Cinta Dan Politik

  • Whatsapp

Penulis: Achmad A.A Madjid, Editor Tabloid Politik dan Hukum

abangijo.com-Cinta tak musti dimiliki oleh mereka yang muda. Ia bisa datang tiba-tiba pada mereka yang sudah tua. Mungkin cinta yang belum pernah mereka rasakan selagi muda dan tiba-tiba ia merasakannya saat bertemu dengan seseorang yang ia dambakan di usia yang telah senja. Tiba-tiba ada hasrat, degup dan dunia menjadi berbeda. Kadang indah, kadang kelabu, kadang biru, namun tetap saja indah.
Cinta bisa berarti pula adalah gairah, untuk memiliki dan menyatu, untuk saling mendukung satu dengan yang lain. Untuk hidup berdampingan dan menyelesaikan hari-hari secara bersama, meniadakan perbedaan. Mengubah prinsip, kebiasaan dan karakter untuk dilebur menjadi sebuah sekutu mengarungi waktu.
Bukan cinta nampaknya bila ia harus mengamati, melihat-lihat dahulu, menimbang dan kemudian memutuskan. Cinta itu tiba-tiba, walau harus menunggu, walau tak tentu ia kapan datangnya dan kapan ia setuju. Cinta adalah pengorbanan, atas waktu yang hilang, yang walau ia harus menunggu,
ia tetap merasakan gairah.
Filsafat Jawa yang menyebut ‘witing tresno jalaran seko kulino’ (datangnya tresno disebabkan karena kebiasaan), bukanlah filsafat tentang cinta. Tresno bukanlah cinta, tresno adalah suka, seneng, mengasihi dan menyayangi. Ia bukan cinta yang menggebu, bukan perasaan yang sejati tentang
hati.
Sebuah rumah tangga yang dibangun karena landasan cinta, adalah rumah tangga yang bisa jadi bakal kekal. Demikian pula bila rumah tangga dibangun dengan landasan tresno, ia bisa juga lebih kekal. Orang Jawa memang kadang suka ‘mbulet’ bila bertarung perihal hati.


Pergulatan beberapa partai politik menjelang hajatan Pilpres (2024), nampaknya banyak menumbuhkan cinta yang datang tiba-tiba. Tiba-tiba Demokrat dan Nasdem bersekutu dengan PKS. Sedikit berbeda memang secara ideology, namun entah mengapa mereka ‘jatuh cinta’ pada sosok yang sama, Anies Baswedan.
Cinta ketiganya nampak berbeda, seperti Nasdem yang ‘cinta mati’ pada Anies. Nasdem menyerahkan segala sesuatunya pada sosok yang selama 5 tahun terakhir berkutat dengan warga Jakarta. Anies memiliki pesona, visi, langkah yang taktikal, ethos yang baik, pribadi yang menyenangkan dan yang
pasti narasi serta referensi kelas internasional. Ia secara grafik, memuaskan lebih dari 80% warga Jakarta. Cukup sebagai bukti ‘sahih’ keberhasilan seorang Anies.
PKS dan Demokrat memiliki sejarahnya sendiri. Ada sedikit ‘ganjalan’ secara batiniah, bila wapres dipilih dari PKS. Sebagai partai berbasis Islam moderat, bisa jadi Wapres dari PKS agak mengganjal untuk ditawarkan dibasis Islam cultural. Cinta kadang perlu menimbang, demi keberhasilan sebuah hubungan.
Sementara Demokrat juga sedikit ‘memaksa’ menawarkan pangeran yang masih muda. Mungkin cukup mempesona bagi sebagian masyarakat di wilayah Timur Jawa, sebab ia berasal dari kultur wilayah Mataraman. Namun pesona tidaklah cukup memikat, perlu pengalaman dan daya jelajah
yang luas.
Tiga partai di atas, bisa jadi telah menggambarkan rumitnya ‘percintaan’ di kancah politik. Namun lebih rumit lagi melihat kisah cinta partai dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB), yakni Golkar, PAN dan PPP. Apakah yang menyatukan tiga partai ini? Ideology bukan, rasa cinta juga nampaknya tidak,
lalu apa? Kekuasaan? Mungkin… Deklarasi yang tergesa, tanpa konsep jelas tentang masa depan koalisi.
Nampaknya 2 ‘partai tua’, Golkar dan PPP belum cukup puas berada dalam koalisi pemerintahan. ‘Ranjang rezim’ nampaknya terlalu sempit untuk ditiduri dengan pulas oleh koalisi rezim Jokowi. Berebut kursi menteri, yang katanya akan dijadikan Kabinet ramping, namun ada sekitar 24 wakil menteri
yang akhirnya harus ‘memuaskan’ sayap-sayap kemenangan presiden terpilih.
Koalisi ini, nampak kebingungan karena belum memiliki profil yang mumpuni untuk dicalonkan. Sementara ada calon, ia berada di kandang lain, yang juga kebingungan mencari rumah untuk memulai persentuhan. Sementara di arus grass root, banyak memiliki cinta yang lain. Cinta yang kebingungan,
seringkali akan menyesatkan. Tak punya arah, masa depan dan bisa jadi kelak akan berpisah.
Dan cinta Gerindra kepada PKB, adalah sesuatu yang ideal sebenarnya untuk diwujudkan. Hanya 2 partai, dan sedikitnya cukup cocok untuk melanjutkan ke ‘ranjang perkawinan’. Berbeda secara ideologis, bukan berarti tidak cocok. Nasionalis bisa dipadukan dalam gelembung Islam Cultural, keduanya
memiliki landasan yang baik bila dilihat dari basis massa. Sayangnya, chemistry keduanya tidak terlalu padu. Nampak sekali bila kedua pimpinan Parpol itu terlalu bernafsu menjadi presiden dan wapres.
Anda bisa melihat track record pencalonan Prabowo sebagai Capres, berapa kali ia mengikuti Pilpres baik sebagai Capres maupun Cawapres. Mungkin dalam diri Prabowo sudah ada stempel Capres abadi.
Sementara dalam diri Cak Imin, anda juga bisa mengukur, betapa partikel dalam tubuhnya memiliki semangat juang yang tinggi untuk duduk sebagai orang nomor 1 atau 2 di negeri ini. Setiap pagelaran Pilpres, anda bisa melihat betapa baliho-baliho Cak Imin selalu berubah-rubah tagline dan nama dirinya. Cak Imin, Gus AMI, Muhaimin, macem-macem… Cinta sejenis ini, yang terlalu menggebu, dikhawatirkan akan melahirkan penyakit ‘lemah syahwat’, koyok yak-yak’ooo…
Hmmmm, bagaimana dengan partai banteng? Selalu, karena merasa besar, ia tak beranjak dari kesendirian. Ia merasa mampu tanpa pasangan, ia mandiri, bahkan bila ia harus menjadi penguasa tunggal. Politik tak memandang cinta, karena ia lahir di tengah rahim kekuasaan.
Namun, sayangnya sang putri tak cukup mampu memberikan hatinya kepada anak-anak negeri kebanyakan. Ia eksklusif, hanya milik wong cilik, sebuah strata yang hanya diucapkan demi kekuasaan. Selebihnya, wong cilik akan dilupakan, ditinggalkan dan hanya masuk dalam angka dan grafik di
kantor kementrian, kantor kecamatan dan kelurahan.
Ini cinta yang ‘salah tingkah’. Sebagai partai besar, PDIP terlalu gengsi untuk menyapa sesama parpol. Di sisi lain, parpol lain memiliki sekat jarak yang menumbuhkan rasa kurang percaya diri untuk mendekat. Apa daya, profil yang ditawarkan terlalu minimalis dari berbagai survey dan menjadi harga mati. Sayang, partai wong cilik terlalu melambung tinggi, tak punya cinta. Takutnya, kelak ia berada di ranjang sendirian dan onani sendiri…
Ciaooo…
Penulis adalah editor di Tabloid Politik dan Hukum, beralamat di

Pos terkait