamu mesti ikhlas bos, supaya dosamu berkurang, kebaikanmu bertambah. Lagi pula kapan lagi kita punya kesempatan berbuat baik, mengingatkanmu dari kesalahan yang semakin hari semakin banyak kau lakukan. Jika Tuhan memberi maafpun bukan karena kamu sadar melainkan karena dia maha pengasih lho bro!” Kata gus Ali meneruskan fatwa munyuk-nya dan anak-anak tak bisa berhenti ketawa.

Sebenarnya Ali bukan bagian dari gang gaple di mess. Mungkin ia memang profil kiai mesjid, tangannya tak pernah menyentuh barang yang bisa dikonotasikan atau mengarah pada bentuk perjudian. Meskipun aku tahu persis, secara fiqhiyah Ali tak akan melarang anak-anak maen gaple.

Sementara aku sendiri, meski sering dengar ceramah gus Ali dan juga aktif mengikuti ceramah ustadz Agus yang anggota jamaah salafi itu, adalah pegiat aktif geng gaple. Geng ini sengaja aku biarkan menyala, menjadi bagian indah dari mosaik pikiran-pikiran yang berkembang di mess.

Bersama mas Tikno, Misnadi dan terkadang Sulkhan, dan tentu saja Sayfull alias kebak omong, aku adalah penggaple ulung yang jarang bisa dikalahkan. “Segala sesuatu harus kita niati ibadah“. Kataku. Maka sembari tangan membanting kartu gaple tak ada salahnya bibir mengucap takbir, hingga mengalir ke hati. “Apakah boleh begitu gus Ali?” tanyaku. Gus ali terkekeh kekeh.

Ustadz Agus yang mendengar pertanyaanku tampak gusar. Bagi ustadz Agus dan geng salafnya, tak boleh mencampur adukkan antara yang haq dan yang batil.

“Takbir itu tindakan yang haq sedang judi itu tindakan yang batil”, sergahnya.

“Tapi ini kan tidak judi ustadz Agus, kita kan Cuma maen-maen dengan kartu gaple tanpa taruhan, tak ada yang dirugikan”, sahutku.

”Segala sesuatu yang tak ada manfaatnya harus dibuang. Lagi pula aku kuwatir tindakan itu bisa disamakan dengan judi”, sahutnya lagi.

Waduh malaekatnya Agus ini kayanya tak sehebat malaekatku, batinku. Masa dia kagak bisa bedain judi dan maen gaple. Aku hanya diam. Tak ingin terlibat perdebatan lebih hebat lagi.

Malam ketika bulan menyala sempurna di atas laut utara Pulau Jawa, adalah malam saat para pengagum Jenar (Sekh Siti Jenar) berkumpul di sebuah tempat yang lokasinya di sekitar perbatasan Kudus Jepara. Asik masyuk ngobrol bicara ngalor-ngidul tanpa ujung pangkal. Ya politik, ya agama, budaya hingga bisnis lele dumbo.

Di pojok ruang yang hanya berbatas tembok bata setinggi satu meter itu aku melihat Misnadi dan Tikno terlibat perbincangan ringan dengan beberapa koleganya. Aku dan Sulkan yang datang sebagai tamu tanpa undangan, tak kuasa menahan rasa kantuk yang tak segera mendapatkan saluran. Baru sekitar lima menit yang lalu Sulkan berhasil menyalakan raungan dari bibirnya yang setengah terbuka dengan mata tertutup rapat. Tentu dia tengah bermimpi ketemu Ayuda sang pujaan yang kelak jadi teman hidupnya.

Dengan mata yang sangat berat aku masih mendengarkan kisah yang mengalir dari bibir pak Ripto tentang Werkudoro saat melaksanakan perintah dewata menemui Dewa Ruci. Juga tentang ajaran ajaran sufi yang termuat dalam kisah itu. Meski sarat dengan rasa kantuk yang mengikat mata, tapi masih tersimpan rapi pada ingatanku mengenai tiga tahapan ajaran sufi yang disampaikan oleh guru ngajiku di kampung. Takholli, Tahalli lalu Tajalli. Maka cerita Dewa Ruci ini menjadi simpul-simpul yang menyimpan banyak nilai untuk bekal hidup manusia.

Begitulah hidup, ketika lahir manusia memiliki sifat fitri lalu ketika ia sibuk dengan urusan urusan yang mengikatnya, maka sifat fitrinya terganggu.

Manusia harus melepaskan diri dari ikatan-ikatan itu, mengosongkannya sehingga tak ada lagi yang bisa mengikatnya. Tak berhenti di situ karena ia harus kembali mengikatkan diri lagi, bukan pada yang lain melainkan pada sesuatu yang memang hanya satu-satunya yang pantas dijadikan pengikat.

Dinamika apapun yang dijalani oleh manusia, sehebat maupun sekerdil apapun dia, ujungnya dia akan kembali menghadap padanya baik sukarela maupun terpaksa, melaporkan apa yang telah ia lakukan kepada sang atasan.

Dan malam itu adalah malam ke sekian aku mendengarkan pernik-pernik cerita mengenai Jenar, tokoh legenda yang banyak dipuja, juga banyak dicela. Aku bahkan membayangkan bagaimana suatu ketika bisa bermaen gaple bersama Jenar.

Pos terkait