Bencana Alam dan Mitologi Orang Jawa

  • Whatsapp

Oleh: Bambang Sidapaksa

abangijo.com. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.925 bencana alam terjadi di tanah air selama 2020. Jumlah ini terhitung sejak Rabu 1 Januari hingga hari ini, Selasa 29 Desember 2020.

Berdasarkan data BNPB, bencana yang mendominasi adalah bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Memasuki bulan Januari tahun 2021, msyarakat dikejutkan dengan musibah jatuhnya pesawat terus berlanjut dengan banjir di sekitaran Pantura, gempa di Sulbar, banjir seluruh kabupaten Kalimantan Selatan, dan longsor di Bogor.

Mitologi Yang Semakin Hilang

Biasanya, masyarakat Jawa selalu menghubungkan peristiwa besar alam dengan mitologi. Namun apa karena datangnya yang bertubi-tubi sehingga hilanglah “rasa mitologis” dalam merespon bencana alam tersebut. Apalagi kemudian campur-baur dengan peristiwa sosial dan politik, semakin hilanglah pengetahuan mitologis itu.

Orang Jawa terkenal dengan budaya intuitif dalam memaknai peristiwa sehari-hari, sehingga dalam mengambil keputusan unsur-unsur mitologis selalu mengemuka.

Kita dibentuk sejarah kerajaan-kerajaan di masa lalu yang pengaruhnya masih dapat dirasakan hingga kini. Dalam kacamata mitos, seorang pemimpin di samping memperoleh legitimasi politik dan mandat dari rakyat, juga harus mendapat “restu” dari dunia lain.

Maklum, sebelum ditemukan sarana-sarana modern, mitos menjadi salah satu cara manusia membaca gejala-gejala alam dan menghubungkan dengan perilaku manusia. Mitos pulalah yang ikut membentuk sejarah.

Gejala alam menjadi penanda dalam peristiwa penting kehidupan di masa lalu. Jamak dilakukan masyarakat, terutama di Jawa, ketika terjadi bencana dikaitkan dengan peristiwa masa lalu dan masa mendatang.

Terhadap peristiwa masa lalu, bencana dikaitkan dengan perilaku menyimpang yang pernah dilakukan nenek moyang sehingga generasi sekarang harus menanggung sanksi atau karma.

Sementara itu, terhadap masa mendatang, mitos menjadi peringatan agar manusia lebih berhati- hati dalam bertindak. Dalam kacamata mitos, jatuhnya korban dipandang sebagai tumbal atau silih atas dukungan yang diberikan.

Mitologi bencana adalah pengetahuan yang dikembangkan manusia untuk memahami sebuah fenomena, tafsir atau simbol. Mitos bencana semakin kuat terjadi di masyarakat karena kita dibentuk dalam kebudayaan yang suka mengembangkan mitos. Sekalipun kita sudah hidup di alam modern, mitos masih dipercaya.

Bahkan, Mochtar Lubis (1974) menyebut salah satu ciri bangsa ini ialah percaya kepada mitos. Mitos kerap dilekatkan dengan tafsir politik, terutama memahami kekuasaan. Tentu tidak ada yang keliru ketika sebagian orang menghubungkan mitos bencana dengan kekuasaan yang ada sekarang.

Dalam kacamata mitos, tafsir atas bencana bisa beragam, baik positif maupun negatif. Secara negatif bencana dapat diartikan sebagai reaksi penolakan alam atas hadirnya seorang pemimpin. Dalam kacamata itu hadirnya pemimpin kurang disukai alam sehingga bereaksi.

Untuk mendapat dukungan atau mandat dari dunia lain diperlukan serangkaian bencana untuk dijadikan tumbal. Rakyat kerap dipandang sebagai korban yang empuk untuk dijadikan tumbal kekuasaan.

Makin banyak korban yang jatuh maka legitimasi kepemimpinan kian kuat. Kisah tentang tumbal manusia untuk mendapatkan kejayaan sudah kerap kita baca di zaman kerajaan-kerajaan pada masa lalu.

Seorang pemimpin dalam kosmologi mitos harus mendapat legitimasi dari dunia nyata dan dunia lain. Makin banyak tumbal yang jatuh, makin jayalah seorang pemimpin. Maka banyaknya korban yang jatuh kerap diartikan kehendak dari penguasa lain untuk memberikan restu.

Tafsir mitos bencana semakin kerap berkembang dalam masyarakat yang dilanda kepenatan karena beragam persoalan. Situasi sulit karena sulitnya lapangan pekerjaan, kemiskinan, pengangguran membuat orang mudah terjebak dalam cara pikir picik yang percaya kepada mitos. Ini sejalan dengan cara pandang masyarakat ketika menghadapi situasi sulit lari ke dunia supranatural.

Di pihak lain, mitos dapat bermakna kearifan lokal yang perlu terus dilestarikan. Masih adanya kepercayaan kepada mitos membuat orang lebih arif dan berhati-hati dalam bertindak. Dengan banyaknya bencana, mitigasi bencana menjadi keharusan dikembangkan untuk menekan jatuhnya banyak korban.

”Karma” alam yang terjadi direspons dengan kesiapsiagaan kepada bencana. Kuatnya mitigasi bencana mendorong pemerintah lebih selektif dalam memberikan izin mendirikan bangunan maupun menyusun tata ruang pemukiman yang lebih layak.

Bangunan-bangunan perumahan semestinya dibangun dengan memperhitungkan ketahanan terhadap gempa. Bangunan juga lebih ramah dan tahan terhadap guncangan gempa.

Justru adanya mitos kian memperkuat pemerintah dengan program pencegahan agar jatuhnya korban yang banyak dapat dihindari. Untuk mengikis mitos bencana, pemerintah harus dapat membuktikan bahwa mereka bekerja keras untuk rakyat.

Rakyat jangan dibiarkan mengembangkan mitosnya sendiri yang dapat menggerus legitimasi pemerintah.  Mitos bencana dapat diretas dengan kesungguhan dan kerja keras pemerintah terhadap bencana yang bertubi-tubi. Agar rakyat tidak mengembangkan mitosnya sendiri maka kesigapan dalam menangani bencana sangat diperlukan.  

Ini penting agar rakyat tidak merasa dijadikan tumbal atas proses politik nasional yang tengah berlangsung. Pemerintah harus menyadari sepenuhnya bahwa bencana demi bencana yang terjadi harus direspons dengan sigap. Bencana harus dikelola dengan semangat pelayanan agar rakyat tidak mengembangkan pikiran sendiri bahwa bencana yang terjadi adalah tumbal kekuasaan. Atau sengaja dibuat untuk mempertahankan atau membangun kekuasaan baru. Bencana justru dapat diubah menjadi energi untuk melayani rakyat.

Pos terkait