Belanjalah Di Warung Tetangga! Itu Mengamalkan Sila Ke lima Pancasila looh..

  • Whatsapp

Oleh Mbah Dharmo Kondo

‌Belanjahlah di Warung Tetangga!! Slogan ini nampaknya sederhana saja. Tetapi sesungguhnya sarat makna keadilan dan pemeratakan ekonomi.

Betapa tidak, di kala semua area dikuasai oleh jejaring toko modern, yang tentunya hanya menguntungkan owner alias pemilik modalnya saja. Sementara warung atau toko rakyat, yang rata-rata milik pribadi dari rakyat jelata asli indonesia, tinggal menunggu waktu kematiannya.

Toko yang dikelola mandiri masyarakat yang dahulu kala eksis menyediakan kebutuhan tetangga kiri kanannya, kini hanya menjadi pilihan terakhir ketika toko modern sudah tutup ataupun tidak menyediakan dagangan yang kita cari. Ironis memang.

‌Melihat kenyataan ini, memang tidak bisa lepas dari kebijakan pasar bebas. Ibarat mengadu harimau lawan kucingpun tidak, tetapi hanya melawan kelinci kecil nan lemah. Maka sang hariamaupun tinggal sesukanya, kapan mau menghabisi sambil mengaumkan kemenangan atas dominasinya… Grrrg…

“Lho tapikan toko modern menyerap banyak karyawan bro?” Debat seorang kawan. Menurut hitungan, kewajiban membayar gaji karyawan itu nggak seberapa, bila dibandingkan dengan keuntungan bos-bos jejaring toko modern itu. Tidak hanya pertahun atau perbulan, tetapi perhari perjam bahkan permenit perdetik. Kok bisa?

Ya lihat saja berapa jumlah toko, jumlah kasir seluruh indonesia, lantas hitunglah kira-kira antrian orang mau bayar pembeliannya. Permenit perdetik sudah pasti keuntungan mengalir ke rekening pribadi. Sementara warung tetangga kita masih menggunakan logika memancing di sungai, kadang dapat kadang zonk ! Heem sadis

Lantas apa yang mesti kita perbuat? Apakah kita akan menyerah menunggu nasib yang tidak berpihak pada kita wong cilik itu? Tentu jawabanya tidak. Paling tidak ada tiga hal yang mesti diatur dan dibenahi.

Pertama tentang regulasi atau aturan perundang-udangan. Ini adalah ranah pemerintah. Pemerintah harus tegas mengatur keberadaan toko modern agar tidak secara masif merebut pasar dari warung rakyat kecil. Apa bisa? Bisa!

Beberapa kabupaten dengan perdanya ada yang dengan tegas melarang, ada yang membolehkan tapi bersyarat misalnya dagangannya sekian persen harus produk lokal. Atau ada juga perda yang mewajibkan jika jejering toko modern itu masuk dia harus kerjasama dengan KUD atau warung yang dikelola masyarakat setempat dan dengan nama toko setempat.

Kedua, faktor warungnya itu sendiri. Mau tidak mau kehadiran toko modern adalah challange/tantangan. Maka paling tidak kita harus bisa mengimbangi. Kita tetap bisa mengambil contoh yang baik dari toko modern.

Semisal penataan toko yang rapi, ber-Ac, warna warni teratur. Lampu cerah. Dan menggunakan mesin kasir yang memadai. Kemudian juga yang lebih utama, peningkatan sumber daya manusia yang mengelola.

Sudah saatnya sarjana, orang orang terdidik, baik langsung maupun tidak, ikut membenahi warung rakyat kita ini. Syukur-syukur orang terdidik ini adalah pemilik atau pewaris warung tersebut. Jangan hanya mengalir turun-temurun, tetapi tetap harus dibekali ilmu manejemen, ilmu marketing dan ilmu-ilmu penting lainya.

Jadi pemilik warung sudah harus pakai manejemen modern. Dia harus memisahkan harta pribadi dan harta warung. Ada pembukuan yang tertib. Dan yang paling penting ada inovasi pemasaran, syukur-syukur sudah menggunakan teknologi online.

‌Ketiga, kesadaran masyarakat konsumen. Ada istilah jawa: “Kacek sithik, mending konco dewe” (selisih sedikit mendingan ke teman sendiri). Syukur-syukur temen sendiri lebih murah hehe!!

Makanya pesan saya:” Belanjalah di Warung Tetangga Kita!” Karena itu berarti mengamalkan sila kelima Pancasila secara nyata: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Merdeka !!

‌—–

‌‌RS UNS,25 November 2020

Pos terkait