17 NOV, Hari Pelajar Internasional: Pelajar Berhak Turun Jalan, Karena Merekapun Berhak Tahu..!!

  • Whatsapp

oleh: Supoyo Rahardjo

Tahukah Anda, 17 November diperingati dunia sebagai Hari Pelajar Internasional? Di negeri kita, ada istilah siswa dan mahasiswa. Jadi siapa yang berhak memperingati? Meski biasanya dipakai sebagai kata ganti siswa, namun sebenarnya istilah pelajar lebih bernuansa makna long life education. Proses belajar seumur hidup.

Terlepas dari itu semua, tanggal ini mesti menjadi momen perenungan bagi “pelajar” Indonesia. Merenung, apa sumbangsih pelajar milenial di era 4.0 ini? Persis seperti yang dipertanyakan oleh Bu Mega.

Baca juga: https://abangijo.com/surat-perintah-aminuddin-kepada-sembilan-dewa-mahasiswa-ulah-terbaru-staf-khusus-milenial/

Redaksi mencatat ada dua kejadian fenomenal yang melibatkan pelajar. Akhir September 2019 dan awal Oktober 2020.

Akhir September 2019 tagar #BebaskanLuthfi viral. Trending topic.  62.000 orang lebih menulis petisi di twitter. Meminta Lutfi dibebaskan dari semua sangkaan.

Dede Lutfi Afiandi baru saja lulus dari SMK jurusan otomotif. Menjadi pesakitan atas aksinya bersama ratusan teman-temannya ikut demonstrasi besar-besaran mahasiswa di senayan. Menentang Presiden dan DPR yang hendak merevisi UU KPK.

Keterlibatannya tertangkap kamera. Berlari kecil di jalan berdebu menghindari gas air mata. Berseragam lusuh memegang erat bendera. Fotogenik, terlihat fenomenal dan menjadi viral. Foto viralnya menjadi symbol dan penyemangat aksi. Namun, siapa sangka foto itu pula yang menuntun aparat menangkap dirinya. Sempat dianggap hilang empat hari. Rupanya malah sudah meringkuk di jeruji besi.

Banyak peristiwa hukum yang Lutfi alami yang berguna baginya di masa depan. Kena gas air mata. Menghindari kejaran aparat. Dijepret wartawan. Fotonya viral dan menjadi symbol perlawanan. Ditangkap aparat. Dinyatakan hilang selama empat hari. Meringkuk bulanan dalam jeruji besi. Di muka majelis hakim, Lutfi berani mengaku apa adanya. Disetrum dan telinganya dijepit agar mengaku melempar batu ke aparat. Didakwa jaksa merusak fasilitas umum, melawan, dan menyerang aparat. Dan akhirnya dipidana kurungan selama empat bulan.

Rentetan peristiwa itu menjadi rekaman abadi. Akan selalu diputar ulang sebagai gambaran perlakuan umum aparat terhadap pelajar yang ikut aksi.

Kapok? Ternyata tidak. Buktinya, Lutfi malah ingin kuliah di fakultas hukum. Lutfi terinspirasi oleh kegigihan tim pengacara yang peduli pada nasibnya. Katanya, agar besok-besok dapat membela pelajar atau orang-orang yang terjerat kezaliman seperti dirinya.

Awal Oktober 2020, meski sedang pandemi covid-19, terjadi unjuk rasa yang besar lagi. Puluhan ribu mahasiswa, buruh, petani dan banyak ormas turun ke jalan-jalan. Menentang  omnibus law UU Ciptaker yang disahkan tergesa-gesa tengah malam.

Momen ini tampaknya juga tidak ingin dilewatkan oleh para pelajar lagi. Peristiwa Lutfi dan kawan-kawan setahun lalu tak menyurutkan mereka. Mungkin justru menjadi penyemangat. YLBHI mencatat, unjuk rasa terjadi di 18 provinsi.

Buntutnya polisi menangkap ribuan pengunjuk rasa, termasuk di dalamnya pelajar. Di Jakarta, polisi menangkap tiga pelajar admin-admin grup-grup medsos STM-SMK sejabotabek sebagai tersangka. Mereka dituduh menggerakkan kawan-kawannya untuk membuat kerusuhan. MI dan WH, admin grup Facebook STM Se-Jabodetabek. FN admin akun Instagram @panjang.umur.perlawanan.

Selain membuat membuat seruan turun jalan, para admin juga disebut terus memberi arahan untuk membawa masker, kacamata renang, odol, hingga raket. Raket? Ya, buat namplek gas air mata agar kembali ke arah petugas yang menembakannya.

Baca juga: https://abangijo.com/catatan-unjuk-rasa-uu-omnibus-law-masjid-kwitang-yang-heroik/

Bagaimana Respon Masyarakat?

Beragam. Sebagian ada yang menyayangkan. Alasannya klasik. Belum umur. Kurang mampu memahami masalah. Hanya menimbulkan kerusuhan dan kerusakan.

Yang mendukung juga banyak. Apresiatif. Mungkin karena sudah eneg melihat tawuran pelajar. Begitu melihat pelajar turut demontrasi, masyarakat seperti berujar,” Nah begini lebih bagus!” Toh dalam momen-momen besar bangsa, ikut turunnya pelajar sudah biasa. Momen 98, pelajar turun jalan. Momentum 66, pelajar membuat KAPPI. Zaman revolusi kemerdekaan, bukan hanya demonstrasi, mereka malah membuat satuan tentara. Tentara Pelajar!

Foto-foto unjuk rasa pelajar disambut dengan komentar positif oleh masyarakat. Vidio para pelajar yang tiba-tiba antri mencium tangan seorang nenek di jalan menjadi viral. Juga video cium tangan mereka kepada satuan anggota TNI.

Yang mengejutkan, saat menentang UU KPK, masyarakat malah bertepuk tangan saat pelajar-pelajar itu berhasil memukul mundur aparat yang berjaga. Memang sepertinya dalam setiap momen besar yang dirasa keterlaluan dan berlebihan, jumlah masyarakat yang mendukung lebih banyak daripada yang sebaliknya.

Bagaimana Respon Negara?

Aksi pelajar dalam dua momentum itu umumnya membuat unhappy DPR dan pemerintah yang saat ini dikuasai koalisi PDIP. Umumnya menganggap pelajar masih terlalu unyu-unyu untuk mengerti masalah. Masanya belajar saja. Nanti jadi korban. Hanya dimanfaatkan oleh lawan-lawan politik. Jubir Presiden malah menyebutnya sampah demokrasi.

Pada September 2019 dulu, Menteri Muhadjir tegas melarang. Muhadjir mengeluarkan Surat Edaran Nomor 9/2019 tentang Pencegahan Keterlibatan Peserta Didik dalam Aksi Unjuk Rasa yang Berpotensi Kekerasan.

Oktober 2020 ini, Menteri Nadiem melangkah lebih jauh. Via Dirjen Dikti, dikeluarkanlah Surat Imbauan No.1035/E/KM/2020. Judulnya imbauan pembelajaran secara daring dan sosialisasi UU Ciptaker. Intinya, meminta para rektor dekan untuk melarang mahasiswa turun jalan. Kedua, meminta mereka untuk melakukan puja-puji sosialisasi UU Cipta Kerja.

Civitas akademika kampus dan mahasiswa saja dilarang berunjuk rasa, apalagi pelajar. Bukankan Menteri Nadiem menghabiskan masa sekolahnya di negara liberal kampiun demonstrasi demokrasi?

Dari kepolisian, selain banyak yang ditangkap, kali ini ada bonus tindakan yang unik. Kapolres Metro Tangerang Kota, Sugeng Haryanto menyatakan semua pelajar yang turun jalan akan dicatat. Bila nanti mengurus SKCK untuk kerja, akan diberi catatan pernah melakukan tindakan tidak terpuji.

Bagaimana di daerah? Di jawa tengah, gubernur Ganjar mendatangi pelajar yang sudah ditangkap di kantor kepolisian. Pelajar-pelajar itu ditanya-tanya, paham tidak dengan tuntutan demonstrasi yang mereka lakukan?

Di Surabaya, Risma bertindak lebih jauh. Risma mengundang para orang tua yang anaknya turut turun jalan. Di depan orang tua masing, dalam sorotan media, di mka umum, para pelajar itu dimarahi Risma. Disuruh bersimpuh, diminta mengakui telah bertindak salah, minta maaf, bertobat, dan lain-lain. Risma merasa sedang mendidik, bukan mempermalukan.

Pemprov Jakarta unik. Gubernur Anies memang merisaukan kemungkinan munculnya klaster covid baru, namun hal itu tak menghalanginya untuk tetap memberikan apresiasi para pelajar itu. Anies justru bangga mereka yang dalam usia muda sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap masalah bangsa negara. Para pelajar itu tak akan dikeluarkannya dari sekolah. Sekolah malah diminta untuk menjadikan persoalan omnibus law UU ciptaker itu sebagai tema pembelajaran. Biar sekalian paham.

Pos terkait