Agama, Doktrin dan Interpretasi

  • Whatsapp
gambar hanya ilustrasi

Oleh: Kang Sarbento

abangijo.com.

Kitab suci turun dalam realitas konflik. Konflik itu bersumber dari ketidakadilan, kesenjangan ekonomi, kesenjangan kelas sosial, kesenjangan politik dan lain-lain yang melahirkan berbagai krisis kemanusiaan.

baca juga:

Bentuk kongkritnya berupa perbudakan pada semua level. Perbudakan individu atas individu, individu atas keluarga, keluarga atas keluarga, keluarga atas suku, suku atas suku, suku atas bangsa, bangsa atas bangsa dan seterusnya. Yang terakhir ini disebut kolonialisasi. Bentuk paripurnanya berupa imperialisme.

Berbagai realitas konflik tersebut masih harus ditambah dengan dialektika pada wilayah doktrin dan interpretasi. Doktrinnya bisa jadi sama, namun interpretasi seperti tak terbatas.

Meskipun terus coba dikawal oleh para sarjana, faktanya semua dinamika tersebut melahirkan berbagai aliran, sekte, madhab, dan lain sebagainya. Bila ditambah lagi dengan bumbu “konspirasi”, akan melahirkan menang dan kalah. Konspirasi dengan kuasa dan kekuasaan tentunya.

Pada gilirannya menang dan kalah melahirkan kelas sosial. Mulai dari kelas penguasa, kelas politisi, kelas militer, kelas pengusaha dan kelas-kelas lain. Tiap kelas selalu mempunyai prespektifnya sendiri-sendiri, sesuai dengan kelas masing-masing.

Dalam memahami kehidupan tiap kelas ini, secara umum terdapat dua orientasi yaitu teosentris dan antroposentris. 

Yang menjadi sumber problem kehidupan adalah proses dialektika agama yang di respon manusia melalui kitab suci. Hal itu akan selalu melahirkan kekuasaan dalam dimensi apapun. Kekuasaan-kekuasaan itu akan selalu dicarikan pembenaran dari kitab suci. Kekuasaan disini dalam arti yang luas, bukan hanya kekuasaan politik. Jadi kekuasaan-kekuasaan itu pada akhirnya merupakan bagian dari dimensi problematika itu sendiri.

Kekerasan dan perdamaian sesungguhnya merupakan realitas hidup manusia. Sumber kekerasan dan perdamaian itu dari manusia sendiri. Ya konflik kelas dan konspirasi-konspirasi di atas tadi. Tak ada kekerasan yang bersumber dari agama.

Kekerasan dan bencana awalnya dari politik kekuasaan yang mensejarah dalam kehidupan manusia. Dari situ pada akhirnya melahirkan bencana sosial. Dan seterusnya melahirkan akumulasi bencana yang terus-menerus melahirkan bencana-bencana berikutnya.

Hadirnya para Nabi dan Rosul sesungguhnya membawa revolusi. Dimensi yang disentuh bukan hanya pada level mental spiritual individual, namun sampai pada kebudayaan. Revolusi kebudayaan persisnya. Kerja-kerja seperti itu saya sebut sebagai humanisasi kekuasaan.

Para Nabi dan Rasul itu melakukannya dengan cara desakralisasi kekuasaan. Selanjutnya mereka melakukan reinstitusionalisasi agama. Caranya dengan spritualisasi Tuhan yang berangkat dari sifat-sifat yang dimiliki Tuhan itu sendiri. Kalau dalam Islam, dikenal dengan istilah Asma’ul Husna. Cara seperti ini dipandang atau sering diplesetkan dengan istilah ber-Tuhan tanpa Agama. Atau sebaliknya, beragama tanpa Tuhan. Dalam konteks kekinian, yang saat ini diperlukan untuk melakukan spiritualisasi ketuhanan adalah spirit kemanusiaan.

Pos terkait