Antara Putin, Bidden dan HRS, “Gitu Aja Kok Repot…”

  • Whatsapp

Oleh : Kang Sarbento*)

Dalam perspektif komunikasi politik, sering muncul pernyataan-pernyataan politik yang mengejutkan. Seperti pidato Presiden Rusia yang mengutip Q.S. As-syura ayat 23 dan an-Nahl 128. Begitu pula ketika presiden terpilih, Joe Bidden, mengutip hadis man ra’a minkum mungkaron…bla bla bla…Tentu saja pernyataan-pernyataan politik itu memiliki dampak positif bagi kaum minoritas muslim di kedua negara adikuasa tersebut.

Sama halnya pernyataan-pernyataan awal Menkopolhukam yang mengecilkan event kepulangan Habib Rizieq. Pernyataan negatif itu ternyata direspon dengan perayaan penjemputan yang spektakuler sampai memutihkan langit Jakarta.

Peristiwa-peristiwa di atas menggambarkan bahwa komunikasi politik tidak harus selalu mengecilkan lawan-lawan politik, tetapi harus dibaca sebagai sebuah realitas politik bahwa apa yang menjadi kehendak para penguasa tidak harus selalu linier dengan apa yang diinginkan. Putin tentu melihat dinamika muslim di Rusia. Joe Bidden juga berempati dengan minoritas muslim di AS akibat kebijakan Trump.

Di Indonesia, politisi tentu harus melihat aspirasi sebagian umat Islam. Dan seharusnya tetap direspon secara positif, apalagi oleh para politisi muslim yang sedang memimpin. Yang terjadi justru sebaliknya, pembelaan malah muncul dari tokoh lain seperti Rocky, Leuis dan lain-lain, sehingga terkesan lucu.

Gagasan menarik muncul dari Prof. Jimly, Ketua Umum ICMI. Untuk menurunkan tensi politik di tanah air, Prof Jimly menyarankan agar Presiden mengambil langkah-langkah yang soft dalam menghadapi kelompok HRS. Bila tidak, dan pendekatan konfliktual itu diterus-teruskan, suasana politik sepertinya akan mau perang saja. Apalagi terus membawa-bawa tentara masuk dalam arena. Lebih baik jika perangkat perang negara itu dipakai untuk mengantisipasi krisis di Laut Cina Selatan.

baca juga: https://abangijo.com/habib-riziq-shihab-itu-masih-sosok-yang-sama-seperti-yang-dulu/

Unjuk pendekatan konfliktual pemerintah, secara langsung atau tidak, justru membuktikan masih bersemayamnya alam berfikir primitif dalam urusan politik dan ekonomi, meskipun kita telah memasuki era 4.0 yang di tandai dengan kemajuan teknologi informasi komunikasi. Hasrat untuk memuaskan keinginan dan kepemilikan ekonomi serta cara mempertahankan kekuasaan kepentingan, masih sama dengan zaman primitif nir-etika…hehe

Mungkin pemerintah perlu mempertimbangkan ngendikan Gus Dur yang sangat popular: “Gitu Aja Kok Repot.” Meski sampai sekarang saya pribadi belum faham betul filosofinya, saya menduga, ngendikan  beliau itu sesungguhnya sebuah kritik terhadap cara bangsa ini yang selalu riuh dengan persoal-persoalan yang remeh-temeh.

Persoalan kulit di blow up mati-matian oleh media mainstream untuk menopang kekalutan pemerintahan. Sedangkan persoalan-persoalan subtansial, malah dilupakan atau bahkan ditinggalkan oleh pemerintah atau negara. Kita, terutama pemerintah, harus lebih perhatian kepada tujuan konstitusi negara.  Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan seterusnya.

Saat ini hampir semua elemen bangsa, energinya dihabiskan untuk urusan politik sesaat, atau lebih kecil lagi urusan politik electoral, pileg pilpres 2024. Lihat saja, untuk urusan HRS saja, sampai harus mengerahkan semua unsur-unsur polhukkam. Sekali lagi…”Gitu Aja Kok Repot.”

*) Pendakwah dan peneliti sosial

Pos terkait