Budiman Soejatmiko, politisi dan Proyek Bukit Algoritma

  • Whatsapp

Oleh : Bambang Sidapaksa

abangijo.com Sebagai politisi partai wong cilik yang aktif di gedung Senayan, langkah Budiman Soejatmiko sudah  terlalu berlebihan.  Tidak bisa membedakan peran dan fungsi poilitisi dan pengambil kebijakan. Kasus pembangunan bukit algoritma adalah campur aduknya peran politisi dan pengambil kebijakan pada dirinya seorang.

Langkah yang dilakukan oleh Budiman seperti pengusaha  terasa kurang transparan, dari soal penentuan lokasi, siapa vendor yang dibawa dan siapa yang mendanai disisi lain, cara bak seorang pengambil kebijakan  dengan cara melibatkan  lembaga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dia ajukan serta besaran dana hingga mencapai Rp 18 triliyun.

Rencana pembangunan pusat riset bernama Bukit Algoritma di Kabupaten Sukabumi dengan konsep meniru Silicon Valley di Amerika Serikat mengemuka. Namun, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengingatkan agar proyek itu tidak hanya menjadi gimik atau alat menarik perhatian semata.

Menurut Ridwan Kamil, kawasan Silicon Valley yang ada di Santa Clara Valley, bagian selatan Bay Area, San Fransisco bisa berkembang baik karena memiliki tiga faktor pendukung utama. Ketiganya yakni berkumpulnya universitas yang di dalamnya terdapat periset, lalu industri pendukung yang mendukung inovasi, serta ada institusi finansial.

Pria yang akrab disapa Emil ini juga meminta pengembang atau orang yang terlibat dalam pembangunannya berhati-hati menggunakan istilah Silicon Valley. “Tapi kalau bisa membuktikan tiga komponen itu hadir, ada universitas riset, ada industri yang mengambil riset jadi barang atau jadi inovasi, dan ada pembiayaannya atau angel investor,” kata dia.

“Niatnya saya respons, saya dukung, tapi hati-hati kepada semua orang yang dikit-dikit bilang mau bikin Silicon Valley,” ucap Emil

Diragukan karena kecilnya dana Riset

Salah satu indikator yang paling mudah dilihat adalah minimnya pengeluaran riset Indonesia setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Lembaga Knowledge Sector Indonesia (KSI) mencatat sepanjang 2000-2013, belanja untuk keperluan riset dan pengembangan atau (R&D) hanya setara 0,07% dari PDB.

 Angka ini merupakan salah satu yang terendah di Asia dan seantero G20. Tren ini tidak berubah banyak sampai 2018. Data UNESCO Institute for Statistics (UIS) mencatat porsi belanja riset Indonesia tetap minim, yaitu di angka 0,22% PDB. Nilai ini jauh lebih rendah dari India yang mengalokaskan 0,65% dari PDB, Malaysia 1,04%, Thailand 1%, dan Vietnam 0,52%. Nilai ini juga jauh di bawah Amerika Serikat yang Silion Valley-nya akan ditiru. Belanja riset AS mencapai 2,7% PDB pada 2013 dan 2,83% pada 2018.

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda menilai tren belanja R&D itu telah menunjukkan betapa stagnannya perkembangan riset-inovasi di Indonesia. Dari minimnya belanja R&D itu saja, menurutnya rencana mengulang keberhasilan Silicon Valley AS merupakan target yang terlampau berlebihan.

 “Nampaknya ‘Silicon Valley’ yang akan dibangun merupakan sebuah langkah keliru jika mengabaikan berbagai data mengenai kinerja R&D Indonesia yang masih sangat buruk,” ucap Nailul kepada reporter Tirto, Selasa (13/4/2021). Sejalan dengan belanja riset, Nailul menambahkan mayoritas industri di Indonesia masih belum memproduksi barang berteknologi tinggi. Bank Dunia mencatat ekspor barang berteknologi tinggi RI per 2018 hanya 8% dari total ekspor manufaktur.

Sebagai pembanding, Vietnam 41,4%, Thailand 23,3%, bahkan Malaysia mampu mencapai 52,8%. Andai standar dilonggarkan dengan memasukkan pula ekspor barang berteknologi menengah, posisi Indonesia juga sama buruknya. Pada 2017 porsinya hanya 28,1% dari total ekspor manufaktur, di bawah Thailand 63,8%, Malaysia 63,4%, dan Vietnam 51,3%.

Dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM), Indonesia juga punya banyak pekerjaan rumah. Data UIS mencatat jumlah periset Indonesia berbanding 1 juta penduduk juga jadi salah satu yang paling rendah. Per 2017-2018, jumlahnya hanya 244 per 1 juta penduduk. Bandingkan dengan Pakistan 487, India 408, Cina 3.068, Singapura 7.976, Malaysia 2.656, Thailand 2.003, dan Vietnam 895.

Banyak Orang Pintar, Internet Kencang

Pakar teknologi informatika, Onno W. Purbo menyatakan rencana membangun ‘Silicon Valley’ di Bukit Algoritma Sukabumi merupakan hal yang bagus. Namun, dia mengingatkan tempat tersebut bukan sesuatu yang sangat diperlukan.

“Kalau di dunia IT dan kreatif sebetulnya tempat itu enggak critical. Yang penting ada banyak orang pintar dan kreatif, plus punya sambungan internet yang kencang,” ujar Onno kepada CNNIndonesia.com, Selasa (13/4).

Onno menuturkan orang pandai dan internet yang kencang merupakan hal yang sangat diperlukan dalam dunia TI. Sehingga, lokasi tidak akan berguna tanpa hal itu.

Lebih lanjut, Onno enggan berkomentar perihal urgensi ‘Silicon Valley’ di Indonesia hingga peleburan Kemenristek. Dia memandang hal itu merupakan hak Presiden Joko Widodo.

Dia hanya mengingatkan pemerintah harus mampu insentif hingga ekosistem agar orang kreatif bisa kerja dengan nyaman dan baik.

“Mau berbentuk BRIN, DIKNAS dan lain-lain saya sih gak terlalu peduli,” ujarnya.

Di sisi lain, Onno W. Purbo  mengakui Indonesia kekurangan orang yang benar-benar memahami Artificial intelligence (AI), serta membuat AI dari awal. Saat ini, dia bari melihat segelintir perusahaan yang memahami AI seperti Nodeflux hingga Drone Emprit.

“Cuma kita perlu lebih banyak lagi deh kayanya. Kuncinya dosen dan kurikulum di perguruan tinggi harus banyak di upgrade sih. Karena kunci AI adalah orang yang pintar, bukan punya mesin yang canggih,” ujar Onno.

Onno menambahkan pemerintah sebaiknya memperbaiki kualitas sumber daya manusia, regulasi, lokasi, hingga pendidikan sebelum bicara soal big data hingga keamanan siber.

Lebih dari itu, dia yakin ‘Silicon Valley’ di Indonesia yang akan diwujudkan dalam bentuk Bukit Algoritma di Sukabumi akan diminati jika didukung dengan regulasi yang jelas dan keberadaan orang pandai.

“Kalau orang pinter tidak ada dan aturan atau ekosistem kurang mendukung, ya susah,” ujarnya.

Pos terkait