Belajar Dari Kebijaksanaan Orang Gila, Uqala’ Al Majanin,

  • Whatsapp

Penulis : Bambang Sidapaksa

abangijo.com Kata ‘gila’ dalam bahasa mana pun memiliki stereotip yang negatif. Tapi lain halnya dengan makna kata ‘gila’ dalam buku Uqala’ al-Majanin (Kebijaksanaan Orang-Orang Gila) karya Abu al-Qasim an-Naisaburi ini.

Kitab Kebijaksanaan Orang Gila adalah buku tentang  kegilaan dan orang-orang yang dianggap gila dalam sejarah peradaban Islam. Di dalamnya, terdapat 500 kisah orang yang dianggap “gila”, tapi sebenarnya cerdas luar biasa, baik intelektual maupun spiritual.

Ditulis oleh Abu al-Qasim an-Naisaburi (w. 406 H/1016 M), buku ini hadir untuk mengubah cara pandang kita dalam memperlakukan “orang gila”. Tak hanya itu, buku ini juga memberikan tips-tips untuk menghadapi orang-orang yang mengalami penyakit kegilaan.

Jika Anda pernah mendengar pameo klasik “Lihatlah apa yang dibicarakan, dan jangan lihat siapa yang bicara”, maka itulah buku ini. Ditulis 1.000 tahun yang lalu, inilah buku klasik yang secara khusus membahas akhlak mulia sekaligus kebijaksanaan orang-orang yang dianggap gila dalam Islam.

Di ranah agama misalnya, para pembaca dapat melihat kembali kisah Rasulullah yang pernah dicap gila saat awal-awal mendakwahkan ajaran Islam. Di tengah-tengah kaum Quraish, Rasulullah mendakwahkan monoteisme, kemanusiaan, dan akhlak yang mulia.

Namun, kaum kafir Quraisy saat itu masih tetap mempertahankan keyakinan mereka kepada dewa-dewa, yang diwarnai dengan perbudakan, penistaan pada perempuan, perjudian, mabuk-mabukan dan segala tindakan buruk lainnya.

Saat Rasulullah mengenalkan ajaran Islam, Rasulullah pun dituduh sebagai orang gila yang menyesatkan warga Makkah dan diancam untuk dibunuh. Akhirnya Rasulullah hijrah ke Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Kota Madinah.  

Di ranah filsafat, Socrates juga pernah dianggap gila oleh orang-orang Yunani. Bapak filsafat yang dikenal sangat bijaksana itu dianggap gila karena mempertanyakan hal-hal yang diterima begitu saja oleh orang Yunani. 

Dengan pertannyaannya itu, Socrates menyadarkan orang-orang agar tidak terpaku pada opini (doza), melainkan mengarah kepada pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan (episteme). Atas langkahnya itu, penguasa Yunani pun menganggap Socrates menyesatkan masyarakat.

Akibatnya, Socrates dihukum mati oleh penguasa Kota Athena. Filsuf itu memilih tidak melarikan diri. Dia justru menghabiskan hari-hari terakhirnya untuk berkumpul dengan teman-temannya sebelum akhirnya meminum racun dari

Selain itu, di ranah sains juga terdapat tokoh besar yang dianggap gila pada zamannya, yaitu Giorgano Bruno. Dia dianggap melenceng dari jalur intelektualitas dan agama gara-gara mengkampanyekan heliosentris.

Menurut dia, matahari lah yang diputari bumi, bukan sebaliknya. Pernyataan itupun bertentangan dengan keyakinan Gereja  yang menganggap bahwa bumi lah yang dikelilingi matahari. Akibatnya, Bruno pun dibakar hidup-hidup.

Tetapi pada akhirnya tebukti bahwa pendapat Bruno justru benar, sedangkan keyakinan Gereja salah.

Filsuf Prancis, Michael Foucault dalam bukunya yang berjudul Folie et Deraison( Madness and Civilization) menguatkan kekeliriuan tersebut dengan menyatakan bahwa klaim tentang kegilaaan sebenarnya merupakan produk kuasa struktural.

Menurut Foucault, ada kuasa pengetahuan yang mendikte kategori kegilaaan, sehingga kategorisasi itu tak selamanya objektif. Subjektivitas penilaian tentang kegialaan itu lah yang juga dicatat dalam buku terjemahan kitab Uqala al-Majanin ini.

Pos terkait